Oleh: Xia Xiaoqiang

Media massa ofisial RRT surat kabar “People’s Daily” pada 10 Juli 2016 lalu di halaman yang sama memuat tiga artikel sekaligus terkait masalah keagamaan di RRT yang sempat menarik sorotan berbagai kalangan luar. Tapi menilik lebih dalam alasannya, ketiga artikel ini merupakan tanggapan jarak jauh terhadap sebuah resolusi yang baru-baru ini diloloskan di Amerika Serikat.

13 Juni 2016 silam, Dewan Kongres AS meloloskan resolusi nomor 343 dengan suara bulat. Isinya menuntut agar Partai Komunis Tiongkok/ PKT segera menghentikan perampasan organ tubuh secara hidup-hidup termasuk terhadap para tawanan hati nurani praktisi Falun Gong, serta menuntut PKT agar segera menghentikan penindasan terhadap Falun Gong. Ini adalah pertama kalinya di tingkat kenegaraan, Dewan Kongres Amerika selaku institusi legislatif AS secara resmi memutuskan resolusi atas kejahatan perampasan organ tubuh secara hidup-hidup oleh PKT dan menuntut agar PKT menghentikan kejahatan tersebut.

Terkait dengan resolusi ini, kejahatan PKT merampas organ tubuh praktisi Falun Gong pun memicu sorotan berkelanjutan berbagai media massa dunia dan menimbulkan reaksi yang menggemparkan. Di satu sisi menimbulkan pukulan keras terhadap rezim PKT, di sisi lain juga memberikan momentum yang sangat baik bagi pemerintahan Xi Jinping dalam aksi pemberantasan korupsi terhadap kubu Jiang Zemin yang kian intensif dan memberikan peluang bagi Xi Jinping untuk menangkap Jiang Zemin.

Tiga artikel terkait masalah keagamaan yang dimuat media ofisial RRT yakni surat kabar “People’s Daily” ini, merupakan reaksi terhadap resolusi AS yang baru diloloskan ini serta tanggapan terhadap tekanan dan hantaman yang menjadi dampaknya. Judul dari ketiga artikel yang masing-masing ditulis oleh kalangan agama, kalangan teoritis, dan akademisi itu adalah “Proaktif Arahkan Penyesuaian Agama dengan Paham Sosialis”, “Agama di RRT Pertahankan Orientasi Bangsa”, dan “Kunci Proaktif Pengarahan Agama Terletak Pada Arah”.

Artikel pertama menyebutkan, “Kita harus mengingat, terhadap agama-kepercayaan tidak bisa menggunakan kekuatan administratif, tidak bisa ditumpas dengan cara pengganyangan,” juga disebutkan soal “harus memperhatikan masyarakat, menghormati pilihan bebas masyarakat, sehingga harus diterapkan kebijakan kebebasan beragama berkepercayaan secara tuntas.”

Pokok utama dari artikel kedua adalah, “Agama negara kita berorientasi pada bangsa” yakni menegaskan semangat “kebajikan dan pengampunan” dalam kebudayaan tradisional Tionghoa, serta menciptakan “multi-pass” budaya dan lingkungannya.

Di artikel ketiga disebutkan “proaktif arahkan”, yang sebenarnya berarti harus mengubah metode yang ada sebelumnya, serta “meningkatkan pembentukan kelompok agama” serta dengan mengubah struktur dan personel pengawasan yang terdahulu.

Ketiga artikel ini sebenarnya adalah kutipan dari pidato Xi Jinping pada Rapat Kinerja Keagamaan Tertinggi Nasional yang digelar April lalu. Xi Jinping memilih untuk melangsungkan rapat keagamaan tersebut pada momentum menjelang peringatan “Aksi 25 April” dimana praktisi Falun Gong mengajukan petisi ke Zhongnanhai (17 tahun silam), dan ditegaskan bahwa “masalah agama harus ditangani secara hukum. Hukum harus diberlakukan dalam mengawasi kinerja pemerintah untuk urusan agama, hukum harus digunakan untuk menyelaraskan berbagai hubungan sosial masyarakat yang terkait dengan agama.

Dalam pidato itu juga ditegaskan akan kebebasan beragama, dan dikemukakan pengembangan tradisi bangsa Tionghoa yang mulia ini dilakukan dengan kebersamaan, damai dan toleran untuk mengarahkan masyarakat beragama yang sangat luas. Pidato oleh Xi Jinping ini adalah koreksi terhadap kebijakan penindasan terhadap kelompok agama oleh Jiang Zemin, juga merupakan pembuka jalan untuk menyelesaikan masalah penindasan Falun Gong di kemudian hari.

Dari pidato Xi Jinping pada rapat keagamaan nasional sampai diterbitkannya ketiga artikel ini oleh media massa pemerintah hanya memakan waktu tiga bulan saja. Namun perubahan politik yang telah terjadi meliputi kekuatan pemberantasan terhadap kubu Jiang Zemin terus ditingkatkan oleh Xi Jinping.

Pada akhir Juni lalu “Peraturan Akuntabilitas Partai Komunis Tiongkok” dirilis, isinya menargetkan para oknum yang dituntut pertanggung jawabannya, merupakan “senjata pamungkas” yang khusus ditempa untuk menghabisi Jiang Zemin. Sasaran penumpasan “macan” oleh Xi Jinping diarahkan langsung terhadap Jiang Zemin beserta anggota Dewan Tetap Politbiro yang merupakan antek Jiang. Sebanyak 10 orang pejabat tinggi setingkat negara dari kubu Jiang telah dikabarkan dalam kesulitan. Jiang Zemin sendiri beserta putra sulungnya Jiang Mianheng juga dikabarkan telah dikenakan tahanan rumah.

Di balik pernyataan birokrasi RRT, masalah keagamaan di RRT sebenarnya telah berlangsung 17 tahun lamanya sejak kelompok Jiang Zemin melakukan penindasan terhadap Falun Gong. Selama 10 tahun Jiang Zemin berkuasa dan 10 tahun pengendaliannya dibalik layar, Jiang telah membentuk sistem politik dan ekonomi yang korup, khususnya penindasan terhadap Falun Gong telah menimbulkan bibit bencana bagi politik, ekonomi, dan moralitas masyarakat di Tiongkok, serta menjagal berbagai upaya Xi Jinping dalam menerapkan kebijakan masyarakat dan pemerintahannya. Mencegah agar krisis sosial masyarakat tidak sampai meledak, dan menyelesaikan masalah inti sosial masyarakat, kuncinya sesungguhnya terletak pada penyelesaian terhadap masalah Falun Gong.

Pada momentum krusial penumpasan kubu Jiang Zemin, menjelang Rapat Beidaihe, khususnya sebelum peringatan 17 tahun peristiwa penindasan Falun Gong oleh Jiang Zemin yakni pada 20 Juli 2016, media pemerintah gembar-gembor merilis artikel terkait masalah keagamaan.

Ini sudah bukan sekedar reaksi menanggapi resolusi yang diloloskan Dewan Kongres AS semata, tapi sudah merupakan ungkapan awal, sekaligus memberikan sinyal penting bagi internal partai maupun ke seluruh pelosok negeri yakni  tuntaskan Jiang Zemin dan setiap titik kelemahan Jiang. Sementara masalah perampasan organ tubuh telah dijadwalkan dalam agenda kerja.

Bisa diperkirakan, seiring dengan akan terjadinya perubahan besar dalam hal kebijakan keagamaan di Tiongkok, seiring dengan peristiwa besar yang akan terjadi, maka mesin jahat yang selama ini beroperasi menindas Falun Gong itu pun akan berhenti berputar. Semoga oknum-oknum pengikut kubu Jiang yang terlibat di dalam mekanisme penindasan itu segera sadar, lonceng peringatan sudah dibunyikan. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular