JAKARTA – Hujan deras mengguyur sesekali petir menggelagar di langit Jakarta pada Rabu (20/7/2016). Sama halnya di Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, depan Kedubes RRT. Namun hujan dan petir tak memupuskan kegiatan praktisi Falun Gong atau Falun Dafa untuk terus memperingati berlangsungnya 17 tahun penindasan terhadap praktisi Falun Gong.

Puluhan spanduk terbentang panjang menghadap Kedubes RRT. Beragam pesan disampaikan termasuk dari sejumlah LSM dan tokoh masyarakat kepada siapapun agar diakhiri penindasan terhadap praktisi Falun Gong. Diantaranya tertulis tentang latihan Falun Gong yang berkembang pesat di Tiongkok hingga dilatih 100 juta orang. Lalu hal inilah yang disebut membuat iri penguasa Partai Komunis Tiongkok (PKT) hingga  mencetuskan penindasan dan penganiayaan.

Spanduk lainnya bertuliskan “Jiang Zemin Penindas Falun Dafa” spanduk lainnya adalah “Tuntut Jiang Zemin ke Pengadilan atas Kejahatannya Menindas Falun Dafa di Tiongkok.” Spanduk dari LSM Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) tertulis “Freedom of Expressiom, Freedom of Association is Democaratic Freedom, Stop Torture & Dissaperance in China” – mendukung dihentikannya penindasan terhadap Falun Gong di China.

Pesan dari pegiat HAM di Imparsial bertuliskan “We Urge The Chinese Goverment to Respect and Protect the Rights of Falun Gong Followers. Stop Violation Against Falun Gong.” YLBHI menulis pesan “Stop the Persecution of Falun Gong Now” sedangkan dari Kontras bertuliskan “All People Demand Bring Jiang Zemin to The Court” pada akhir pesannya bertuliskan –menduking dihentikannya penindasan terhadap Falun Gong di China.

Tak ketinggalan spanduk berisi pesan dari Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) bertuliskan “Jiang Zemin Biang Kejahatan, Torture is not a Solution” adapun dari LBH Jakarta bertuliskan “Stop Torture in China” sedangkan spanduk berisi pesan dari penyair Taufik Ismal bertulsikan “Hentikan dan Adili Penganiayaan Terhadap Falun Dafa.”

Sementara itu, berkostum putih-putih puluhan praktisi Falun Gong lainnya duduk rapi berdiam diri sembari membawa foto-foto rekan praktisi Falun Gong yang ditindas hingga meninggal dunia di Tiongkok. Gambaran betapa kejamnya penindasan dan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong juga dipertunjukkan saat itu. Prosesi seperti apa pengambilan organ secara hidup-hidup terhadap praktisi Falun Gong juga dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Diperlihatkan juga ilustrasi praktisi Falun Gong yang ditindas dengan diborgol hingga luka-luka. Lainnya adalah praktisi Falun Gong yang dikerangkeng hingga tak kuasa menahan siksaan dan penindasan. Selanjutnya penyiksaan ini disempurnakan dengan kehadiran sosok polisi untuk siap setiap saat memukul praktisi dengan tongkatnya. Perumpamaan lainnya adalah praktisi Falun Gong yang menjadi korban kerja paksa dan penganiayaan secara terus menerus.

Semua penindasan dan penganiayaan tersebut terhadap Falun Gong diprakarsai oleh Jiang Zemin. Hingga disudut lainnya diperagakan tentang prosesi persidangan kepada Jiang Zemin yang diputuskan bersalah karena menindas Falun Gong. Pada mulanya Jiang Zemin mengeluarkan tiga perintah terkait Falun Gong yakni Cemarkan Reputasinya, Bangkrutkan Secara Finansial dan Hancurkan Secara Fisik.

Sisi lainnya sejumlah praktisi Falun Gong menyapa dan berbicara kepada orang-orang yang hilir mudik sekitar lokasi penyampaian pendapat termasuk kepada aparat kepolisian. Sejumlah pejalan kaki lainnya sesudah berkata-kata kepada praktisi Falun Gong, terlihat membubuhkan tandatangan mereka pada lembaran kertas yang ditunjukkan oleh praktisi Falun Gong.

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) Gatot Supriyanto Machali menuturkan sengaja memperingati momen penindasan terhadap praktisi Falun Gong dikarenakan masih banyak orang yang belum mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi. Apalagi, ujar Gatot, masih banyak orang yang terkelabui oleh propaganda palsu yang memutar-balikan fakta tentang kondisi yang dialami pengikut Falun Dafa.

Menurut Gatot, hingga saat ini Partai Komunis Tiongkok  masih mempertahankan politik penganiayaan serta belum secara tegas mengakhiri penndasan. Bahkan,tutur Gatot, praktek transplantasi secara illegal illegal terhadap praktisi Falun Dafa masih berlangsung. Oleh karena, tegas Gatot, pihaknya bermaksud membuka mata dunia dan masyarakat Indonesia untuk mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Falun Dafa atau Falun Dafa.

“Tentang sebuah fakta telah berlangsungnya kejahatan kemanusian terbesar dalam abad ke-21 ini, yang dilakukan oleh rejim komunis Tiongkok, khususnya pada masa pemerintahan Jiang Zemin, yang diteruskan oleh antek-anteknya pada masa sekarang,” ujar Gatot.

Gatot menambahkan fakta yang terjadi adalah sebuah genosida dan pelanggaran hak asasi manusia yang berat, yang belum banyak diketahui oleh komunitas internasional dan para pmimpin dunia. Pada kesempatan itu, Gatot menyerukan pemerintah Tiongkok dibawah Xi Jinping harus baerani bertindak di tengah gelombang tuntutan hukum terhadap Jiang Zemin atas kejahatannya terhadap pengikut Falun Dafa yang terus menggelora.

Atas sejumah fakta tersebut, kami Himpunan Falun Dafa Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Mendesak kepada pemerintah Tiongkok dibawah Xi Jinping untuk segera mengakhiri penganiayaan terhadap pengikut Falun Gong, serta merehabilitas nama baik Falun Dafa dan Guru Li Hongzhi.
  2. Menindak tegas para pentolan kejahatan Jiang Zemin cs, serta menyeret mereka kehadapan pengadilan pidana berdasarkan laporan system yudisial yang sudah disampaikan oleh masyakat untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya yang sudah dilakukan sejak 1999.
  3. Meminta kepada lembaga pengadilan internasional, seperti Makamah Internasional dan Komisi HAM PBB untuk turun tangan mengadili Jiang Zemin cs atas kejahatan kemanusiaan dan genosida yang dilakukannya terhadap praktisi Falun Dafa di Tiongkok.
  4. Menyerukan kepada komunitas internasional, pemerintah RI dan masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan dan  solidaritasnya terhadap nasib yang dialami oleh pengikut Falun Dafa.

Tak hanya dari Himpunan Falun Dafa, perwakilan dari LBH Jakarta juga menyampaikan seruannya atas desakan penghentian penindasan terhadap Falun Gong serta pernyataan dukungan kegiatan yang terus digelar oleh praktisi Falun Gong. Sedangkan perwakilan dari Global human Right Effort (GHURE) juga menegaskan penghentian penindasan serupa yang dialami oleh praktisi Falung Gong. (asr)

Ilustrasi penganiayaan yang dialami oleh praktisi Falun Gong di depan Kedubes RRT Jakarta, Rabu 20 Juli 2016 (Erabaru.net)
Ilustrasi penganiayaan yang dialami oleh praktisi Falun Gong di depan Kedubes RRT Jakarta, Rabu 20 Juli 2016 (Erabaru.net)
Ilustrasi penindasan yang dialami oleh praktisi Falun Gong (Erabaru.net)
Ilustrasi penindasan yang dialami oleh praktisi Falun Gong (Erabaru.net)
Suasana persidangan terhadap Jiang Zemin yang dinyatakan bersalah karena menindas Falun Gong (Erabaru.net)
Suasana persidangan terhadap Jiang Zemin yang dinyatakan bersalah karena menindas Falun Gong (Erabaru.net)
Suasana praktisi Falun Gong di depan Kedubes RRT di Jakata, Rabu, 20 Juli 2016
Suasana praktisi Falun Gong di depan Kedubes RRT di Jakata, Rabu, 20 Juli 2016
Suasana kegiatan praktisi Falun Gong memperingati 17 tahun penindasan dan tuntutan hukum terhadap Jiang Zemin Rabu 20 Juli 2016 (Erabaru.net)
Suasana kegiatan praktisi Falun Gong memperingati 17 tahun penindasan dan tuntutan hukum terhadap Jiang Zemin Rabu 20 Juli 2016 (Erabaru.net)
Spanduk seruan dari IKOHI dan Imparsial (Erabaru.net)
Spanduk seruan dari IKOHI dan Imparsial (Erabaru.net)
Spanduk dukungan dari KRHN dan YLBHI
Spanduk dukungan dari KRHN dan YLBHI

Spanduk-20jul2016-3

Suasana aksi praktisi Falun Gong termasuk pejalan kaki yang memberikan petisi dukungan tanda tangan (Erabaru.net)
Suasana aksi praktisi Falun Gong termasuk pejalan kaki yang memberikan petisi dukungan tanda tangan (Erabaru.net)
Suasana seruan yang disampaikan oleh praktisi Falun Gong, perwakilan dari LBH Jakarta dan Ghure di depan Kedubes RRT Jakarta Rabu 20 Juli 2016 (Erabaru.net)
Suasana seruan yang disampaikan oleh praktisi Falun Gong, perwakilan dari LBH Jakarta dan Ghure di depan Kedubes RRT Jakarta Rabu 20 Juli 2016 (Erabaru.net)

Share

Video Popular