Booming Pokemon GO mungkin melegakan bagi para orangtua yang ingin anak-anaknya melakukan permainan di luar ruangan (outdoor). Akan tetapi hal itu mungkin bukanlah hobi yang paling aman, berdasarkan beberapa insiden baru-baru ini.

Video game ponsel yang dirilis pada 6 Juli 2016 lalu oleh Niantic dan Pokemon Company, menyebarkan “monster saku” Pokemon pada lokasi peta di dunia nyata. Para pemain harus secara fisik mencapai lokasi, seperti ditunjukkan oleh GPS ponsel mereka, untuk mengumpulkan makhluk-makhluk dalam permainan itu. Selain itu, Pokemon hanya muncul di peta permainan ketika pemain berada di dekat mereka, sehingga membuat para pemain berjalan- jalan dan menjelajahi berbagai area untuk menemukan mereka.

Landmark lokal, seperti perpustakaan, taman, air mancur, dan kantor polisi dapat ditandai sebagai “Poke Stop” dan “Gym”, di mana para pemain dapat mengumpulkan dalam game atau menggunakan Pokemon mereka untuk melawan Pokemon lainnya.

Permainan ini memang membuat orang melakukan “perjalanan nyata” untuk mendapatkan poin yang bermanfaat bagi permainan mereka dalam banyak cara.

Dan memang ia telah menjadi aplikasi gratis teratas di chart iTunes dan sudah memiliki lebih dari satu juta penginstal di Google Play.

Namun di balik itu semua, permainan itu tampaknya menjadi sebuah gangguan yang signifikan dan mungkin lebih berbahaya daripada permainan yang lain.

Pokemon GO akan “memaksa” para pemain untuk bermain sambil berjalan menyusuri jalanan di dunia nyata, sembari mengalihkan perhatian mereka pada segala rintangan yang terdapat di dunia nyata.

“Karena permainan ini pada dasarnya akan memaksa Anda untuk membuat aplikasi senantiasa terbuka dan memeriksanya terus menerus, Anda benar-benar tidak memperhatikan di mana Anda pada saat itu. Apalagi jika Anda menggunakan headphone, maka permainan ini akan menjadi lebih berbahaya ketika Anda justru sedang keasyikan,” tulis Paul Tassi, contributor Forbes dalam rubric video game, teknologi, dan internet.

Tassi menghabiskan seharian bermain game ini dan hampir dua kali tertabrak sepeda dan sekali oleh mobil.

“Saya benar-benar khawatir tentang anak-anak yang memainkan permainan ini dan tidak memperhatikan di mana mereka berada,” tulisnya.

Sementara itu, para kriminal juga telah menemukan cara untuk mengeksploitasi permainan ini.

Permainan ini memungkinkan pemain untuk membeli Pokecoins, sekitar 100 untuk satu dollar AS. Di antara fasilitas lainnya, seseorang dapat membeli “Lure Module” dengan 100 koin, sebuah fitur yang menarik Pokemon ke Poke Stop yang dipilih selama 30 menit. Tempat itu akan disorot di peta setiap pemain, yang kemungkinan akan menarik pemain terdekat untuk datang dan mengumpulkan makhluk ekstra.

Departemen Kepolisian O’Fallon, AS, menemukan sekelompok yang terdiri dari empat orang, di mana salah satu dari mereka bersenjata, yang menggunakan fungsi “Lure Modul” untuk memikat para pemain untuk berada di tempat parkir yang menjadi markas mereka (dan berbagai lokasi lainnya yang memungkinkan) untuk kemudian merampok mereka.

“Para tersangka ini diduga menjadi dalang di balik sejumlah perampokan bersenjata, baik di Kota St. Louis dan St. Charles,” tulis keterangan resmi polisi di halaman Facebook. “Jika Anda menggunakan aplikasi ini (atau jenis aplikasi serupa lainnya) atau memiliki anak yang memainkan permainan ini, kami meminta Anda untuk berhati-hati saat memperingatkan orang-orang asing tentang tujuan lokasi Anda berikutnya.”

Dari komentar online para pemain Pokemon GO, tampaknya tidak biasa bagi orang untuk berani keluar dan berburu Pokemon di tengah malam.

“Semalam petugas polisi di Colorado menghentikan kami untuk bertanya tentang permainan ini, dan mengingatkan kami bahwa taman ini telah ditutup. Ada sekitar 30 orang dari kami yang di tengah malam berjalan di sekitar taman. Saya pun merasa seperti orang idiot,” tulis Trisha Abney, pemain Pokemon GO di halaman Facebooknya.

Permasalahan lainnya adalah tampat yang digunakan sebagai Poke Stop dan Gym merupakan tempat-tempat yang tidak bisa dibuat sembarangan berkeliaran.

Kantor Polisi Darwin di Australia telah ditetapkan sebagai Poke Stop, sehingga mendorong polisi untuk merilis pernyataan yang mengingatkan pengguna di sana bahwa mereka tidak harus masuk ke kantor polisi untuk mengumpulkan reward dalam game dan harus melepaskan pandangan dari ponsel mereka ketika menyeberang jalan.

Di AS, Gedung Putih dan Pentagon telah ditunjuk sebagai Gym dalam permainan, yang mungkin akan membuat para pemain terlibat bentrokan dengan petugas keamanan.

Di Indonesia sendiri, Poke Stop dan Gym banyak terdapat di tempat-tempat ibadah, yaitu masjid, gereja, pura, wihara, dan kelenteng.

Situs permainan itu juga memperingatkan beberapa bahaya.

“Demi keamanan, jangan pernah bermain Pokemon GO ketika Anda sedang mengendarai sepeda, mengendarai mobil, atau apa pun di mana Anda harus memperhatikan jalan, dan tentu saja jangan pernah berjalan jauh dari orangtua Anda atau kelompok Anda demi menangkap Pokemon,” ujar situs permainan itu.

Namun beberapa posting secara online tampaknya menunjukkan bahwa orang-orang telah mengabaikan peringatan ini. Tampaknya beberapa pemain menganggap akan lebih cepat untuk mengumpulkan monster-monster kecil itu dengan mengendarai sepeda atau mobil.

“Saya belum mendengar laporan dikonfirmasi cedera atau kecelakaan Pokemon GO terkait belum, tapi sayangnya, saya pikir mereka tak terelakkan,” tulis Tassi. (Epochtimes/ Osc)

Share

Video Popular