- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Eropa akan Tetap Eksis Tanpa Inggris

6 negara inti pendiri Uni Eropa pada Sabtu (25/6/2016) mengadakan pertemuan darurat di Berlin, Jerman. Pertemuan memutuskan untuk mengeluarkan pernyataan kepada Inggris agar secepatnya memulai proses angkat kaki dari Uni Eropa. Sinyal keras tersebut dipandang oleh masyarakat internasional sebagai langkah Uni Eropa untuk meyakinkan publik serta upaya agar organisasi tidak terjerumus ke dalam situasi “kelumpuhan dan depresi.”

Pertemuan yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri dari Jerman, Prancis, Italia, Belgia, Luksemburg dan Belanda itu dengan suara bulat memutuskan untuk mengeluarkan sinyal keras yang mendesak Inggris untuk secepatnya menyelesaikan semua urusan yang berkaitan dengan angkat kakinya dari organisasi Uni Eropa. 6 negara tersebut yang pada era 1950 mendirikan Masyarakat Ekonomi Eropa, yang menjadi pendahulu dari Uni Eropa.

Brexit telah menyebabkan munculnya kekuatan sayap kanan di banyak negara Eropa. Mereka yang berada di Prancis, Belanda, Italia, Ceko dan lainnya juga mendesak pemerintahnya untuk mengadakan referendum ala Brexit. Tugas penting para pemimpin Uni Eropa sekarang adalah bagaimana agar Brexit tidak berefek domino di Eropa.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier yang mengundang pertemuan kali ini menyerukan kepada seluruh negara anggota Uni Eropa agar tetap tenang. Ia mengatakan bahwa pembicaraan dengan Inggris akan sesegera mungkin dilakukan dalam rangka mencegah agar Uni Eropa tidak terjerumus ke dalam suasana dilematik.

“Saya percaya bahwa para negara pendiri ini juga akan menyampaikan sebuah pesan bahwa kita tidak akan membiarkan siapa pun juga untuk merampas Eropa dari tangan kita. Sambungnya lagi, “Saya pikir itu sudah cukup jelas bahwa kita sekarang berada dalam kondisi yang tidak lagi mengijinkan kita untuk berperilaku kurang semangat atau apatis,” seru Steinmeier.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Mark Ayrault mengharapkan ke 27 negara anggota Uni Eropa dapat membuat rancangan baru bila tidak ingin menghadapi resiko ancaman dari populisme.

“Negosiasi (dengan Inggris) harus dipercepat untuk memenuhi kepentingan semua pihak,” katanya.

Ia mengatakan bahwa sebagai negara anggota pendiri Uni Eropa, keenam menteri luar negeri tersebut mengirim sebuah sinyal yang berbunyi “Eropa tetap eksis”.

BBC mengutip ucapan analis melaporkan bahwa sikap tegas yang ditunjukkan oleh keenam negara inti Uni Eropa itu terutama untuk meyakinkan publik dan bisa jadi juga digunakan sebagai peringatan  kepada kelompok yang mau ikut-ikutan Brexit.

Perdana Menteri Inggris dalam pernyataan pengunduran dirinya yang disampaikan pada 24 Juni 2016 menyebutkan bahwa semua proses penarikan diri Inggris dari Uni Eropa akan dilaksanakan oleh perdana menteri baru yang akan diangkat dalam Oktober mendatang. (sinatra/rmat)