JAKARTA – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) membeberkan sebanyak 12 jenis vaksin yang kemudian diketahui palsu. Vaksin-vaksin ini ditemukan pada Tempat Kejadian Perkara (TKP) Jabodetabek dan sejumlah daerah di Indonesia.

Plt Kepala Badan POM, Tengku Bahdar Johan menyebut temuan vaksin palsu saat ini adalah kejadian kriminal murni di mana pelakunya adalah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab di lima lokasi. Lima lokasi yang ditemukan pada saat ini adalah Subang, Jakarta, Tanggerang Selatan, Bekasi, dan Semarang.

Dalam melaksanakan praktek pemalsuan, para pelaku menyamarkan produk-produk yang mereka produksi dengan merek dagang dari PT Biofarma, PT Sanofi Grup, dan PT Glaxo Smith Kline (GSK). Hal demikian disampaikan Tengku Bahdar dengan awak media dalam jumpa pers di Gedung BPOM, Jakarta, Selasa (28/6/2016).

Menurut BPOM, kasus vaksin terjadi dikarenakan Tiga Faktor, Pertama  adanya permintaan vaksin di luar program pemerintah,  kedua distributor freelance (ilegal) yang menawarkan vaksin dengan harga murah sehingga sarana pelayanan kesehatan tertarik membeli, Ketiga Kemungkinan adanya sarana pelayanan kesehatan yang mensuplai kemasan sisa (limbah) untuk digunakan produksi vaksin palsu

Berikut daftar vaksin yang dipalsukan:

  1. Vaksin engerix B
    2. Vaksin pediacel
    3. Vaksin eruvax B
    4. Vaksin tripacel
    5. Vaksin PPDRT23
    6. Vaksin penta-bio
    7. Vaksin TT
    8. Vaksin campak
    9. Vaksin hepatitis B
    10. Vaksin polio bOPV
    11. Vaksin BCG
    12. Vaksin harvix

Menurut Badar, pengawasan vaksin akibat perbuatan kriminal ataupun di jalur ilegal dilakukan Badan POM bekerja sama dengan kepolisian. Langkah ini menurut Badar, dalam pengawasan perbuatan kriminal  diperlukan tindakan kepolisian antara lain penyitaan dan penahanan apabila diperlukan yang mana Badan POM tidak memiliki kewenangan.

Sebagai langkah antisipasi terhadap kasus peredaran vaksin palsu, pada 23 Juni 2016 Badan POM menyatakan telah memerintahkan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

    • Melakukan pemeriksaan dan penelusuran terhadap kemungkinan penyebaran vaksin palsu di daerah masing-masing.
    • Apabila menemukan vaksin yang berasal bukan dari sarana distribusi resmi ataupun diduga merupakan vaksin palsu, diminta untuk melakukan pengamanan setempat hingga diperoleh  konfirmasi dari hasil pengujian.
    • Hingga saat ini telah diamankan sejumlah vaksin dari 28 sarana pelayanan kesehatan di 9 wilayah cakupan pengawasan Balai Besar/Balai POM yaitu Pekanbaru, Serang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Mataram, Palu, Surabaya, dan Batam.
    • Pengawasan hingga saat ini masih terus berlanjut di 32 provinsi di Indonesia sesuai dengan wilayah cakupan pengawasan Balai Besar/Balai POM. (asr)

 

Share

Video Popular