JAKARTA – Inggris telah menggelar referendum yang hasilnya menyatakan Inggris harus keluar dari perkumpulan masyarakat Uni Eropa.  Hasilnya, suara antara pro dan anti Brexit adalah 52 % berbanding 48 %, lalu bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Chris Kanter menilai dampak secara langsung dalam sesaat tak ada bagi Indonesia. Apalagi keadaan perekonomian Indonesia sudah terkena dampak atas perekonomian global sebelum brexit terjadi mulai komoditi dan pertumbuhan yang menurun serta nila tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 13.000 bertahan selama setahun.

“Kalau dampak langsung sesaat itu tak ada,” katanya usai diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/6/2016).

Menurut salah satu pengusaha papan atas nasional ini, pemerintah sudah banyak melakukan banyak langkah untuk mengatasi dinamika ekonomi seperti proses pemberlakuan Tax Amnesty dan pembangunan infrsatruktur. Namun demikian, jika kembali ada gejolak baru dan berpengaruh secara global maka dikhawatirkan juga turut berdampak dengan Indonesia.

Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN)  di masa Presiden Yudhoyono ini menilai jika kemudian gejolak yang terjadi menyebabkan defisit neraca berjalan (current account deficit) hingga menyebabkan angka tiga maka pemerintah memangkas anggaran mencapai Rp 50 triliun seperti saat ini. Jika selanjutnya terjadi pemangkasan dalam jumlah besar, maka dinilai tak baik oleh karena itu pemerintah harus mewaspadai gejolak akibat Brexit.

Namun demikian, langkah yang perlu dilakukan melihat kembali perundingan-perundingan terhadap Uni Eropa. Tentunya pada masa mendatang, akan lebih sulit dalam tahapan-tahapan negosiasi. Pasalnya, negara-negara Eropa sekarang tentunya belajar dengan Inggris.  Jika kemudian negara-negara Uni Eropa tersebut membuat perjanjian dengan negara luar, tentunya negara-negara Eropa itu kembali melihat pada aspek di dalam negeri mereka masing-masing.

Faktor memproteksi diri lebih kuat ke dalam, ujar Kanter, ini juga dikarenakan negara-negara tersebut diantaranya akan memasuki proses politik di masing-masing negara.  Tentunya dinamika politik yang berkembang di negara-negara masing menjadi pertimbangan sendiri seperti apakah perjanjian tersebut berpengaruh ke negara mereka atau dipersoalkan rakyat mereka.

Bagi Kanter, banyak potensi yang bia dimanfaatkan oleh Indonesia atas pasar Inggris. Akan tetapi tentunya yang paling utama adalah pasar masyarakat uni eropa. Kanter berpendapat selama ini di Uni Eropa negara yang paling banyak berminat dalam FDI (Foreign Direct Investmen) adalah Inggris yang mana sebelumnya selalu didominasi oleh Jerman.

Namun demikian, setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa para investor kini sedang mengencangkan ikat pinggang untuk melihat sekitar 2 atau 3 tahun dampak dari Brexit. Para investor ini khawatir akan terjadi gejolak krisis. Akan tetapi, Kanter optimis banyak potensi yang bisa dieksplorasi dengan Inggris untuk dijadikan patner oleh Indonesia.

“Dampaknya (Brexit)  tak besar,  masalahnya dalam perundingan-perundingan EU, pasti akan pelan,” ujar pemilik PT Unggul Cipta Trans, Komisaris Indosat, Presdir Sigma Sembada Group dan Vice President FIATA International. (asr)

Share

Video Popular