Oleh: Luo Ya

Pada 13 Juni 2016 lalu, Dewan Kongres AS dengan suara bulat meloloskan Resolusi nomor 343 yang isinya menuntut PKT (Partai Komunis Tiongkok) menghentikan perampasan organ tubuh para praktisi Falun Gong, menghentikan penindasan terhadap Falun Gong, dan membebaskan para praktisi Falun Gong yang dipenjara berikut para tahanan hati nurani lainnya.

Sinolog dari daratan Tiongkok bernama Xin Ziling menganalisa makna penting peristiwa ini dari sudut pandang situasi politik saat ini, diungkapkan sejumlah fakta penindasan Falun Gong oleh Jiang Zemin pada awal penindasan.

Diloloskannya resolusi tersebut memicu opini internasional yang sangat besar terhadap penanganan kasus Jiang Zemin. Sebelum pensiun, Xin Ziling berpangkat kolonel di divisi militer RRT, pernah menjabat kedudukan tinggi di sekolah militer, termasuk wakil kepala Kantor Riset Politik di Military and Political University, editor di Military Academy Publishing Company, serta kepala redaksi “Contemporary China” di National Defense University dan lain-lain. Beberapa hari lalu saat diwawancara Epoch Times, Xin menyampaikan pandangannya terhadap resolusi nomor 343 yang diloloskan Dewan Kongres AS tersebut, sebagai berikut:

Pertama. Dewan Kongres AS tampil untuk menegakkan keadilan, hal ini patut dipuji. AS adalah negara yang sangat berpengaruh. Sekarang dewan kongres di seluruh dunia termasuk Eropa, Kanada, dan lain-lain termasuk organisasi HAM juga ikut angkat bicara.

Kedua. Resolusi ini merupakan dukungan atas pemberantasan korupsi yang sedang dilancarkan oleh Xi Jinping, juga dukungan untuk mengatasi masalah Jiang Zemin. Alur pemikiran PKT selama ini adalah apa pun yang AS katakan akan langsung ditentang oleh PKT. Setidaknya ini bisa menjadi suatu dukungan terhadap pemerintah, dengan memberikan prasyarat yang sangat baik untuk menyelesaikan kasus Jiang Zemin yang akan dapat memicu opini internasional, jika Jiang Zemin diciduk, seluruh dunia akan mendukung. Jadi ini adalah suatu hal baik, ini adalah dukungan terhadap pemerintah (Beijing).”

Perangkat Mekanisme Investigasi Terbalik ini telah mengurung Jiang Zemin, beberapa waktu sebelumnya ketika Wang Qishan (tangan kanan Xi Jinping dalam menangani KKN) sempat menghilang selama 40 hari lebih. Begitu menampakkan diri lagi Wang Qishan ikut ambil bagian dalam forum pembahasan “aturan pertanggung jawaban,” serta menegaskan lalai akan tanggung jawab harus ditindak dan lain-lain. Aksi ini oleh pihak luar dianggap sebagai kebijakan yang melaksanakan hasil Rapat Pleno IV Sesi XVIII yakni “kebijakan mekanisme pertanggung jawaban seumur hidup” dan “Mekanisme Investigasi Terbalik.”

Dengan contoh ini Xin Ziling mengatakan, “Bukankah baru-baru ini ada Mekanisme Investigasi Terbalik? Ada aturan pertanggung jawaban terkait. Ini adalah “kerangkeng macan” yang khusus dibuatkan untuk Jiang Zemin, dimulai dari sini. Karena apa pun yang dituduhkan, Jiang tetap bisa mengelak. Jika tidak ada Mekanisme Investigasi Terbalik ini, tidak ada keputusan pada Rapat Pleno, Jiang bisa saja menghindar dan mengatakan ia tidak tahu menahu soal itu, kejahatan itu dilakukan aparat di tingkat bawah, dan Jiang hanya bertanggung jawab soal kepemimpinan, Jiang masih bisa lolos. Sekarang dengan adanya mekanisme ini, maka ia tidak bisa lari dari tanggung jawab lagi.”

Ia juga mengemukakan contoh. Sebanyak lebih 200.000 orang praktisi Falun Gong di tahun lalu telah menuntut Jiang Zemin pada dasarnya adalah suatu tren, ini adalah titik berseberangan antara Xi Jinping dengan Jiang Zemin. Jika Xi terus mendukung penindasan Jiang terhadap Falun Gong, maka keduanya tidak akan ada konflik. Tapi karena Xi tidak mau berbuat hal tidak terpuji itu, sehingga Jiang Zemin berniat hendak menggeser Xi Jinping.

Xin Ziling menegaskan, “Masalah penindasan Falun Gong, Jiang Zemin bisa berkata tidak ada dukungan dari internal partai, atau dari Dewan Rakyat, atau dari Kementerian Dalam Negeri. Dalam hal ini untuk bisa mengejar pertangung jawabannya, harus ditelusuri satu persatu.”

Masalah Falun Gong sangat mungkin adalah titik dobrak untuk menyelesaikan kasus Jiang Zemin. Xin Ziling mengenang bagaimana munculnya kebijakan penindasan terhadap Falun Gong oleh Jiang pada waktu itu (1999). Karena awalnya Komisi Politbiro Pusat tidak setuju dan langsung membatalkannya. Jiang menggelar rapat lain dan mengumpulkan orangnya, kemudian dibentuklah ‘Kantor 610’ karena mendapat hambatan, jadi karena tidak ada yang membuat undang-undangnya di Dewan Rakyat, juga tidak lewat Kementerian Dalam Negeri, terbentuklah ‘Kantor 610’ ini, dan berada langsung di bawah kepemimpinan Jiang. Kemudian Luo Gan dan Zhou Yongkang (sudah divonis seumur hidup) juga ikut dilibatkan dalam aksi ini.”

Pada peristiwa ’25 April’ (petisi damai Falun Gong), PM kala itu Zhu Rongji telah menyelesaikan peristiwa itu, para praktisi Falun Gong juga puas dan membubarkan diri, tapi Jiang Zemin tiba-tiba menuding Zhu: ‘Anda salah besar, ini bisa menghancurkan partai dan negara! Falun Gong beradu massa dengan kita!’

Jiang bersikukuh untuk memperkuat kekuasaannya dengan cara menindas Falun Gong” Xin Ziling menambahkan, “Jadi saya katakan, masalah Falun Gong (bukan masalah KKN) sangat mungkin merupakan titik dobrak untuk menyelesaikan kasus Jiang Zemin ini, dalam hal ini Jiang tidak akan bisa lolos dari tanggung jawab.”

Liao Xilong dan Li Jinai telah diperiksa sejak September 2014 lalu, mantan Kepala Bagian Kesehatan pada Divisi Logistik Militer Bai Shuzhong sendiri mengaku pada “Organisasi Internasional Investigasi Penindasan Falun Gong” bahwa mantan Sekjend PKT Jiang Zemin langsung memberikan instruksi untuk melakukan cangkok organ tubuh praktisi Falun Gong, dan tidak menghentikan pihak militer untuk terus melakukan kejahatan pembunuhan ini.

Sebelumnya Agustus 2013, narasumber bernama samaran Bao Guang mengungkap pada media massa, pada saat masih menjabat sebagai Menteri Perdagangan dalam kunjungannya ke Jerman pada 2006. Bo Xilai sendiri mengaku bahwa memang Jiang Zemin sendiri yang telah memberikan instruksi untuk merampas organ tubuh praktisi Falun Gong hidup-hidup, serta menyerahkan rekaman suara pengakuan Bo Xilai (telah divonis seumur hidup) waktu itu.

Kasus Jiang Zemin yang memberikan perintah untuk merampas organ tubuh praktisi Falun Gong, Xin Ziling membenarkan, “Sekarang Liao Xilong dan Li Jinai sudah diperiksa, baru-baru ini digelar suatu rapat khusus meminta pertanggung jawaban mereka, karena Li Jinai di militer adalah kepala Kantor 610, sedangkan Liao Xilong adalah Kepala Divisi Logistik Militer, dia berniat menjadikan perampasan organ tubuh dan penindasan Falun Gong ini sebagai suatu ajang perang, ia adalah seorang ekstrimis. Untuk melakukannya Jiang harus didukung oleh sejumlah orang, karena ada yang terbuai oleh jabatan, dengan menghalalkan berbagai cara dan tidak mengenal batas kemanusiaan, maka dilakukanlah hal ini. Hanya demi meraih jabatan tinggi. Tapi pembuat keputusan ini adalah Jiang Zemin, jika Jiang tidak bersikeras, maka hal ini tidak akan bisa terwujud.” (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular