Oleh: Sun Yun

Baru-baru ini terjadi banjir besar yang berlangsung hampir seminggu di 90 desa di kota Tianmen provinsi Hubei, Tiongkok. Banjir besar menerjang dari atas ke bawah. Pemerintah setempat kewalahan menolong, ratusan ribu warga yang terjebak banjir.

Media dan dunia luar tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap bencana ini. Penduduk desa memposting di microblogging meminta bantuan. Menurut penduduk desa, pembukaan tanggul untuk mendistribusikan banjir di kota Tianmen tanpa pemberitahuan sebelumnya, sebagian besar penduduk desa tidak pindah, banjir buatan manusia sekejap terjadi.

Pembukaan pintu air di kota Tianmen untuk pengalihan banjir tanpa pemberitahuan sebelumnya, masyarakat setempat marah besar

Menurut laporan media resmi Tiongkok, Sabtu (23/7/2016)  pada malam 20 Juli 2016, pemerintah kota Tianmen membuka pintu air mengalihkan banjir. 3 pintu air dibuka di danau Longgu, Dongbai dan Xiao Yan dan juga membuka pintu air di hilir sungai, hingga menyebabkan 680 ribu penduduk kota kena dampak banjir. 10 desa terendam dan kebanjiran. Sekitar 250.000 orang terjebak.

Penduduk desa setempat Mr. Liu mengatakan kepada reporter The Epoch Times bahwa pemerintah daerah memblokir informasi, dia pernah mengupload gambar di situs web tentang pintu tanggul dibuka, tapi dengan cepat dihapus. Ia berkata dengan marah, “Sekarang banyak data yang diterbitkan oleh media menyusut, dampak bencana jauh melebihi dari yang diumumkan oleh Pemerintah.”

Liu juga mengungkapkan bahwa hampir semua desa utara kota kena banjir, 90 desa kena dampaknya.

Masih ada penduduk desa lainnya juga mengatakan bahwa banjir di Hubei sampai ke Tianmen. Anehnya penduduk di Tianmen tidak tahu menahu. Sekarang pintu air di hilir sungai telah ditutup, alasannya banjir secara perlahan akan surut kembali, dengan demikian kota Wuhan diselamatkan, sehingga tidak ada yang akan tahu Hubei kebanjiran. Jadi secara diam-diam banjir mengalir ke Tianmen, tidak memperhatikan kesiapan makanan, tanpa memberitahukan memindahkan harta, hidup terancam juga ga ada yang peduli.

Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)

Mr. Huang Tan di desa itu, mengatakan bahwa pada malam Rabu (20/7/2016) banjir datang. Saat itu ketinggian air selutut. Sehari kemudian  air sudah naik sampai sepinggang orang dewasa. Pada Jumat (22/7/2016) Mr. Hu menyelamatkan diri dari banjir, air sudah naik sedada. Dia menggunakan perahu karet rumah mainan anak-anak untuk menyelamatkan diri.

Ketika Mr. Hu terjebak banjir di rumah, dia menulis surat untuk minta bantuan. Dia mengupload foto-foto di web, dengan harapan  orang yang baik hati mengantar makanan dan air ke sekitar rumahnya, ketika itu anaknya masih sakit.

“Penduduk desa tidak menerima pemberitahuan terlebih dahulu akan ada banjir, setelah banjir warga desa mengumpulkan anak-anak muda memindahkan barang, saat itu tidak terlihat seorang pejabat desa pun, telpon ke aparat desa dan pemerintah kota juga tidak bisa sambung,” kata Mr. Hu.

Langit cerah terkena banjir, setelah satu minggu masih terjebak

Hu juga mengatakan kepada wartawan, desa Huang Tan 70 persen terendam, dan ketika banjir datang tidak ada hujan.

“Ketika air naik sama sekali tidak ada hujan, langit cerah malah banjir, tidak ada pemberitahuan, pada dasarnya air naik sepanjang malam, siang hari tidak naik, langit cerah banjir, langit tidak cerah tidak banjir,” katanya.

Walaupun banjir di kota Tianmen telah seminggu, namun banjir belum surut,  tetap tinggi. Mr. Hu masih terjebak. Dari penduduk desa dia mendapat informasi tinggi permukaan air 1,5 meter, penduduk desa hanya melihat sebuah sekoci penyelamatan pemerintah memasuki desa melakukan penyelamatan.

Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjiri. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjiri. (internet)

Liu juga mengatakan kepada wartawan bahwa ratusan ribu orang kena banjir, pemerintah daerah hanya mengirim sekitar 400-anggota tim penyelamat. Petugas penyelamat setelah datang ke daerah bencana tidak melakukan penyelamatan. Mereka berdiri mengobrol, saat ketemu wartawan baru pura-pura melakukan penyelamatan.

Mr. Huang di desa Huang Tsui juga mengatakan kepada wartawan, sebuah desa yang berada di dataran tinggi memiliki lebih dari 150 warga terperangkap. Pasokan bantuan sangat kurang, hanya sebotol air per orang per hari dan setengah kilogram beras. Korban minta bantuan penyelamatan, pejabat mengatakan, “Jangan menambah masalah.”

Mrs. Choi di peternakan danau Wuli Kota Chiang mengatakan kepada wartawan bahwa peternakannya mengalami banjir pada malam Rabu ( 20/7/2016). Saat  itu tidak hujan. Ia dan para penduduk desa masih bersama-sama menguatkan bendungan kolam ikan, tidak diduga tiba-tiba banjir datang di malam hari, seluruh lahan peternakan kena banjir.

Mrs. Choi bersama suaminya seminggu tidur di tempat terbuka di pinggir jalan, yang menemani mereka ada 30 ekor sapi yang berhasil diselamatkan. Mrs. Choi mengatakan bahwa saat itu hanya menerima pasokan bantuan satu dos mie instan, beberapa botol air dari pemerintah daerah, tiga kali sehari hampir semua bergantung pada penduduk desa untuk saling membantu, ke rumah warga untuk makan.

Selama kena bencana, dia beberapa kali telpon ke instansi terkait untuk meminta bantuan, hasilnya tak ada yang peduli, sekretaris partai melemparkan kata-kata padanya, “Jangan menambah masalah.”

Kerugian penduduk desa parah, mau nangis juga ga ada air mata

Sampai saat ini pemerintah daerah belum melaporkan kerugian atau korban apapun,  tidak hanya ada korban jiwa pada penduduk desa, kerusakan materi warga desa juga sangat berat.

Mrs. Choi sambil menangis mengatakan kepada wartawan pengalaman bencananya. Pada Rabu (20/7/2016), pukul 20:00 waktu setempat, ia mendengar ada suara air di luar. Begitu keluar dia melihat banjir meruntuhkan dinding pagar rumahnya. Kurang dari beberapa menit air sudah naik setinggi lutut, dan ketinggian air terus meningkat. Kedalaman air akhirnya mencapai hampir dua meter, dia membawa tas tangannya bersama suaminya bergegas keluar dari kamar.

Dia memegang tangan suaminya erat-erat berdiri di dalam air. Ini adalah pertama kali ia mengalami ketakutan dan keinginan untuk bertahan hidup. Tubuh dipenuhi dengan serangga, ia tidak berani melepaskan genggaman tangan suaminya, takut hanyut .

Dia mengatakan, sebuah perahu kecil keluarga mereka, telah menyelamatkan nyawa mereka, dan akhirnya melarikan diri ke pinggir jalan. Harta mereka hanya tinggal 30 ekor sapi, 30 ekor sapi ini juga diselamatkan dengan bantuan teman-teman dan keluarga. Dia dan suami telah tidur di pinggir jalan menemani ternak ini selama seminggu.

Menurut Mrs. Choi, kerugiannya sekitar empat ratus ribu Yuan, sangat parah, ikan di kolam semua hanyut, lima ekor ayam semua mati, masih ada lagi pakan ternak, pakan ikan dan sekitar tiga puluh ribu kilo gandum, serta mesin potong rumput yang digunakan dalam peternakannya, mesin pembungkus, pengikat,  forklift dan semua terendam dalam air.

Mrs. Choi adalah pensiunan guru, sejak 2012 ia bersama suaminya kembali ke kampungnya mendirikan peternakan. Setelah beberapa tahun kerja keras mulai terbentuk, namun setelah bencana ini usahanya habis semua.

Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)
Tanggul di kota Tianmen propinsi Hubei Tiongkok dibuka hingga menciptakan bencana buatan manusia, hampir 90 desa terendam dan ratusan ribu warga terjebak. Gambar menunjukkan desa-desa yang terkena banjir, ratusan babi hanyut mati. (internet)

Korban: Pengalihan banjir mengapa tidak memberitahu?

Mrs. Choi berkata dengan marah, “Pengalihan banjir mengapa tidak ada pemberitahuan, biar kita bisa pindah, agar meminimalkan kerugian, sekarang ini utang kita sendiri menumpuk, peternakan secara perlahan diakumulasi, usaha kita baru saja mulai berbentuk, dan sekarang kena bencana ini, saya sudah berpikir ingin mati saja. ”

Mr. Lee di peternakan ikan kota Hu juga mengatakan kepada wartawan bahwa tambak ikannya seluas 5 hektare semua ludes, kerugian mencapat lima ratus ribu Yuan.

“Sama sekali tidak memberitahu kami agar pindah, kolam kena banjir, sungguh sengsara, sekarang saya tidak punya apa-apa, tidak ada kemampuan untuk bertahan hidup,” katanya dengan getir.

Lee mengatakan pemerintah harus bertanggung jawab atas bencana ini. Semua penduduk desa yang terkena dampak banjir harus mendapat kompensasi. (lim/rmat)

 

Share

Video Popular