Oleh: Xia Xiaoqiang

12 Juli 2016 lalu, Pengadilan Tetap Arbitrase Internasional The Hague memutuskan kasus arbitrase Laut Tiongkok Selatan yang diajukan Filipina, disebutkan pada Sembilan Garis Putus tidak terdapat kedaulatan “hak sejarah” dan kepulauan Laut Tiongkok Selatan tidak memiliki zona ekonomi khusus.

Kasus arbitrase Laut Tiongkok Selatan telah memicu konflik internasional, yang melibatkan konflik politik, ekonomi, diplomatik dan lain-lain. Bagi berbagai pihak yang menyoroti masalah ini, terutama bagi masyarakat di daratan Tiongkok, yang perasaan emosional nasionalisme dan patriotismenya tergerak. Oleh karena itu, sejumlah fakta dan akal sehat di balik kasus arbitrase Laut Tiongkok Selatan ini terlebih dulu kudu dipahami.

Tentang Wilayah Tiongkok

Wilayah kekuasaan Tiongkok sejak zaman dulu hingga sekarang terus mengalami perubahan, mulai dari Sembilan Negara Bagian yang  dikisahkan dalam kitab “Shang Shu – Yu Gong (hasil karya seorang intelektual dari negeri Wei di zaman Negara Berperang,  403SM – 225SM)” sampai masa pemerintahan Republik Tiongkok (1912 – 1949, yang setelah 1949 hanya menguasai Taiwan dan pulau-pulau disekitarnya) yang berbentuk daun Parasenecio begoniaefolius , lalu terjadi lagi perubahan di masa rezim PKT berkuasa sehingga akhirnya bentuknya berubah lagi dan dijuluki “ayam jago” hingga saat ini.

Wilayah yang paling inti/utama dari kedaulatan Tiongkok adalah wilayah di zaman kekaisaran Dinasti Qin (221SM – 207SM), hingga Dinasti Han Barat (202SM – 8) yang pernah menguasai Xinjiang. Pada zaman Dinasti Tang (618 – 907) bahkan mencakup wilayah Asia Tengah, tapi hilang pada masa pemberontakan An Shi (755 – 763). Wilayah Dinasti Song (960 – 1279) bergeser ke daerah selatan dekat perbatasan Vietnam dan Myanmar.

Di kala Dinasti Yuan (1271 – 1368) Tiongkok dikenal sebagai salah satu negara terbesar dalam sejarah dengan menguasai sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Dinasti Ming (1368 – 1644) secara resmi menguasai Tibet dan Laut Tiongkok Selatan, dan di zaman Dinasti Qing (1644 – 1912) wilayah Xinjiang (Uighur) direbut kembali termasuk Taiwan.

Sebagai contoh, wilayah utara Vietnam sebelum abad ke-9 Masehi adalah bagian dari kekuasaan Dinasti Tiongkok, hubungan wilayah Vietnam tersebut tentunya merupakan hubungan dalam negeri dengan wilayah Tiongkok lainnya. Tapi setelah abad ke-9 Masehi Vietnam merdeka dan membentuk negara, hubungannya dengan kekaisaran Tiongkok pun berubah menjadi hubungan antar negara.

Perubahan wilayah di perbatasan juga merefleksikan perjalanan sejarah dari suatu sisi penting. Sebelum terbentuknya hubungan internasional modern seperti sekarang ini, besar kecilnya wilayah dan tingkat kekokohannya terlihat pada kemajuan atau kemunduran dalam hal kriteria politik, ekonomi, budaya, militer dan kekuatan negaranya. Umumnya setelah hubungan internasional terbentuk, sengketa wilayah antar dua negara umumnya diselesaikan dengan perjanjian terbaru yang pernah ada.

Wilayah Yang Hilang Selama Pemerintahan PKT

Sejak dulu hingga sekarang, rezim negara mana pun, berkewajiban melindungi wilayah kekuasaan negaranya. Mari kita lihat “kewajiban” yang telah dilakukan Partai Komunis Tiongkok/ PKT sejak 1949. Menurut data yang ada, selama 67 tahun PKT telah melepas jutaan kilometer persegi wilayah Tiongkok, di antaranya termasuk mengakui kemerdekaan Mongolia pada tahun 50-an abad lalu, serta mengakui wilayah yang dicaplok oleh Tsar-Rusia pada 90-an abad lalu seluas hampir 3 juta kilometer persegi.

Dalam kesepakatan wilayah perbatasan RRT-Korut pada 1962, Korea Utara mendapatkan wilayah pegunungan Changbai (ada yang mengatakan setengahnya, ada yang mengatakan 53%) beserta 3 atau 4 pulau dari delapan puncak gunung.

Dalam “Kesepakatan Perbatasan RRT-Nepal”, negara Nepal mendapatkan sebagian wilayah Pegunungan Himalaya dengan garis perbatasan melewati puncak Everest. Perjanjian tersebut ditandatangani Oktober 1961 oleh kepala negara PKT waktu itu yakni Liu Shaoqi.

Wilayah Hunza di daerah Xinjiang yang dimiliki oleh Pakistan saat ini, adalah inisiatif pemberian PM Chou En Lai kepada Pakistan saat berkunjung ke Kashmir pada 1955.

Rusia, Kazakhstan, Tadjikistan dan Kyrgyzstan, semua telah mendapatkan seluas lebih dari 600.000 KM² wilayah di sebelah selatan Stanovoy dan di utara Sungai Heilongjiang, serta wilayah seluas 400.000 KM² di sebelah timur Sungai Ussuri berikut juga Pulau Sakhalin.

Pada 9-10 Desember 1999 selama dua hari di Beijing, Jiang Zemin bersama Presiden Rusia Yeltsin telah menandatangani “Kesepakatan Penjabaran Wilayah Perbatasan Timur dan Barat RRT-Rusia.” Dalam kesepakatan tersebut Jiang telah menghadiahkan wilayah Tiongkok seluas lebih dari 1 juta KM², setara dengan luas 3 propinsi di wilayah timur laut Tiongkok, atau setara dengan puluhan pulau Taiwan.

Wilayah utara Tiongkok yang telah dijual oleh Jiang meliputi beberapa bagian besar, salah satu wilayah “Extra Terrestrial” itu meliputi selatan Stanovoy dan utara Sungai Heilongjiang seluas lebih 600.000 KM², wilayah lainnya yakni “Usuri Timur” yakni sebelah timur Sungai Ussuri seluas 400.000 KM², serta distrik Tannu, sekitar 170.000 KM² termasuk Pulau Sakhalin sekitar 76.400 KM².

Selain itu, Jiang Zemin juga memberikan wilayah muara Sungai Tumen kepada Rusia, yang mengakibatkan tertutupnya akses wilayah Timur Laut Tiongkok untuk mencapai Laut Jepang secara langsung.

Sejak PKT berkuasa, dilihat dari wilayah Tiongkok yang telah hilang, PKT sama sekali tidak peduli akan kehilangan tersebut, tapi jika dibandingkan dengan mayoritas negara Barat lain, mengapa gelora “patriotisme” rakyat Tiongkok itu begitu melonjak?

Apa yang dimaksud dengan patriotisme? Patriotisme adalah memicu rasa patriotik untuk melakukan gerakan massal atau ideologi untuk suatu mobilisasi politik. Sebenarnya definisi ini sendiri sangat bertolak belakang dengan ideologi paham komunis yang dianut oleh PKT. Paham komunis berorientasi menghapus semua hak pribadi, serta membentuk suatu sistem milik bersama yang bekerja sesuai pembagian yang telah ada, dan berorientasi pada masyarakat yang tidak mengenal kelas, tidak ada negara dan pemerintahan. Lalu mengapa rakyat Tiongkok di bawah pemerintahan PKT sepertinya terlihat begitu mencintai negaranya? (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular