Erabaru.net. Karena perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat modern, sehingga masalah kolesterol tinggi dan hyperlipemia dewasa ini semakin umum terjadi, sementara mereka yang mengonsumsi obat penurun hiperlipidemia (suatu kondisi dimana kadar lipid darah melebihi kadar normalnya) kini semakin banyak. Tapi obat penurun lemak dalam darah ‘statin’, yang diduga dapat menyebabkan efek buruk pada miopati itu justru jauh lebih mudah diabaikan, dan akan menyebabkan konsekuensi serius jika tidak segera ditangani.

Obat digunakan untuk mengobati penyakit, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit. Karena fisik setiap orang itu tidak sama, jadi sangat sulit untuk mengetahui secara persis timbulnya reaksi yang tidak sama pada setiap orang meski di bawah dosis dan obat yang sama, dan reaksi-reaksi yang tidak nyaman ini, ada yang menyebutnya alergi obat, efek samping obat atau bahkan saking seriusnya hingga pada taraf yang fatal. Miopati (penyakit otot dimana serabut otot tidak dapat berfungsi normal, akibatnya otot mengalami kelemahan atau kelumpuhan, atau terjadi sebaliknya, otot mengalami kekakuan, kram, atau tegang) yang disebabkan oleh obat merupakan suatu reaksi yang buruk dari obat.

Contoh kasus : Mereka yang berusia setengah baya dengan tinggi kolesterol yang berlebihan.

Karena kolestrol yang berlebihan, baru-baru ini seorang eksekutif paruh baya berusia 45 tahun mengonsumsi obat penurun kolesterol, sebulan kemudian, ia ke dokter untuk menjalani pemeriksaan karena kerap merasakan sakit kepala di sisi kanan dan otot leher. Satu bulan kemudian setelah disarankan untuk sementara menghentikan minum obat penurun kolesterol (lemak darah), akhirnya nyeri otot yang dirasakannya pun lenyap.

Contoh kasus kedua : Penderita diabetes tipe 2.

Seorang pria usia 65 tahun bernama Romy (samaran), memiliki riwayat penyakit diabetes, kolesterolnya 340mg/dL, dan trigliserida 508mg / dL setelah tes biokimia, ia minum obat penurun kolesterol atorvastatin 20 mg sekali sehari. Namun, sekitar 2 minggu kemudian, timbul gejala burnout (sindrom di mana seseorang merasa kecewa, lelah dan tidak tertarik lagi dengan pekerjaan, keadaan yang tidak menentu dan dipenuhi oleh rasa jenuh), jumlah urine menurun, dan tiga hari kemudian, tidak bisa berjalan, lalu dilarikan ke rumah sakit. Hingga akhirnya didiagnosis sebagai rhabdomyolysis dan gagal ginjal akut, namun, kondisinya membaik setelah menjalani proses cuci ginjal dan hemodialisis.

Dua contoh kasus terkait mengalami miopati akibat konsumsi obat statins. Untuk contoh kasus pertama hanya nyeri otot, dan gejalanya akan hilang setelah penghentian obat. Sementara untuk contoh kasus kedua, terjadi reaksi atau efek samping yang parah akibat rhabdomyolysis dan gagal ginjal akut.

Gejala miopati yang tipikal

Keluhan pasien : Lemah dan nyeri otot, sementara lemahnya otot bagian ujung serta anggota badan bagian atas dan bawah merupakan salah satu ciri utama dari gejala terkait, lemahnya otot bahkan melebihi tingkat atrofi otot.

Klasifikasi miopati

Miopati dapat dibagi menjadi tiga jenis yakni myalgia (nyeri otot), myositis (peradangan otot rangka) rhabdomyolysis (kerusakan otot).

Obat yang menyebabkan miopati

Obat umum yang kerap memicu timbulnya miopati itu termasuk antibiotik, obat anti-kanker, obat tukak lambung, antivirus, steroid , obat penurun kolestrol, antivirus, antimycotics, obat anti-tiroid, obat antihipertensi dan sejenisnya. Tingkat kejadian sebanding dengan dosis, yakni semakin besar jumlah penggunaan makin rawan terjadi.

Di antaranya adalah obat jenis steroid yang paling sering memicu timbulnya miopati, yang disebut miopati steroid.

Waktu terjadinya miopati setelah minum obat

Waktu terjadinya miopati dalam waktu sekitar satu minggu – empat tahun setelah minum obat. Saat demikian rasanya akan lebih kentara setelah olahraga, namun, sebagian besar dapat dikurangi setelah penghentian obat sekitar satu minggu – empat bulan kemudian.

Obat dan racun : seperti dua sisi mata pisau

Obat yang memicu terjadinya miopati itu biasanya tanpa disadari, secara klinis mungkin akan terjadi beberapa hari hingga beberapa bulan setelah penggunaan obat-obatan, jika dapat mengetahui sebabya, maka kondisi yang parah niscaya dapat dihindari.

Apabila benar-benar terjadi “rhabdomyolysis” (kerusakan otot yang berbahaya), biasanya harus diberikan banyak cairan dalam pengobatan, meng alkalisasi urin, dan penggunaan diuretik (obat untuk menambah kecepatan pembentukan urin), yang bertujuan untuk mengurangi myosin yang dapat merusak ginjal.

Setiap jenis obat pengobatan itu seperti air yang dapat membawa dan membalikkan perahu, obat atau racun itu bagaikan menguji kecerdasan para dokter, sebisa mungkin mengikuti prinsip “kurangi penggunaan/konsumsi obat”. Jika memang terpaksa harus menggunakan obat sebaiknya ikuti saran dan nasihat dari dokter. Sebenarnya, apabila menderita gejala penyakit seperti gout (asam urat), kolesterol tinggi, hipertensi, gula darah tinggi dan penyakit peradaban lainnya, dimana selama Anda sedikit mengubah kebiasaan pola makan sehari-hari, maka penyakit itu bisa “sembuh tanpa obat”, dan ingatlah bahwa penggunaan obat itu bukan satu-satunya pilihan. (Epochtimes/dr. Lin Xu Hua/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular