Sahabat baik manusia, yakni anjing, selain dapat mencium apel yang Anda sembunyikan di dalam tas, mencium narkoba yang dibungkus rapat hingga berlapis-lapis oleh penyelundup, lewat latihan mereka bahkan dapat melacak penyakit termasuk di antaranya kanker paru-paru, kanker prostat dan berbagai penyakit manusia lainnya.

Saat ini, sistem penyaringan kanker paru-paru terutama menggunakan teknologi tomografi komputer, teknik ini dapat mengurangi tingkat kematian akibat kanker paru-paru sebanyak 20%, tapi sistem penyaringan ini mempunyai tingkat kesalahan diagnosa hingga 25 %, sehingga dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk memastikan. Sementara ilmuwan Jerman menemukan, anjing yang telah dilatih dengan intensif dapat melacak kanker paru-paru dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Riset ini dipublikasikan pada European Respiratory Journal, dengan objek penelitian dua ekor anjing jenis gembala Jerman (Herder), seekor anjing gembala Australia, dan seekor anjing pemburu jenis Labrador, anjing-anjing tersebut berhasil mengenali 71% dari 100% hawa yang dikeluarkan dari tubuh para penderita kanker paru-paru, dari 400 contoh hawa tubuh penderita paru-paru, mereka berhasil mengenali 372 contoh di antaranya, tingkat positif kesalahan hanya 7%.

Peneliti Profesor Thorsten Walles mengatakan, kelebihan anjing pemburu mengenali kanker paru-paru ini begitu tinggi, bahkan melampaui hasil diagnosa dua teknologi gabungan sekalipun yakni tomografi komputer dengan bronkoskopi. Hal ini sungguh sangat mengesankan.

Dalam riset lainnya, anjing yang terlatih dapat mencium adanya kanker payudara, kanker kandung kemih, melanoma kulit, kanker prostat dan lain-lain, dan di antaranya tingkat akurasi mendeteksi kanker prostat mencapai 93%, jauh lebih baik daripada cara pemeriksaan antigen spesifik untuk kanker prostat yang masih digunakan hingga saat ini.

Selain mendeteksi berbagai jenis kanker, anjing juga dilatih untuk mendeteksi hipoglikemia dan juga kejang-kejang, misalnya, penderita kejang umumnya tidak bisa merasakan gejala akan terjadi kejang, tapi anjing yang dilatih khusus sejak kecil akan dapat mengenali gejala kejang lebih dulu, dan akan menggunakan cakar, gonggongan, jilatan lidahnya atau berputar-putar untuk memberitahu majikannya untuk melakukan persiapan agar terhindar dari risiko cedera ketika kejang melanda.

Anjing memiliki penciuman yang sangat tajam, menurut informasi ketepatan penciuman anjing mencapai 10.000 bahkan 100.000 kali lipat lebih tajam daripada manusia, mampu mengendus aroma dengan tingkat konsentrasi hingga hanya satu banding miliaran bagian, setara dengan satu sendok gula dilarutkan dalam 2 buah kolam renang standar olimpiade.

Dibandingkan dengan reseptor penciuman manusia yang hanya 6 juta jenis, reseptor penciuman anjing mempunyai sekitar 300 juta reseptor. Hidung anjing memiliki “ruang penciuman” yang disebut organ jacobson, yang mungkin erat kaitannya dengan kemampuan penciuman anjing yang sangat kuat.

Namun apakah sahabat baik manusia ini suatu hari nanti akan duduk bertugas di klinik seorang dokter? Jika benar demikian, mungkin ini akan menjadi pemandangan unik di dunia kedokteran modern. Faktanya, tingkat keberhasilan anjing mendeteksi penyakit bisa berbeda tergantung pada jenis anjing, lamanya jangka waktu pelatihan juga berbeda berdasarkan jenis penyakitnya. Sepertinya masih butuh waktu cukup lama agar anjing bisa mendeteksi penyakit secara profesional.

Profesor Beauchamp dari Monell Chemical Senses Center mengatakan, penelitian terhadap anjing percobaan ini setidaknya memberikan suatu kemungkinan metode pemeriksaan baru bagi manusia.

Ia mengatakan, “Anjing mampu mengendus penyakit bukan hanya karena ketajaman penciuman semata, tapi juga terkait erat dengan metode anjing dalam memproses dan mengenali bau, ini adalah suatu proses yang sangat rumit, juga merupakan kunci krusialnya. Jika ada peralatan yang dapat meniru proses ini, maka akan sangat membantu diagnosa penyakit.” (Epochtimes/Han Huilin/Sud/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular