Oleh Zhou Cheng dari London

Inggris keluar dari Uni Eropa. Hasil perhitungan suara referendum Brexit  pada Jumat (24/6/2016) pukul 5 pagi waktu setempat memenangkan kubu pro Brexit. Perbandingan suara antara pro dan anti Brexit adalah 52 % berbanding 48 %. Bagi kubu pro Brexit, hari ini adalah hari “kemerdekaan” dan hari kemenangan sejati bagi rakyat Inggris.

Terjadi perubahan yang dramatis

Tak lama setelah perhitungan, media memberitakan jajak pendapat yang dilakukan pada hari referendum, hasilnya menunjukkan bahwa dukungan untuk Inggris tetap berada di Uni Eropa masih lebih tinggi sekitar 6 %. Salah seorang tokoh dari kubu Brexit yakni Ketua Partai Kemerdekaan Inggris Nigel Farage sampai mengakui kekalahan.

Tetapi setelah kota di bagian timur laut Inggris Sunderland mengumumkan hasil perhitungan suara, situasi berubah secara dramatis, karena tingkat dukungan untuk Brexit di sana setinggi 61 %. Kesimpulan analisis sebelumnya memang sudah menempatkan kota tersebut sebagai kota patokan, dimana jika pendukung Brexit di daerah tersebut sampai melebihi 60 %, maka suara pro Brexit sudah dapat dipastikan akan melampaui separo dari total suara, sehingga Inggris keluar dari Uni Eropa sulit dihindari.

Dari hasil perhitungan suara yang sudah diumumkan panitia pelaksana referendum menunjukkan suara pro Brexit mencapai 16.066.371 sedangkan suara yang anti Brexit hanya 14.978.438. Tingkat partisipan  adalah 72.2 % dari seluruh warga yang berhak ikut memberikan suara, tingkat tersebut berada jauh di bawah pemilihan Inggris tahun lalu. Media sudah dapat memastikan kubu pro Brexit akan memenangkan pemilihan ini.

Terdapat perbedaan yang cukup menyolok, pendukung anti Brexit banyak di kota London dan sekitarnya,  tetapi tidak cukup untuk menyaingi kekuatan pro Brexit yang berada di sebagian besar wilayah utara. Inggris. Kota Newcastle yang sebelumnya diperkirakan memiliki cukup banyak suara anti Brexit, tetapi hasil perhitungan suara akhir hanya menunjukkan 1 % lebih tinggi dari suara yang pro Brexit.

Memicu guncangan politik

Hasil Brexit tentu akan memicu guncangan di bidang politik Inggris. Perdana Menteri David Cameron yang tak henti-hentinya berupaya agar Inggris bisa tetap berada di Uni Eropa. Dengan hasil yang berlawanan dengan keinginanya, masa depan politiknya tentu juga menjadi tanda tanya besar.

Kedua, masalah Skotlandia akan muncul lagi ke permukaan. Warga Skotlandia yang memberikan 60 % suaranya untuk mendukung Inggris tetap berada di Uni Eropa, kini menjadi bimbang karena Inggris akan keluar dari Uni Eropa. Pemimpin Partai Nasional Skotlandia Nicola Sturgeon sedang mengusulkan referendum kemerdekaan Skotlandia untuk yang kedua kalinya. Ia mengatakan bahwa masa depan Skotlandia terletak di Uni Eropa.

Pounsterling jatuh ke titik terendah dalam 31 tahun

Awalnya dunia keuangan optimis Inggris akan tetap berada di Uni Eropa, sehingga nilai tukar pounsterling – Dollar AS masih tetap berada di titik tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Namun setelah situasi referendum menjadi lebih jelas, nilai tukar Pounsterling mulai merosot dan merosot ke titik terendah selama 31 tahun terakhir. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular