Seorang pria Prancis hanya memiliki 10% dari otak manusia normal pada umumnya, namun, ia tetap bisa hidup normal, menikah dan memiliki anak. Kasus penyakit ini tampaknya menggulingkan pengetahuan dasar ilmu kedokteran, sehingga mendorong para ilmuwan untuk merenungkan kembali sumber dari pemikiran dan kesadaran otak manusia.

Melansir laman Science Alert, pria asal Perancis yang hanya memiliki 10% dari otak normal manusia pada umumnya ini menuturkan bahwa pemahaman atas kesadaran dan pemikirannya sekarang sangat dangkal.

Selama beberapa dekade, pemahaman kita atas kesadaran itu hanya sebatas di otak, karena otak adalah dasar dari kesadaran, tidak ada kesadaran jika tidak ada otak, dan volume otak yang kecil tidak akan bisa memiliki pemikiran serta kesadaran yang normal.

Penyakit terkait ini sebelumnya pernah dipublikasikan tahun 2007 lalu di jurnal “The Lancet,” namun, hingga detik ini para ahli saraf tak dapat menjelaskan bagaimana otak pria ini dapat berfungsi sebagaimana mestinya, padahal bagian otak vital mengalami tekanan selama bertahun-tahun.

Pria yang kini berusia 53 ini (nama bersangkutan tidak disebut karena alasan privasi), sang pasien tidak menunjukkan tanda-tanda abnormal sebelum menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Alasannya ke dokter karena ia merasa kaki kirinya agak lemah tak bertenaga, sementara hasil pemeriksaan membuat dokter yang menanganinya terkejut,  hampir segenap otaknya itu dipenuhi dengan cairan serebrospinal, sementara korteks serebri-nya sangat kecil.

Dokter mendiagnosisnya menderita hidrosefalus berat bawaan sejak lahir. Namun, yang membingungkan para dokter, hidrosefalus dengan taraf seperti ini pada dasarnya tidak dapat bertahan hidup. Sementara menurut konsep dari fungsi korteks serebri itu sendiri, pria ini bisa dikategorikan sebagai manusia yang tidak memiliki kesadaran karena kurangnya korteks itu, dan mustahil bisa menjalani kehidupan normal sehari-hari. Namun, faktanya pria Prancis ini sehat-sehat saja dan bisa hidup normal, menikah dan sekarang memiliki dua anak.

“Pria ini menjalani kehidupan normal sehari-hari seperti orang kebanyakan, punya keluarga (isteri dan anak) dan pekerjaan tetap. Meskipun nilai IQ-nya hanya 84, sedikit lebih rendah dari tingkat standar, menunjukkan bahwa pria ini bukan sosok orang yang pintar, tapi punya kemampuan interaksi sosial yang sempurna,” kata Axel Cleeremans, pakar psikologi kognitif di Universite Libre de Bruxelles, Belgia.

Meskipun memiliki kekurangan, namun, ayah dua anak itu tetap mampu menjalankan profesinya sebagai pegawai sipil. Tak terlihat tanda-tanda masalah lain akibat penyusutan otaknya, selain tingkat IQ yang di bawah rata-rata, tapi bukan terbelakang mental. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular