Oleh Xu Jialin

Kim Jong-un terus menganggap masyarakat Barat merupakan ancaman bagi kekuasaannya. Karena itu ia berusaha menghalangi informasi yang berkaitan dengan demokrasi Barat masuk ke negaranya, khususnya yang menyangkut fakta demokrasi yang terjadi di AS. Bagian dari buku baru yang ditulis oleh seorang misionaris AS yang pernah ditahan di Korea Utara mengungkapkan hal ini.

Kenneth Bae, sang misionaris AS yang dituduh Kim Jong-un melakukan percobaan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah Korea Utara, telah menjalani hukuman penjara selama 735 hari di Korut. Ia baru dibebaskan pada akhir 2014 setelah Direktur Intelijen Nasional AS James Clapper terbang ke Korut untuk berunding dengan pemerintah Korut.

Dalam buku baru Kenneth Bae yang berjudul ‘Tak Terlupakan: Kisah Nyata Saya dalam Penjara di Korea Utara’ (Not Forgotten: The True Story of My Imprisonment in North Korea), ia selain membicarakan pengalaman ketika disiksa dalam penjara, juga mengungkapkan sejumlah fakta tentang bagaimana Kim Jong-un membohongi rakyatnya.

‘Business Insider’ pada 25 Juli 2016 memberitakan bahwa selama lebih dari 2 tahun Bae dipenjara rezim Pyongyang, ia harus melakukan pekerjaan kasar selama 8 jam sehari yang diawasi secara ketat oleh 30 orang sipir. Ia menjelaskan bahwa para sipir itu sering datang untuk bertanya-tanya tentang kehidupan rakyat AS, antara lain berapa harga rumah di AS? Apakah semua warga AS memiliki tempat tinggal dan kendaraan sendiri?

Kenneth Bae mengatakan, obrolan antara ia dengan sipir selama dalam tahanan menjadi kesempatan bagi masing-masing pihak untuk saling mendalami gaya kehidupan yang memang cukup kontras perbedaannya.

“Awalnya, obrolan berjalan kurang lancar, namun beruntung saya juga bisa berbicara sedikit bahasa Korea, sehingga masih bisa menangkap isi pembicaraan. Mengutip laporan media Korut mereka mengatakan bahwa hanya 1% dari jumlah penduduk AS yang kaya, sedangkan 99 % lainnya itu kaum miskin. Mereka tidak memiliki tempat tinggal dan kendaraan sendiri. Karena itu, mereka penasaran dan bertanya,” kata Bae.

Bae kemudian menjelaskan bahwa berita yang mereka peroleh tentang kehidupan warga AS dari media itu sama sekali tidak benar. Mereka juga ingin mengetahui, berapa biaya hidup satu bulan di AS untuk satu keluarga yang terdiri dari 4 anggota?

Bae mengatakan bahwa kebanyakan warga AS memiliki rumah dan mobilnya sendiri. Tetapi mereka justru balik bertanya,  “Apakah itu benar?”

Dalam bukunya itu Bae membeberkan pengalamannya selama di tahan. Ia pernah keluar masuk rumah sakit sampai beberapa kali. Berat badannya susut sebanyak 60 pon (+/-30 kg). Makanan yang diterima jauh di bawah konsumsi fisik. Meskipun dalam kondisi seperti ini, katanya mengutip ucapan para sipir bahwa sebagai orang asing ia sudah dilayani jauh lebih baik daripada warga Korut yang dipenjara.

Mengingat penduduk yang tinggal di daerah sekitar kamp kerja paksa, mereka harus berjalan kaki sejauh 3 – 4 mil setiap harinya untuk pergi ke tempat kerja, Bae mengatakan, “Ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.” (sinatra/rmat)

Share

Video Popular