Oleh Ye Feng

Tidak kurang dari 90.000 orang tahanan di Tiongkok setiap tahunnya mengalami pengambilan paksa organ tubuh hidup oleh rezim Partai Komunis Tiongkok/ PKT untuk diperdagangkan. Kebanyakan dari mereka adalah para praktisi Falun Gong yang ditahan bukan karena melanggar hukum. Demikian bunyi artikel yang dimuat oleh media Inggris ‘Daily Mail’ pada 24 Juni 2016.

Artikel menyebutkan bahwa pengambilan paksa organ dari tubuh hidup tahanan politik di Tiongkok itu oleh rezim PKT telah dijadikan sarana untuk memancing warga asing yang berduit  “berwisata demi organ” ke Tiongkok.

Para profesional medis bersama pendukung hak asasi manusia internasional merilis sebuah laporan konklusif berisikan hasil investigasi terhadap ratusan rumah sakit yang melakukan transplantasi organ pasien di Tiongkok.

Salah satu penulis laporan tersebut, Ethan Gutmann dalam sebuah video yang diposting di internet mengatakan bahwa jika seseorang saat ini berkunjung ke Tiongkok dengan tujuan transplantasi, organ yang ia butuhkan itu besar kemungkinan berasal dari tubuh praktisi Falun Gong yang dibunuh demi organ segar itu.

“Meskipun jumlah donatur organ sukarela di Tiongkok bertambah, namun tidak mungkin mencapai tingkat seperti ini. Organ-organ itu jelas diperoleh melalui pengambilan paksa dari tubuh hidup!” kata Ethan Gutmann memperingatkan.

Pengaruh budaya Timur membuat masyarakat miskin dalam keinginan untuk mendonasikan secara sukarela  organ tubuhnya. Tetapi rezim komunis telah menjadikan tahanan politik sebagai sumber organ pertama untuk memenuhi permintaan transplantasi dari sekian banyaknya rumah sakit di Tiongkok.

Lembaga kedokteran Tiongkok di bawah rezim PKT mengklaim mampu melaksanakan lebih dari 10.000 kali permintaan transplantasi organ setiap tahunnya. Tetapi laporan hasil investigasi para ahli membuktikan bahwa angka yang lebih mendekati kebenaran adalah hampir 100.000 kali kasus transplantasi.

Laporan yang memuat hasil investigasi terhadap para ahli dan staf bedah, jumlah tempat pembaringan pasien, fasilitas rumah sakit dan seterusnya melukiskan bahwa rata-rata ada 2 kasus operasi transplantasi setiap hari yang dilakukan rumah sakit. Bila dihitung setahun maka angka itu akan menjadi lebih dari 100.000 kasus.

Banyak rumah sakit relatif baru didirikan untuk keperluan itu, atau rumah sakit lama dengan membangun ruang pasien tambahan. Bila tidak terlihat adanya prospek untuk menggaet keuntungann, niscaya ‘pertumbuhan’ itu tidak akan terjadi. Demikian tulisan dalam laporan itu.

Teknik transplantasi organ tubuh di Tiongkok mengalami perkembangan pesat selain karena dukungan kecukupan sumber organ yang terjadi sejak 2001, juga karena adanya ‘keyakinan’ dari mereka yang terlibat dalam sistem medis bahwa pasokan organ masih akan terus berkelanjutan sampai entah kapan.

Gutmann mengatakan, kasus-kasus pengambilan paksa organ di Tiongkok sudah terjadi pada era 1980-an, tetapi kenaikan secara dramatis justru terjadi mulai tahun 2000. Pada 2001, sudah ada lebih dari 1 juta praktisi Falun Gong yang dipenjara dalam kamp-kamp konsentrasi,  dari sana mereka dikirim ke rumah sakit untuk mendapatkan “pemeriksaan gratis fungsi organ tubuh.” Tentunya rumah sakit melakukan itu demi  keuntungan materi.

Pada tahun itu juga, fasilitas untuk melakukan transplantasi organ di rumah-rumah sakit baik milik pemerintah daerah maupun militer telah mengalami peningkatan yang signifikan. Mulai 2002, para penganut agama Kristen juga dimasukkan sebagai target pengambilan organ hidup. Mulai 2003, warga Tibet juga dijadikan sasaran.

Laporan juga menyebutkan bahwa Falun Gong adalah satu bentuk kultivasi demi kesehatan jiwa dan raga yang dilakukan dengan mengikuti paket latihan gerak dan meditasi. Di Tiongkok jumlah praktisinya sudah mencapai lebih dari 100 juta, tetapi sejak 1999, Jiang Zemin menggunakan kekuasaannya dan kekuatan PKT untuk membasmi Falun Gong secara nasional.

Para investigator melakukan pembicaraan melalui saluran telepon, meneliti situs-situs rumah sakit, analisis dan evaluasi jurnal medis, mensurvei 865 rumah-rumah sakit yang tersebar di seluruh wilayah Tiongkok.

Mereka melakukan pelacakan terhadap 712 unit pusat-pusat transplantasi hati dan ginjal di Tiongkok. Berhasil melakukan investigasi lebih mendalam terhadap 165 unit rumah sakit yang memperoleh ijin transplantasi yang dikeluarkan oleh rezim PKT yang dipimpin Jiang Zemin pada waktu itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular