Sebelumnya pemerintah Inggris berencana mengenakan pajak atas makanan dan minuman yang mengandung gula. Hal ini untuk membantu menekan angka obesitas, khususnya pada anak-anak. Namun, penelitian terbaru menemukan, bahwa lemak adalah penyebab utama.

Dari hasil penelitiannya terhadap lebih dari 132 ribu partisipan di seantero Inggris, ahli dari Glasgow University menemukan, bahwa proporsi dari gula secara aktual sangatlah kecil sebagai faktor yang memicu obesitas. Faktor utama kelebihan berat badan atau obesitas orang dewasa di Inggris terletak pada lemak yang mereka konsumsi, bukan gula, demikian dilansir dari laman daily telegraph.co.uk.

Sebenarnya, dampak dari gula terhadap obesitas itu sangatlah kecil, jauh lebih rendah dampaknya terhadap orang kurus.

Sebagai catatan, penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dan dipublikasikan ini bukan karena didanai oleh industri gula. Para ilmuwan memperingatkan bahaya kampanye kesehatan masyarakat yang menyalahkan gula sebagai faktor yang menyebabkan kelebihan berat badan masyarakat Inggris ini. Menurut mereka, kekeliruan ini dapat menyebabkan krisis obesitas, yang membuat masyarakat keliru mengira bahwa gula adalah faktor utama pemicunya, sementara sebaliknya tidak masalah apabila banyak konsumsi makanan berlemak.

Masalah pokoknya adalah orang-orang perlu mengurangi asupan kalori secara keseluruhan. Jika hanya fokus pada pengurangan jumlah serapan gula, tapi makan lebih banyak keripik kentang sebagai gantinya, maka dipastikan tidak akan dapat melawan obesitas, kata profesor Jill Pell, pemimpim studi dari lembaga kesehatan dan kesejahteraan Inggris.

Mulai musim panas 2016 ini, kebijakan terkait obesitas yang telah lama ditunda Pemerintah Inggris, ini diperkirakan akan menindak barang konsumen berupa karbohidrat. Langkah-langkah ini mungkin termasuk pemungutan pajak minuman manis, seperti Coca-Cola, Pepsi-Cola dan sport drink Lucozade Energy.

The Cancer Research UK memperkirakan, jika Pemerintah Inggris mengenakan 20% pungutan pajak minuman manis, maka dalam satu dekade ke depan akan mencegah 3,7 juta orang menjadi obesitas. Dan sampai pada tahun 2025 mendatang, National Health Service atau jaminan kesehatan Inggris akan menghemat 10 juta pound per tahun (sekitar Rp. 172 miliar ).

Sementara itu, dalam sebuah studi lain dari UK Bio bank disebutkan, bahwa para ilmuwan telah menganalisis kebiasaan makan dari 132.479 laki-laki dan perempuan, termasuk data medis dan sampel jaringan tubuh. Mereka mengamati jumlah asupan makanan sehari-hari dari para relawan ini, dan hasilnya ditemukan dua pertiga dari laki-laki dan lebih dari separoh kaum perempuan itu kelebihan berat badan, serapan kalori harian dari relawan obesitas setidaknya 14% lebih dibanding relawan yang ideal (berat badan) ; tetapi asupan gula dari relawan yang obesitas itu adalah 22%, tidak berbeda jauh dengan 23,4% relawan yang berat badannya ideal.

Laporan penelitian ini sekaligus menjelaskan, bahwa secara keseluruhan, lemak adalah faktor terbesar pemicunya. Rasio asupan kalori dari makanan harian mereka yang obesitas itu jauh lebih tinggi dari mereka yang kurus, dan ini bukan rasio dari gula. Pesan yang disampaikan dari kesehatan masyarakat yang difokuskan pada gula ini, mungkin menyesatkan publik sehingga mengabaikan pengurangan asupan kalori. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular