Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Hasil referendum membuat Inggris keluar dari Uni Eropa, menggemparkan dunia. Tapi menganalisa lebih cermat akan hubungan sebab akibat, letak geografis dan politik, kompleksitas sejarah serta kepentingan ekonomi, tak sulit mendapati Inggris di masa mendatang tidak lama lagi mungkin akan berubah pikiran, dan kembali bergabung dengan Uni Eropa.

Musim panas 2013 lalu penulis bersama seorang rekan profesor membawa beberapa mahasiswa untuk study tour ke Inggris dan Prancis. Selama di London, kami berkunjung ke University of Greenwich, bahkan sempat berdiskusi soal Inggris keluar dari Uni Eropa bersama dengan seorang dosen ekonomi dari perguruan tinggi tersebut serta seorang konsultan London, di sebuah restoran yang terletak di tepi Sungai Thames.

Menurut analisa pada saat itu, keluar dari Uni Eropa hanyalah suatu pemikiran yang gila, yang tidak akan mungkin terlaksana dengan kondisi Inggris pada saat itu. Terutama karena distrik finansial baru Inggris pada waktu itu dalam kekuasaan, jika tidak ingin kehilangan posisi sebagai pusat finansial internasional maka sebaiknya jangan keluar dari Uni Eropa. Tiga tahun telah berlalu, banyak hal telah berubah, perubahan yang cepat itu mengaburkan pandangan masyarakat, pemikiran gila pada waktu itu kini telah menjadi kenyataan.

Setelah referendum Brexit itu, PM Inggris David Cameron mengatakan, keluar dari Uni Eropa bukan berarti Inggris meninggalkan Uni Eropa, dan berharap dapat tetap menjalin hubungan erat dengan Uni Eropa. Bisa jadi ini hanya angan-angan Cameron semata, karena Inggris tidak bersedia mengemban kewajiban ekonomi di Uni Eropa, tidak mau menanggung masalah pengungsi, tapi juga tidak mau kehilangan pasar Uni Eropa.

Pemikiran egois yang hanya ingin mendapatkan tanpa mau kehilangan ini tidak akan diterima Uni Eropa. Cameron juga mengatakan keluar dari Uni Eropa juga tidak berarti putus hubungan dengan Eropa dan tetap berharap dapat berinteraksi secara aktif dengan Uni Eropa. Tapi keluar dari Uni Eropa adalah meninggalkan Eropa. Tidak ada ikatan pernikahan, tapi ingin mempertahankan keintiman bulan madu, sepertinya sangat sulit terlaksana.

Inggris berharap dalam hal perdagangan, kerjasama, dan keamanan tetap bekerjasama dengan Uni Eropa, ini masih memungkinkan. Tapi keeratan ikatan dagang dan kemudahan perdagangan, dipastikan tidak akan sama lagi seperti sebelum keluar dari Uni Eropa. Cameron mengatakan Inggris akan melakukan dialog lebih lanjut dengan Uni Eropa terkait kebebasan arus barang, pelayanan, keuangan, dan SDM. Kunci dari dialog tersebut juga terletak pada kebebasan arus SDM pasti terkait dengan masalah pengungsi dan imigran, dua negara Jerman dan Prancis yang sudah babak belur tidak akan mengalah pada Inggris dalam hal pengungsi.

Antara negara anggota Uni Eropa telah sepakat, Inggris harus mau menerima imigran Eropa untuk bisa tetap berdagang bebas dengan Uni Eropa. Mulai dari Sekjend Uni Eropa Donald Tusk sampai PM Jerman Angela Merkel, sepakat menyatakan Inggris harus menerima “kebebasan yang mengalir,” tidak bisa hanya memilih yang gemuk dan menyortir yang kurus. Brussels tidak bodoh, jika Inggris tidak membayar iuran keanggotaan dan dibiarkan tetap menikmati kemudahan sebagai anggota serta menikmati fasilitas di pasar bersama Eropa, maka negara anggota lainnya juga akan meniru. Hanya ada hak tanpa kewajiban, siapa yang tidak mau? Jika begitu halnya, lebih baik Uni Eropa dibubarkan.

Meskipun pemerintahan Merkel sangat low-profile, tidak menyatakan keinginan untuk menyatukan Eropa, membentuk pasukan sekutu Eropa, membangun negara super Eropa, namun Jerman yang sangat kuat dalam hal politik, ekonomi, militer, dan iptek, sangat membuat negara Eropa tetangganya bahkan Amerika Serikat was-was. Terutama ambisi Hitler dan dampak dari dua kali perang dunia masih segar dalam ingatan.

Sikap siaga Inggris terhadap Eropa Bersatu akan selalu ada selamanya, walaupun tidak mewaspadai Jerman, tapi tetap mewaspadai Prancis. Hanya jika Eropa tidak menjadi ancaman bagi Inggris, London baru bisa tidur nyenyak. Usulan dari Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Menlu Prancis Jean-Marc Ayrault yang mengajukan agar mempersatukan Uni Eropa lebih lanjut lewat rencana “Negara Eropa Super” dari tiga hal yakni keamanan, imigran, dan ekonomi, seluruh hak kendali atas militer, hukum, pajak, bank sentral, dan garis perbatasan negara anggota diserahkan pada Uni Eropa, tidak akan pernah diterima oleh Inggris.

Akan tetapi, keluar dari Uni Eropa akan membuat Inggris dihukum, dan membayar mahal karenanya. Meskipun keluar dari Uni Eropa bisa mendatangkan keuntungan nyata yang cepat dan jangka pendek, Inggris tidak perlu setiap tahun membayar iuran keanggotaan 13 milyar Pound Sterling (225 triliun rupiah). Tapi kerugian ekonomi jangka panjang adalah hal yang tidak dipertimbangkan oleh masyarakat yang ikut referendum. Itulah sebabnya hasil dari referendum antara yang menentang dan mendukung keluar dari Uni Eropa hanya selisih sedikit, itu pula alasan warga London tidak rela meninggalkan Uni Eropa.

Jika Pound Sterling melemah, maka posisinya sebagai mata uang cadangan juga akan hilang, pasar finansial akan kacau, London akan kehilangan posisi sebagai pusat finansial, institut pemeringkat kredibilitas dunia akan menurunkan predikat Inggris dari AAA yang tertinggi, harga yang harus dibayar yang tak terlihat ini perlahan akan menjadi kerugian nyata.

Setelah referendum, seorang penulis Inggris yang dijuluki “British Wit” yakni Alain De Botton berpendapat, orang Inggris kali ini berpikir sangat tidak rasional, terperangkap dalam kegilaan masal ibarat iblis, tenggelam di dalam mimpi Uthopia, dan di masyarakat muncul gejala kemerosotan secara massal.

Faktanya adalah, yang benar-benar kehilangan akal sehatnya adalah kalangan politisi Inggris, merekalah yang sejak awal mengemukakan pendapat untuk keluar dari Uni Eropa. Kesalahan terbesar pemerintah Inggris adalah terlalu dekat dengan Beijing dan berdansa dengan serigala, menari dengan pemimpin rezim sesat tersebut. Ketika nasib suatu negara sedang sial, minum air pun bisa tersedak.

Dalam pertandingan sepak bola Piala Eropa, Inggris dikalahkan oleh Islandia yang hanya berpenduduk 330.000 jiwa, media massa Inggris menyebut kekalahan ini sebagai “aib terparah Inggris”. Kekalahan di bidang olahraga bukan hal berarti, tidak perlu dipermasalahkan. Aib terbesar Inggris adalah berdansa dengan serigala, menari dengan kaum sesat.

Pemerintah Inggris mendukung PKT bahkan mengkhianati sekutunya Eropa dan AS, segala aksi PKT diikuti sepenuhnya, mulai dari mendukung upaya PKT menentang Kamar Dagang Bank Dunia dengan AIIB, sampai menentang negara-negara Eropa dengan mendukung PKT mengakui “posisi negara ekonomi pasar.” Selama ini PKT selalu memanfaatkan Inggris sebagai batu loncatan ke pasar Eropa, dan Inggris pun begitu rela menjadi batu loncatan bagi PKT sampai-sampai mengorbankan prinsip dan sikap.

Ketika demam Brexit berlalu, dan kerugian ekonomi mulai membengkak, impian untuk menikmati berbagai kemudahan tanpa menjadi anggota Uni Eropa akan sirna, pada saat itu kekuatan untuk bergabung lagi dengan Uni Eropa akan terhimpun. Referendum kali ini ada 3,5 juta warga menyesal dan menginginkan referendum ulang, itu berarti kekuatan untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa masih besar. Meskipun sangat kecil akan diadakan referendum ulang, tapi jika pemerintahan baru Partai Buruh telah berkuasa, maka peluang Inggris kembali bergabung dengan Uni Eropa akan meningkat.

Jerman dan Prancis kini masih berdampingan dengan damai, tapi hubungan kepentingan kedua negara mungkin berubah, ketika Prancis menyadari Jerman unggul dan mengendalikan Uni Eropa, Prancis akan berupaya keras menarik Inggris kembali ke Uni Eropa untuk mengimbangi kekuatan Jerman. Terhadap keluarnya Inggris, Merkel jelas merasa kesal, baik Prancis maupun Jerman agar Brexit dapat secepatnya terealisasi. Jerman bahkan menyatakan, jika sudah keluar maka tidak ada lagi fasilitas anggota, berarti tidak ada lagi kemudahan apa pun.

Bisa ditebak, negosiasi Inggris pasca Brexit pasti akan mengalami banyak kendala, Inggris mungkin tidak akan bisa mendapatkan apa pun, dan keluar dengan tangan hampa. Oleh karena itu juga kembali ke Uni Eropa akan menjadi semakin menarik. Pasar Eropa begitu besar, pasar sejumlah 500 juta jiwa ini juga begitu dekat dengan Inggris, yang bisa dicapai hanya dengan menjulurkan tangan. Selama berabad-abad orang Inggris selalu memiliki ambisi daratan besar dan mental kepulauan, produk kebutuhan sehari-hari London, mulai dari makanan sampai barang, tidak ada yang bisa terlepas dari Eropa.

Ketika akal sehat muncul kembali, dan kepentingan menjadi semakin mencolok, Inggris pasti akan menyadari betapa pentingnya untuk kembali. Tapi kapan Inggris akan memohon untuk masuk kembali ke Uni Eropa?

Dua yang paling memungkinkan, paling cepat tahun 2017, paling lambat tahun 2018. Pada 2017 adalah waktu dimana banyak orang memprediksi Partai Komunis Tiongkok/ PKT akan runtuh. Setelah PKT runtuh, Inggris akan menyadari alasan yang mengakibatkan kesialan mereka dan kemudian tersadar, maka nasib Inggris akan berubah.

Jika negosiasi keluar dari Eropa berlanjut hingga 2018, dan persyaratan tidak disepakati, suara dari dalam negeri Inggris untuk tetap di Uni Eropa akan semakin kuat, pemerintah Inggris mungkin akan membatalkan permohonan Brexit, atau kembali mengajukan permohonan untuk pada akhirnya kembali ke pangkuan Uni Eropa. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular