Setelah hasil referendum memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa, pemimpin negara Jerman, Prancis dan Italia mengadakan pertemuan darurat pada Senin (27/6/2016) dan sepakat untuk tidak bernegosiasi dengan Inggris baik secara formal atau informal sebelum negara itu melaksanakan proses menarik diri sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur dalam pasal  no. 50 Perjanjian Lisbon.

Menurut CNA bahwa Brexit telah menyebabkan pasar keuangan global bergejolak. Dan mundurnya Cameron dari jabatan perdana menteri. meskipun tugas negosiasi dengan Uni Eropa akan dilakukan oleh perdana menteri yang baru. Tetapi dalam pidatonya di depan Parlemen Inggris, Cameron menegaskan bahwa pemerintah belum mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan  penarikan diri sesuai prosedur yang berlaku, tugas tersebut berikut negosiasi dengan Uni Eropa akan dilaksanakan oleh perdana menteri terpilih nanti.

Selain itu, ia juga berharap agar pemerintah dan parlemen dapat terlebih dahulu menentukan sikap, memastikan hubungan seperti apa yang hendak dijalin dengan Uni Eropa sebelum melangkah ke proses penarikan diri sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Perjanjian Lisbon.

Pemimpin baru Partai konservatif Inggris mungkin akan muncul pada bulan September mendatang, sampai saat ini calon kuat yang diprediksikan bisa memenangkan pilihan yang akan dilakukan pada bulan September adalah mantan Walikota London Boris Johnson dan seorang lagi kandidat yang menjabat sebagai sekretaris dalam Departemen Dalam Negeri Inggris bernama Theresa May.

Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Francois Hollande dan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi mengadakan pertemuan darurat di kota Berlin. Dalam konperensi pers bersama yang diadakan setelah pertemuan disebutkan bahwa mereka menyesali keputusan yang dibuat Inggris dan menyerukan kepada negara anggota Uni Eropa untuk bergandengan tangan mempererat persatuan demi Uni Eropa yang lebih kuat.

Media Inggris memberitakan bahwa ketiga kepala negara tersebut telah sepakat untuk tidak bernegosiasi dengan Inggris baik secara formal maupun informal sebelum Dewan Eropa secara resmi menerima dari Inggris surat permintaan keluar dari Uni Eropa.

“Ini merupakan keputusan yang menyakitkan dan putus asa”, kata Angela Merkel. Perjanjian Lisbon pasal 50 dengan jelas menetapkan kewajiban untuk melapor ke Dewan Eropa sebelum suatu negara ingin menarik diri dari Uni Eropa. Setelah penyampaian permintaan itu, Dewan Eropa baru dapat memberikan pedoman untuk bernegosiasi dengan Uni Eropa.

“Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidakpastian,” kata Hollande.

Karena itu Ia berharap kepada Inggris agar bisa mempercepat langkah proses penarikan diri demi kepentingan bersama. Sedangkan Metteo Renzi menyatakan keprihatinan atas mundurnya Inggris, tetapi ia berharap agar kesempatan ini dapat digunakan untuk mempererat tali persatuan antara 27 negara anggota.

Sebelum Brexit, Jerman, Inggris, Prancis dan Italia adalah negara-negara ekonomi terbesar di benua Eropa.

Media melaporkan bahwa Uni Eropa tidak dapat melakukan proses hukum untuk memaksa Inggris  menjalankan prosedur penarikan diri sesuai pasal no. 50 Perjanjian Lisbon. Seorang pejabat diplomatik yang berada di Brusel berpendapat bahwa Inggris bisa melakukan hal itu paling lambat sebelum tahun ini berakhir. Agar urusan itu dapat diselesaikan sebelum pemilihan anggota baru Parlemen Eropa dan masa jabatan anggota parlemen sekarang berakhir pada 2019.

Menurut ketentuan Pasal no. 50 Perjanjian Lisbon bahwa jangka waktu yang ditentukan untuk melakukan negosiasi penarikan diri negara anggota adalah 2 tahun setelah pengajuan permintaan. Namun beberapa ahli berpendapat, mungkin diperlukan waktu lebih lama dari 2 tahun karena kompleksitas dari permasalahannya.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular