JAKARTA – Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian mengatakan kasus amuk oleh sejumlah oknum massa di Tanjungbalai, Sumatera Utara bisa direndam jika tak ada provokasi secara meluas oleh pengguna medsos yang tak bijak. Menurut Kapolri persoalan di Tanjungbalai hanya bermula soal cekcok  antar tetangga. Hal demikian disampaikan Kapolri usai meninjau langsung ke Sumatera Utara, Sabtu (30/7/2016).

“Masalahnya di media sosial, ada oknum yang menyebarkan berita provokatif dan negatif hingga membuat  warga bereaksi,” kata Tito di bandara Halimperdana Kusumah, Jakarta, Minggu (31/7/2016).

Menurut Kapolri, pengggunaan media sosial sangat mudah untuk berkembang secara luas, apalagi jika dilihat kondisi masyarakat yang sangat mudah diprovokasi. Walaupun demikian, tentunya ada persoalan lain seperti kesenjangan ekonomi di Tanjungbalai. Akan tetapi, ujar Tito, faktor kesenjangan merupakan satu faktor dari sejumlah akar persoalan. Sedangkan faktor utamanya adalah penggunaan media sosial tak bijak hingga menyulut amarah oknum warga.

Jenderal Tito menuturkan persoalan Tanjungbalai bermula dari cekcok antar tetangga yang merasa tak nyaman dengan suara pengeras suara yang dianggap terlalu keras karena bervolume tinggi. Akan tetapi protes antar tetangga tersebut tak berujung pada kekerasan. Selanjutnya dilakukan mediasi antar kedua belah pihak di kantor kelurahan setempat.

Namun demikian terjadi peristiwa lain atas isu yang berkembang di media sosial. Ketika isu yang tak bertanggungjawab ini menyebar di medsos, pada saat itu sedang dilakukan mediasi antar keduabelah pihak, hingga akhirnya massa tak terkendali selanjunya melakukan pengrusakan terhadap sejumlah kelenteng dan vihara.

Oleh karena itu, Kapolri menuturkan akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengatasi penyebaran kabar-kabar provokatif di media sosial seperti di Twitter, Facebook dan lainnya. Kapolri juga berharap kepada netizen untuk bijak menggunakan media sosial.

Atas kasus amuk massa di kota kerang Tanjungbalai, pihak kepolisian sudah menetapkan 17 tersangka. Mereka dijerat dengan hukum atas perlakuan pencurian dan pengrusakan saat terjadi kerusuhan di Tanjungbalai.

Awal permasalahan dari adanya permintaan seorang warga Tionghoa, M (41), warga Jalan Karya Tanjungbalai Balai yang menegur nazir Masjid Al Makhsum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid, di mana menurut nazir masjid bahwa hal tersebut telah diungkapkan beberapa kali. Selanjutnya Jumat (29/7/2016) dilakukan mediasi di Polsek Tanjungbalai Selatan.

Setibanya di Polsek lalu dilakukan pertemuan dengan melibatkan Ketua MUI, Ketua FPI, camat, kepling dan tokoh masyarakat setempat. Pada saat bersamaan massa mulai banyak berkumpul yang dipimpin kelompok elemen mahasiswa dan melakukan orasi. Selanjutnya massa yang diimbau sempat membubarkan diri. Pukul 22.30 WIB massa kembali berkumpul karena diduga telah mendapat informasi melalui media sosial yang diposting salah seorang warga.

Massa sudah semakin banyak dan semakin emosi, selanjutnya bergerak ke Vihara Juanda yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Upaya pembakaran dihadang personel Polres Tanjungbalai, namun terjadi pelemparan menggunakan batu sehingga vihara mengalami kerusakan. Massa kemudian bergerak ke Jalan lain yang terdapat sejumlah vihara dan kelenteng. Massa kemudian melakukan pembakaran dan pengrusakan, termasuk sejumlah mobil dan kenderaan yang ada lokasi tersebut. (asr)

Share

Video Popular