Apa yang mau ditulis? Dan untuk siapa tulisan itu? Untuk anak, kakak? Atau kepada kakek? Kalau tujuannya beda, jelas cara bicaranya juga beda. Bicara dengan anak tentu berbeda dengan Kakek.

Bila dua hal ini sudah jelas, mau nulis apa dan untuk siapa, maka sudah lumayanlah untuk mulai menulis.

Contoh. Seorang tante ingin memberi nasehat kepda keponakannya, yang sering gegabah melakukan sesuatu tanpa dipikir dulu. Ia ambil contoh belalang, yang pagi-pagi sekali sudah bangun tidur dan langsung loncat…

Bagaimana mengatakannya? Ia pakai puisi bebas..

Jangkrik, Sumur di ladang dan Lele jumbo

Ketika embun pagi masih bergelayut
di ujung rumput

Si jangkrik menggeliat dari pulasnya,
lalu pegang tangannya, pegang kakinya

Lalu. Si jangkrik mulai loncat
Loncat. Loncat tinggi mengatasi rumput-rumput yang paling tinggi

Lalu meloncat jauh, jauh, jauh dan …

Woooo, plluung! Si jangkrik kecemplung

sumur di ladang

Kecipak kecipak gelagapan menggapai tepi.

Di dasar sumur yang gelap lele jumbo buka mata.

“Ini dia sarapan pagi aku!“ seringainya.

Sraaaaaap! Lele jumbo menyergap sigap

Waaaaa! Jangkrik teriak sambil menghindar

Wajahnya pucat pasi!

Lele jumbo ancang-ancang lagi

“Kali ini, kau tak mungkin lari lagi!“

Dalam paniknya, sekilas jangkrik melihat

sejulur akar menjuntai kebawah…

Ketika sekali lagi lele jumbo serrrggaaapp!

Jangkrik loncat mencekat ujung akar

Tergopoh memanjat, memanjat dan selamat!

Gemetar di rerumputan

Bibir mengucap: O, yang membuat langit,

rumput, jangkrik, dan lele bengis itu.

Terimakasih. aku masih hidup.

Ku kan ingat pesan embah jangkrik

„Cah bagus. Selalulah lihat dulu

sebelum kamu loncat, yo le!“

Bibir pucat si jangkrik menyeringai:

“Oke, mbah! Oke.”

Nah, dua hal paling penting dlm naskah adalah, apa yang dibicarakan, dan bagaiamana membicarakannya, misalnya kali ini dengan puisi, puisi bebas. Bila dua hal ini telah dikuasai, tiga perempat kerjaan telah selesailah.

Selamat menulis.  (Oleh Alex Sastro)

 

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular