Oleh: Sun Yun

Lahir (hidup), tua, sakit dan mati merupakan hukum alam yang tidak bisa dihindari manusia, kalau begitu, apakah waktu kematian itu bisa diprediksi?

Ilmuwan AS baru-baru ini mengatakan, bahwa mereka telah menemukan sebuah fase kehidupan yang unik melalui percobaan dengan lalat buah, yang menandakan bahwa kematian akan segera tiba. Mereka menyebut fase ini sebagai “spiral kematian.” Manusia juga bisa mengalami tahapan seperti itu.

Melansir laman BBC, sekitar 25 tahun yang lalu, para ahli biologi mengasumsikan bahwa hanya dua tahapan dasar dalam kehidupan, yaitu tahap anak-anak dan tahap dewasa. Pandangan ini diakui secara suara bulat. Yang dimaksud dengan tahapan anak-anak disini adalah pra kematangan seksual, ciri dari tahapan ini pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Selama periode ini, kemungkinan kematian biasanya sangat rendah.

Setelah tiba kematangan seksual, orang-orang memasuki tahap dewasa. Saat dewasa muda, kemungkinan kematian itu relatif rendah. Tahap ini merupakan masa-masa puncak vitalitas orang-orang, dan sebagian besar akan menikah, memiliki anak. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh manusia mulai lemah dan tua. Setiap tahun, kemungkinan kematian akan meningkat seiring bertambahnya usia, peningkatan awal relatif agak lambat, kemudian lajunya akan semakin cepat seiring dengan semakin tuanya seseorang.

Pada awal 1990-an abad lalu, para peneliti menyadari bahwa perjalanan hidup manusia itu tidak hanya dua tahap. Mereka mendefinisikan tahap ketiga sebagai tahap “usia senja,” yaitu fase yang dilalui orang-orang tertua dalam masyarakat manusia.

Perbedaan dari fase usia senja dengan masa akhir dari tahap dewasa terletak pada pola atau bentuk kematiannya. Salah satu ciri dari tahap dewasa adalah angka kematian semakin tinggi dari tahun ke tahun. Berbeda dengan tahap usia senja. Misalnya, rasio kematian individu yang berusia 60 tahun itu jauh lebih tinggi daripada mereka yang berusia 50 tahun, sementara rasio kematian individu yang berusia 90 tahun kurang lebih sama dengan mereka yang berusia 100 tahun.

“Tingkat kematian menunjukkan keadaan stabil, yaitu masuk ke masa stabil,” kata Laurence Mueller, ilmuwan dari University of California, Irvine, Amerika serikat.

Terkait mengapa ada masa stabil ini, hingga sekarang belum ada satu pun penjelasan yang dapat diterima. Untuk memperjelas hal ini, Mueller dan rekannya, Michael Rose mulai mencari tingkat kematian dari fase usia senja, dan tanda-tanda memasuki masa stabil dari karakteristik biologi lainnya.

“Kami ingin tahu apakah kesuburan kaum wanita juga mengikuti pola yang sama,” kata Mueller.

Menurunnya fecundity (kesuburan) jelang kematian lalat buah dikenal sebagai fase dari “spiral kematian”

Mueller dan Rose memilih lalat buah sebagai target penelitian mereka.

“Kami memilih 2.828 ekor lalat buah betina, dan kami letakkan setiap lalat buah betina itu masing-masing dengan dua ekor lalat buah jantan ke dalam sebuah botol,” kata Mueller.

Setiap hari, setiap ekor lalat buah betina dipindahkan ke dalam botol yang baru, dan menghitung jumlah telur yang mereka hasilkan. Hal itu terus melakukannya sampai semua lalat buah itu mati.

Usia hidup lalat buah biasanya hanya beberapa minggu. Mueller mengakui bahwa pekerjaan eksprimen ini sangat monoton dan membosankan. Setiap hari harus memindahkan begitu banyak lalat buah kecil, dan menghitung telur-telur kecil yang mereka hasilkan. Tapi untungnya, puluhan anak didik Rose ikut membantu meringankan pekerjaan yang membosankan ini.

Setelah upaya keras itu, hasil awal tampaknya mengecewakan. Ketika lalat buah itu masuk ke tahap “usia senja,”  kesuburan mereka tidak menunjukkan kondisi stabil.

Sebenarnya, para peneliti telah menemukan beberapa gejala yang sama sekali berbeda saat menganalisa secara cermat data terkait.

“Saya perhatikan kesuburan mereka akan berbeda jika lalat buah betina yang sekarat itu dipisahkan, dan membandingkan mereka dengan lalat buah seusia yang masih memiliki usia hidup beberapa pekan,” ujar Mueller.

Singkatnya, tingkat reproduksi dari satu ekor lalat buah, yakni jumlah telur yang dihasilkan setiap hari itu akan menurun drastis dua minggu sebelum kematiannya. Namun yang lebih mengejutkan, penurunan tingkat kesuburan ini berhubungan dengan lalat buah yang sekarat, tapi tidak ada hubungannya dengan usia. Jika satu ekor lalat buah tua yang berusia 60 hari itu sekarat, maka tingkat kesuburannya itu akan menurun drastic. Namun, jika satu ekor lalat buah yang berusia 15 hari itu mati prematur, maka tingkat kesuburan mereka sebelumnya itu juga akan menurun tajam secara tiba-tiba.

Menurut penuturan Mueller dan Rose, hal itu merupakan ciri umum dari kehidupan, menandakan bahwa kehidupan memasuki sebuah fase baru, yaitu fase keempat yang tidak sama dengan fase anak-anak, fase dewasa dan fase usia senja. Mereka menyebutnya sebagai fase dari “spiral kematian.”  

Ilmuwan: Semakin banyak bukti menegaskan adanya fase dari “spiral kematian”

Sejak 2007, mereka terus mencari lebih banyak bukti terkait fase dari “spiral kematian.” Misalnya, pada 2012 lalu, mereka menemukan bahwa kapasitas reproduksi lalat buah jantan akan menurun tajam secarta tiba-tiba dalam beberapa hari menjelang kematiannya.

“Seiring dengan semakin tuanya lalat buah jantan, kapasitas reproduksinya juga semakin buruk,” Kata Mueller.

Tapi ketika si jantan sekarat, tidak peduli apakah masih muda, setengah baya atau tua, kapasitas reproduksinya secara signifikan jauh lebih rendah dari lalat buah seusia mereka yang masih memiliki usia hidup selama beberapa pekan.

Pada tahun ini, Mueller dan Rose telah menganalisa data eksprimen terkait kemampuan reproduksi dan usia hidup lalat buah dari empat laboratorium yang berbeda. Dan dari data-data yang digabungkan ini sekali lagi mengungkapkan adanya fase dari “spiral kematian.”

Tidak peduli berapa usianya, lalat buah betina akan mengalami periode penurunan tajam dari tingkat kesuburannya dua minggu menjelang kematiannya. Para peneliti ini bahkan menemukan bahwa hanya dengan menganalisis kemampuan reproduksi lalat buah tiga hari menjelang perubahannya (mengesampingkan usia dan data lainnya), mungkin dapat memprediksi kematiannya.

“Tingkat akurasi dari prediksi kami (dengan cara ini) mencapai 80%,” kata Mueller.

Ilmuwan mengklaim, bahwa melalui percobaan lalat buah ini, mereka telah menemukan sebuah fase kehidupan yang menandakan bahwa kematian akan segera tiba. (Pixabay)
Ilmuwan mengklaim, bahwa melalui percobaan lalat buah ini, mereka telah menemukan sebuah fase kehidupan yang menandakan bahwa kematian akan segera tiba. (Pixabay)

Penelitian terkait hubungan antara kemampuan reproduksi dengan kematian, tidak hanya dilakukan Mueller dan Rose. James Curtsinger, ilmuwan dari University of Minnesota juga telah melakukan eksprimen terkait, yakni meneliti penuaan dan kematian lalat buah. Pada 2016 ini, ia memublikasikan hasil penelitian terbarunya. Hasil ini juga menunjukkan bahwa kemampuan reproduksi lalat buah akan menurun menjelang kematiannya, sangat identik dengan hasil penelitian Mueller dan Rose tersebut di atas.

Curtsinger bahkan menemukan bahwa penurunan kemampuan reproduksi tidak ada hubungannya dengan usia. Lalat buah yang lebih muda dan lalat buah tua mengikuti hukum yang sama.

Namun, dari beberapa sisi penting ini, temuan Curtsinger tidak sama dengan Mueller dan Rose. Misalnya, Curtsinger menyebutkan bahwa hasil pengamatan ini tidak dapat digunakan sebagai bukti adanya kehidupan tahap keempat. Dia tidak yakin bahwa manusia atau spesies lain itu sama dengan lalat buah, yakni mengalami tahapan penurunan tajam dalam hal reproduksi. Dia juga mengatakan bahwa istilah “spiral kematian”ini juga agak rancu dan tidak jelas. Curtsinger menciptakan sendiri dengan istilah “pensiun.”

Curtsinger mengatakan, fenomena “pensiun” mudah ditemukan pada lalat buah betina, sehingga lebih bernilai untuk penelitian. Tahap “pensiun” ini dimulai sejak lalat buah betina tidak lagi bertelur.

Penelitian Curtsinger juga mengungkapkan fenomena seperti yang ditemukan Mueller dan Rose. Curtsinger menemukan bahwa pada tahap akhir “pensiun,”dimana pada saat tingkat reproduksi rendah, dan kematian akan segera tiba, lalat buah mengalami masa kematian yang stabil, mirip dengan tahap “usia senja.”

“Ini adalah temuan yang baru, kestabilan tingkat kematian bukan hanya ciri-ciri (kematian) dari usia lanjut, tapi juga dapat terjadi pada masa (usia) setengah baya atau bahkan masa muda,” kata Curtsinger.

Namun, satu hal yang membingungkan Curtsinger adalah, mengapa antara kemampuan reproduksi dengan kematian itu memiliki kaitan yang erat.

“Kami tidak ada temukan penjelasannya,” katanya.

Ilmuwan percaya seseorang akan mengalami tahap  “spiral kematian.”

Curtsinger mungkin tidak yakin bahwa seseorang akan mengalami tahap “pensiun” menjelang ajalnya, tapi menurut Mueller, ada bukti yang menegaskan, bahwa seseorang yang meninggal karena takdir alamiah itu akan mengalami tahap “spiral kematian.”

“Sebuah studi tentang panti jompo di Denmark mungkin dapat menggambarkan hal ini,” kata Mueller.

Para peneliti melakukan percobaan terhadap sekelompok relawan yang berusia lebih dari 90 tahun di panti jompo  tersebut, untuk mengukur kekuatan (fisik), keselarasan dan tingkat konsentrasi jiwa (kesadaran) mereka. Beberapa tahun kemudian, mereka kembali ke panti jompo ini, untuk melihat apakah orang-orang tua itu masih hidup.

“Performa orang-orang tua yang sudah meninggal tersebut juga agak buruk dalam percobaan ketika itu. Ini adalah manifestasi dari penurunan kemampuan fisik menjelang kematian mereka,” kata Mueller.

Muller berharap, mudah-mudahan hasil temuannya dari lalat buah terkait di atas itu dapat memberikan petunjuk baru bagi manusia, membantu orang-orang menghindari proses yang lamban dan panjang menjelang ajal mereka. Memperpendek tahap “spiral kematian” agar orang-orang tetap sehat seperti orang lain, sampai sebelum kematian menjemput mereka.

Menurut Mueller dan Rose, bahwa mereka memang telah menemukan tahap keempat dari kehidupan, namun, tujuan jangka panjang mereka adalah membuat proses dari tahapan kehidupan manusia ini agar bisa sesingkat mungkin. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular