Mantan Presiden Filipina Fidel V. Ramos baru-baru ini telah mengkonfirmasi bahwa dirinya bersedia menjadi utusan khusus Filipina untuk bernegosiasi dengan Tiongkok tentang masalah sengketa Laut Tiongkok Selatan.

Ramos yang kini berusia 88 tahun, antara 1992 – 1998 menjabat sebagai Presiden Filipina, dan ia pun membangun hubungan cukup dekat dengan pemerintah Tiongkok.

Pada Kamis (14/7/2017), Presiden Rodrigo Duterte yang pertama kalinya secara terbuka mengusulkan mantan presiden Ramos sebagai utusan khusus Filipina untuk membuka dialog dengan Tiongkok, meskipun pada saat itu, Ramos tidak memberikan jawaban yang jelas.

Namun 9 hari kemudian yakni pada Sabtu (23/7/2016), Ramos menegaskan kepada media bahwa ia bersedia menerima tugas yang dipercayakan Duterte kepadanya setelah dokter pribadi memastikan kesehatannya dan mendapat dukungan sang istri..

Dilaporkan bahwa sebelum menyatakan kesediaan, Ramos telah berbicara sekitar 2 jam dengan Duterte yang juga dihadiri oleh Penasihat Perdamaian Presiden Filipina, Penasihat Keamanan Nasional, Menteri Informasi dan pejabat senior lainnya. Namun presiden tidak mempublikasikan  isi pembicaraan dengan Ramos.

Ramos sebelumnya sudah pernah menegaskan bahwa perang bukan solusi untuk menyelesaikan masalah sengketa laut dengan Tiongkok. Sampai sekarang belum diketahui siapa saja yang akan dipercaya menjadi anggota dari delegasi yang  dipimpin Ramos.

Presiden Rodrigo Duterte berencana untuk mengadakan pertemuan Dewan Keamanan Nasional pada 27 Juli 2016 mendatang,  untuk menentukan arah kebijakan khusus tentang isu Laut Tiongkok Selatan.

Website Filipina berbahasa Mandarin ‘Shangbao’ memberitakan, Duterte dalam pidato pada Jumat lalu menyebutkan, “Kata Ramos, Jika dalam dialog nanti kita perlu menyisihkan keputusan mahkamah arbitrase itu tidak bermasalah.” Ambil contoh, “Kita berminat untuk membangun zona ekonomi dan membuka pasar bagi  hasil pertanian.”

Hakim senior Filipina menjelaskan bahwa negosiasi dengan pemerintah Tiongkok dapat dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama adalah melanjutkan dialog dalam kondisi yang tanpa syarat apa pun. Ini akan berarti bahwa Filipina tidak akan menyinggung soal putusan mahkamah arbitrase, dan Tiongkok juga harus bersedia  untuk tidak menyinggung soal ‘9 Garis Terputus.’ Namun dalam negosiasi formal, Filipina harus menyebut tentang putusan itu.

Filipina saat ini bergantung dengan minyak impor untuk mendukung operasi ekonominya. Reuters mengutip ucapan pejabat Filipina melaporkan bahwa Filipina butuh secepatnya memulihkan eksplorasi sumber daya minyak dan gas lepas pantai. Untuk itu perlu secepatnya mencapai kesepakatan tentang hal-hal yang relevan dengan pemerintah Tiongkok. Mungkin perlu menyisihkan masalah sengketa kedaulatan dan bersama-sama mengeksplorasi minyak dan gas alam yang berada di bawah Reed Bank, Laut Tiongkok Selatan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular