Oleh Hong Ning

Funing County di provinsi Jiangsu, Tiongkok pada Kamis (23/6/2016) sore tertimpa bencana ganda berupa angin tornado yang mematikan dan hujan es. Akibatnya terjadi kerusakan berat dan menelan korban jiwa sebanyak 98 orang dan lebih dari 800 orang lainnya terluka. Saksi mata menyebutkan, kekuatan angin sangat dasyat, “20 menit itu bagaikan dunia kiamat”.

Media Tiongkok mengutip ucapan saksi mata warga desa tertimpa bencana melaporkan, saat tornado melanda, langit tiba-tiba gelap. Tak lama kemudian atap rumah terbelah dan terangkat ke udara, batu bata dinding terlempar ke mana-mana, rumah runtuh seketika.

Seorang warga desa Donggou bernama Xie Litian melukiskan, sekitar pukul 14.00 hari itu ia mendengar suara tiupan angin keras yang pikirnya hujan akan tiba dan segera naik ke atas loteng untuk menutup jendela. Namun baru tiba di atas loteng belum sempat menutup jendela, ia mendengar suara “boong” di sekelilingnya. Suara dari sebagian dinding rumahnya yang runtuh.

Xie segera berlari turun mengikuti petunjuk firasat bahaya bisa menimpa. Tetapi ketika dirinya sedang menuruni tangga itulah lantai dua runtuh dan ia pun jatuh terguling dari tangga ke lantai bawah. Ia pun tidak bisa menjelaskan bagaimana lantainya runtuh, apakah akibat dinding rumahnya jebol terdorong angin atau kerusakan tiang penyangga.

Sampai angin mulai reda ia baru keluar dari persembunyiannya di sudut dinding yang tidak runtuh. Namun sangat terkejut ketika mengetahui rumah-rumah tetangganya sudah rata dengan tanah.

“Dalam 20 menit yang singkat itu rasanya seperti dunia mau kiamat,” kenang Xie.

Ia melihat satu demi satu tiang listrik tercabut oleh kencangnya tiupan angin, dan 2 buah traktor kecil yang digunakan untuk membantu pekerjaan di sawah terguling-guling dibawa angin sampai jauh. Setelah itu, Xie Litian bergabung dalam barisan pertolongan warga.

“Sudah 3 orang di kampung saya yang meninggal. Selama 62 tahun hidup ini saya belum pernah menjumpai bencana mengerikan seperti yang terjadi sekarang,” katanya.

 Funing County setelah diserang tornado dan hujan es. (foto internet)

Funing County setelah diserang tornado dan hujan es. (foto internet)

“Saya melihat dari kaca depan pusaran angin tornado yang masih agak jauh, tetapi sudah terlihat beberapa pohon besar tumbang menutupi jalan, lalu kendaraan saya bawa menepi dan saya pun keluar dari dalam mobil dan lari menjauh untuk mencari tempat persembunyian. Sampai tiupan angin mulai mengecil, kesadaran mulai membaik saya baru tahu bahwa mobil sudah berada dalam sungai kecil tak jauh dari tempat pemberhentian dengan beberapa  kerusakan,” kata seorang pengemudi mobil.

Akibat tersapu angin tornado, saluran komunikasi terputus. Pohon-pohan besar bertumbangan di mana-mana, dan banyak rumah rata dengan tanah. Rumah sakit dipenuhi oleh korban dan anggota keluarganya. Sejumlah warga kehilangan tempat tinggal.

Dikabarkan bahwa beberapa saluran air bersih dari perusahaan penyedia juga mengalami kerusakan sehingga sejumlah warga kekurangan air bersih. Selain itu mereka juga membutuhkan bantuan berupa selimut, tenda dan bahan makanan.

Sampai berita tersebut diturunkan, korban tewas tercatat ada 98 orang dan lebih 800 orang terluka.

Pengguna microblog bernama Song Sirong menuliskan, “Funing sedang menangis!

Tetapi ia juga bertanya, “Mengapa di era teknologi yang sudah sedemikian maju seperti sekarang ini, dinas meteorologi tidak mampu mendeteksi lebih awal akan datangnya bencana. Bahkan tanpa pemberitahuan kepada masyarakat agar bisa mengeliminir kerugian. Ini termasuk pelanggaran jabatan, merupakan kelalaian tugas fatal yang perlu dipertanggungjawabkan oleh mereka.” (sinatra/rmat)

Share

Video Popular