Oleh: Huang Yu

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bukti bahwa manusia memiliki indra keenam, yakni selain indra penglihatan, pendengaran, peraba, pembau, dan pengecap, manusia juga memiliki kemampuan mendeteksi medan magnet bumi.

Joe Kirschvink dari California Institute of Technology menyatakan bahwa untuk pertama kalinya, ia telah menemukan bukti manusia memiliki kemampuan mendeteksi medan magnet bumi. Hal itu dijelaskan Joe Kirschvink dalam pertemuan 2016 Royal Institute of Navigation, Inggris.

“Sambutan dari laporan saya sangat baik, dan saya menyimpulkan bahwa manusia memiliki fungsi magnetoreceotor,” ujarnya kepada majalah Science, seperti dilansir ScienceAlert Australia, Senen, 27 Juni 2016.

Menurut laporan terkait, ilmuwan sebelumnya menganggap bahwa manusia mustahil dapat mendeteksi medan magnet, tapi sekarang para ahli percaya bahwa sangat mungkin manusia memiliki indra keenam.

Peter Hore, seorang ahli kimia di Universitas Oxford, Inggris, meskipun tidak terlibat secara langsung dalam penelitian, namun, sangat tertarik dengan penelitian tersebut.

“Joe adalah seorang peneliti dengan pemikiran dan sikap kehati-hatian yang sangat cermat. Jika tidak ada bukti yang konklusif, ia tidak akan membahas topik itu dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.

Kirschvink merancang sebuah “Faraday cage atau sangkar Faraday” yaitu sebuah kandang khusus yang memblok gangguan elektromagnetik. Ia meminta para relawan duduk di dalamnya, dan memberikan sinyal magnetik murni tanpa informasi lain, kemudian menganalisis aktivitas otak mereka melalui Electroencephalography-EEG. Kirschvink kemudian menerapkan medan magnet berputar ke dalam kandang dan mencatat, ketika medan magnet berputar berlawanan arah jarum jam, ada penurunan gelombang alpha.

 Menurut ilmuwan, burung bermigrasi secara besar-besaran menggunakan kemampuan mereka dalam mendeteksi medan magnet bumi.(Getty Images)

Menurut ilmuwan, burung bermigrasi secara besar-besaran menggunakan kemampuan mereka dalam mendeteksi medan magnet bumi.(Getty Images)

Karena itu, Kirschvink berpendapat bahwa otak manusia dapat merespon medan magnet, artinya otak manusia dapat merasakan atau mendeteksi perubahan medan magnet.

“Ini merupakan bagian dari sejarah evolusi kita. Reseptor magnet mungkin merupakan indra utama,” ujar Kirschvink.

Laporan terkait menyebutkan, masih banyak percobaan yang perlu diteliti lebih lanjut. Saat ini, ilmuwan Jepang dan Selandia Baru sedang menguji dan membukti kehandalan dari percobaan Kirschvink.

Komunitas ilmiah telah lama mengakui bahwa banyak hewan memiliki kemampuan mendeteksi medan magnet bumi, seperti burung, serangga dan hewan lainnya, yang mereka gunakan untuk bermigrasi atau sebagai penunjuk arah lingkungan sekitar.

Saat ini komunitas ilmiah memiliki dua penjelasan terkait kemampuan hewan dalam mendeteksi medan magnet bumi.

Menurut pandangan atau penjelasan pertama, bahwa medan magnet mungkin memicu reaksi kuantum dalam protein yang dikenal sebagai kriptokrom, protein ini dapat ditemukan dalam retina burung dan anjing. Namun, para ilmuwan tidak bisa menjelaskan bagaimana materi-materi ini mengumpan balik informasi medan magnet ini pada otak.

Sementara penjelasan lainnya, di dalam sel yang mendeteksi medan magnet mengandung mineral besi magnet yang dikenal sebagai magnetit. Materi-materi ini membentuk “jarum kompas” yang sangat kecil. Di sel paruh burung dan hidung trout (sejenis ikan air tawar) telah ditemukan mnegandung magnetit, namun, kurang bukti yang cukup untuk bisa sepenuhnya menjelaskan kemampuan medan magnet.

Ahli lain juga berkata bahwa ‘indra ke-6’ memanfaatkan kekuatan dari mineral besi dan magnetit yang bertindak sebagai ‘jarum kompas’. Sementara lainnya berkata bahwa hal tersebut bergantung pada protein dalam retina, yakni cryptochrome, demikian menurut laporan majalah Science. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular