Sebagian besar obat rata-rata memiliki efek samping, penelitian dalam skala luas baru-baru ini menemukan, penggunaan obat hipertensi dalam jangka panjang memiliki rasio lebih tinggi memicu terjadinya amnesia, demensia, penyakit Alzheimer, kata Wu Jia-cheng, seorang pakar racun dan profesor bidang kimia dari National Taiwan Normal University-NTNU, Taipei, Taiwan.

Wu Jia-cheng mengatakan, bahwa sebagian besar obat rata-rata memiliki efek samping, meskipun ilmu pengetahuan, khususnya dari sisi kedokteran telah maju, namun, baru ditemukan secara kontinyu beberapa efek samping dari penggunaan obat terkait. Karena itu, ketika mengonsumsi sebaiknya perhatikan efek sampingnya yang secara bertahap dirasakan kemudian.

Penelitian terkait dalam skala luas baru-baru ini menemukan, bahwa penggunaan dalam jangka panjang untuk mengontrol tekanan darah dan mengobati penyakit kardiovaskular melalui antagonis vitamin K, memiliki rasio lebih tinggi memicu terjadinya amnesia, demensia, penyakit Alzheimer pada penderita.

Terjadinya gejala tersebut kemungkinan disebabkan karena menurunnya kekentalan vitamin K dalam jangka lama, dan setelah darah menjadi encer, sehingga tidak dapat membuat sel-sel otak mendapatkan nutrisi yang mutlak dibutuhkan, atau bahkan mengakibatkan membran sel saraf otak jauh lebih rentan mengalami cedera karena proses metabolisme, imbasnya proses pemulihan menjadi sulit. Ini adalah fakta yang harus diwaspadai bagi para pengguna obat-obatan ini.

Wu Jia-cheng mengatakan, begitu ada gejala tekanan darah tinggi, atau menderita penyakit kardiovaskular, banyak orang langsung menggunakan obat pengontrol tekanan darah dan pembersih pembuluh darah dalam jangka panjang, ini adalah hal yang wajar bagi manusia yang ingin mengobati penyakitnya.

Banyak obat untuk mengontrol tekanan darah dan pembersih pembuluh darah itu menggunakan kekentalan antagonis vitamin K, untuk mencapai tujuan dari terapi farmakologis, seperti misalnya beberapa obat kontrol tekanan darah yang mengandung coumadin yang mampu meresistensi kekentalan vitamin K.

Sementara itu, vitamin K dalam tubuh merupakan faktor pembekuan darah yang penting, mengontrol kekentalan sejumlah besar komponen dalam darah ; vitamin K sendiri memiliki kemampuan menahan gejala peradangan, dan berefek sebagai pelindung sphingolipids, serta memiliki fungsi yang penting dalam mencegah kerusakan sel saraf oleh radikal bebas dalam tubuh.

Hasil penelitian terkait juga menyebutkan bahwa jika benar-benar bisa menghindari penggunaan antagonis vitamin K ; Misalnya, menggunakan nattokinase dan sejumlah kecil aspirin, serta meningkat asupan asam lemak berkualitas dari ikan, maka ini juga merupakan suatu cara yang relatif aman, ujar Wu Jia-cheng. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular