Oleh: Lin Yan

Sebuah studi terbaru mengingatkan, bahwa di bawah delta sungai Gangga, yang merupakan delta terbesar di dunia terdapat patahan besar. Jaringan GPS mengungkap bahwa satu lempeng terkubur di bawah permukaan yang meliputi sebagian wilayah Bangladesh, Myanmar, dan India timur, jika  terjadi retakan, diduga dapat menyebabkan gempa dengan kekuatan 8,2 hingga 9 skala Richter.

Menurut ilmuwan, ini adalah bencana yang tak terbayangkan bagi 140 juta penduduk di kawasan itu. Namun, tidak diketahui secara pasti apakah potensi bencana ini akan terjadi.

“Kami tidak tahu apakah (gempa) akan terjadi besok atau 500 tahun lagi,” ujar Michael Steckler, geofisikawan dari Lamont-Doherty Earth Observatory di Columbia University, New York City, seperti dilansir dari CBS News, Senin (11/7/2016).

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menemukan tabrakan lempeng tektonik di bawah Delta Gangga. Delta Gangga juga dikenal sebagai Sungai Gangga dan delta sungai Brahmaputra atau delta Benggala. Sejak 2003 – 2014, Steckler dan rekannya membuat peta penyebaran patahan di antara struktur geologi lapisan atas dan bawah di Delta Sungai Gangga menggunakan Global Positioning System (GPS) super sensitif.

Area patahan tersebut tidak hanya mencakup Bangladesh tapi juga sebagian wilayah Myanmar dan India bagian Timur. Wilayah ini merupakan salah satu kawasan paling padat penduduknya di dunia. Diperkirakan sekitar 140 juta orang yang tinggal dalam jarak 96 kilometer dari patahan, termasuk 17 juta jiwa penduduk di Dhaka,  Bangladesh, yang padat penduduknya itu akan terkena dampaknya.

Steckler memperkirakan, patahan tersebut dapat menyebabkan gempa bumi dengan kekuatan 8,2 hingga 9 SR. Jika terjadi, maka tidak hanya membawa bencana bagi 140 juta penduduk di sekitar, sejumlah besar rumah akan hancur, karena kualitas konstruksi bangunan di Bangladesh sangat buruk.

“Saya pernah melihat mereka memompa pasir untuk membangun gedung 20 lantai. Jika diguncang gempa bumi, maka dipastikan bangunan itu akan runtuh,” ujar Steckler.

Tak hanya gedung tinggi, padatnya penduduk di kawasan, kondisi sanitasi yang buruk dan masalah lain juga akan memperburuk dampaknya jika dihantam gempa bumi berkekuatan 8 – 9 SR.

Namun, para ilmuwan tidak dapat memastikan apakah patahan itu akan retak, dan tidak bisa memperkirakan kapan gempa bumi itu terjadi. Tapi catatan sejarah menyebutkan pernah terjadi gempa pada 1762 dan diduga menjadi penyebab berubahnya aliran sungai di Bangladesh dan Myanmar.

“Kami akan membuat lebih rinci peta penyebaran area patahan, dan mengumpulkan data tsunami, untuk memperkirakan frekuensi terjadinya gempa dahsyat di wilayah ini,” pungkas Steckler menambahkan. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular