Oleh: Zhou Xiaohui

24 Juli 2016, situs berita Financial News Network (財新網) yang pro kubu Xi Jinping memuat artikel berjudul “Inspirasi dari Mitos Air Bah” (selanjutnya disebut “Air Bah”).

Penulisnya bernama Mi Qin. Sebelumnya penulis pernah menganalisa, artikel yang dimuat pada rubrik “Pencerahan dari Karya Klasik” oleh Financial News Network selalu erat kaitannya dengan situasi politik pemerintahan saat ini, yakni dengan mengambil sebuah cerita untuk mengisyaratkan keadaan yang sedang terjadi untuk menyampaikan informasi tertentu, seperti sangkalan terhadap “Matahari Mao,” penyangkalan terhadap Revolusi Kebudayaan dan lain-lain, serta artikel “Air Bah” ini juga menyiratkan hal yang sama.

Pembukaan artikel menyebutkan “Air Bah mencapai langit, air terus menerus pasang, tiada henti. Mitos tentang air bah memusnahkan dunia dan manusia terlahir kembali menyebar ke seluruh dunia. Namun, makna utama mitos air bah tidak terletak pada tingkat kebenaran bencana tersebut, melainkan penjelasan terhadap bencana itu.”

Kemudian artikel itu menyebutkan tiga penjelasan mengenai “Mitos air bah” dan “bencana air bah.”

Penjelasan pertama adalah cerita Bahtera Nuh yang tercatat dalam “Kitab Perjanjian Lama.” Menurut catatan, penyebab terjadinya air bah adalah dosa manusia, “Tuhan melihat manusia ciptaanNya semakin lama menjadi semakin tidak bermoral, pembunuhan merajalela, perebutan dan perampasan, penuh kekerasan dan perilaku jahat, sehingga Tuhan merasa sedih dan menyesal telah menciptakan manusia.

Akhirnya Tuhan memutuskan mengirimkan air bah untuk memusnahkan manusia. Sementara Nabi Nuh dan keluarganya diselamatkan karena Nabi Nuh adalah manusia yang lurus dan sempurna, serta mendidik putra putrinya menjadi orang baik.

Dalam hal ini, pertobatan moral dan introspeksi sifat manusia adalah manusia telah membiarkan sifat tamaknya merajalela, mengejar materi tanpa kenal batas, akhirnya mendapat balasan dari alam semesta dan mengalami pemusnahan massal.

Cerita lainnya berjudul “Metamorphosis” karya sastrawan Romawi kuno bernama Ovidius, mengisahkan mitos bahtera Deucalion dari Yunani. Mirip dengan kisah bahtera Nuh, Dewa Jupiter melihat manusia telah berubah menjadi kejam dan tamak, jahat dan suka berperang, raja lalim Lycaon sangat kejam dan semena-mena menggunakan kekuasaannya, setelah berunding dengan dewa lain, diputuskan diturunkan hujan deras, dan terjadi air bah yang menghukum manusia.

Sastrawan menguraikan detil pemandangan air bah mengerikan itu menghancurkan rumah-rumah, sawah, dan bagaimana umat manusia yang putus asa berusaha menyelamatkan diri. Akhirnya hanya putra dari biarawan Prometheus yakni Deucalion dan istrinya yang masih hidup. Deucalion adalah “orang terbaik dari yang baik dan mencintai kebenaran pada masa itu.” Suami istri itu sangat lugu dan berhati mulia, dan sangat percaya pada dewa.

Cerita ketiga adalah mitos Da Yu mengendalikan banjir. Hal yang disebutkan disini berawal dari Nuwa yang paling awal berhasil mengendalikan banjir dalam sejarah Tiongkok kuno. Waktu itu Dewa Air  Gong Gong berebut tahta dengan Zhuanxu, akibatnya menabrak gunung dan mematahkan pilar langit, menyebabkan aliran Sungai Kuning meluap dan terjadi banjir. Nuwa kemudian “menempa batu menambal langit untuk meredakan air, sehingga kehidupan masyarakat pun kembali normal.”

Penulis Mi Qin berkomentar, “Sepertinya sejak zaman dulu kala rakyat Tiongkok telah mengerti betapa bahayanya perebutan kekuasaan itu, seperti orang Yunani kuno mengerti betapa bahayanya raja yang tiran.”

Kemudian lewat cerita Da Yu mengendalikan air dicetuskan pandangan seperti ini, “Dalam menghadapi alam semesta manusia tidak bisa menaklukkan alam dengan cara kekerasan, harus hidup harmonis berdampingan dengan alam, dan menjadi bagian dari alam, untuk mencapai idealisme tertinggi yakni alam dan manusia menyatu.”

Selain itu, “Di dalam mitos air bah Tiongkok, kita melihat para pahlawan rakyat mengambil tindakan demi kepentingan rakyat.”

Di akhir artikel ada kalimat penyempurnaan, jika manusia tidak menahan nafsu keserakahan untuk menikmati materi, dan membiarkan “ambisi dan kebrutalan berkuasa sampai kemana pun luasnya daratan,” akhirnya akan mengalami bencana mematikan. Pada saat itu, berapa banyak pun pahlawan seperti Da Yu dikerahkan tidak akan mampu lagi menyelamatkan dunia.

Menilik artikel “Air Bah” dan menyimpulkan situasi politik Tiongkok saat ini, sinyal yang disampaikan adalah:

1. Bencana alam termasuk air bah, terkait dengan moral manusia, hanya orang yang baik dan lurus yang akan terselamatkan.

Menurut statistik, dari 254 suku bangsa 84 rumpun bahasa yang ada di dunia, terdapat catatan mengenai bencana air bah. Bisa dikatakan, manusia zaman dulu telah mengalami bencana air bah yang bersifat memusnahkan. Hal yang lebih mengejutkan lagi, satu kesamaan dari setiap legenda mengenai air bah dari berbagai suku bangsa itu adalah ketika moral manusia merosot, dan kehilangan kebaikan yang seharusnya ada, maka Tuhan akan menurunkan air bah untuk memusnahkan manusia, dan hanya segelintir orang baik saja yang akan tetap hidup.

Selama belasan tahun terakhir, bencana alam di Tiongkok termasuk banjir besar terus menerus terjadi, yang terefleksi disini adalah, masyarakat Tiongkok telah mengalami kemerosotan moral, hati manusia sudah tidak seperti dulu lagi. Terutama kejahatan di masa pemerintahan Jiang Zemin yakni penindasan terhadap Falun Gong dan perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong hidup-hidup, yang memperparah kemerosotan hati nurani masyarakat Tiongkok dan distorsi antara kebaikan dan kejahatan. Menghadapi manusia seperti itu, bisakah Tuhan tidak menurunkan bencana? Dan hanya orang-orang berhati nuranilah yang dapat lolos dari bencana alam tersebut.

Menarik, pada Mei tahun ini dalam seminar yang diadakan oleh Komisi Disiplin Pusat Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang bertajuk “Mengungkap Langit Gemerlap-Menengok Kebudayaan Tradisional Tiongkok dari ilmu Astronomi,” informasi serupa juga dilontarkan, yakni pemerintah telah memahami kaitan erat antara fenomena astronomi dengan kehidupan dunia, sebagai seorang penguasa di satu sisi harus mengamati fenomena langit dan memahami perubahannya, di sisi lain harus mengendalikan ketertiban dan moralitas masyarakatnya, agar masyarakat hidup dan berperilaku sesuai peradaban dan tata krama.

Dan satu ciri khas dalam kebudayaan tradisional Tiongkok adalah “manusia dan langit saling berinteraksi” dan “manusia dan langit menyatu.” Langit yang berada nun jauh di atas sana menguasai kejayaan dan kemerosotan sejarah serta kesejahteraan dan kehancuran manusia. Terlepas dari manusia percaya atau tidak, takdir langit akan ditampilkan di hadapan manusia dengan fenomena alam tertentu dan penguasa yang diangkat berdasarkan takdir langit itu harus bertindak sesuai kehendak langit, begitu menentang langit, maka langit akan menurunkan fenomena yang aneh dan bencana luar biasa untuk memperingatkannya dan menghukumnya, air bah adalah salah satu bentuk peringatan itu.

2. Raja yang tiran sangat membahayakan negara, kejatahannya adalah salah satu penyebab diturunkannya bencana dari langit, oleh karenanya, harus mendongkel penguasa tiran baru dapat terhindar dari bencana mematikan.

Seperti yang disebutkan di atas, saat ini banyak bencana di Tiongkok terkait erat dengan kejahatan yang dilakukan di masa pemerintahan Jiang Zemin, hanya dengan menyingkirkan Jiang Zemin, Tiongkok baru akan terbebas dari bencana alam yang lebih besar yang akan datang.

3. Harus hidup harmonis dan berdampingan dengan alam serta menjadi bagian dari alam, untuk mencapai idealisme tertinggi dari zaman kuno yakni “langit dan manusia menyatu.”

Ini jelas telah menyangkal teori sesat PKT yang selama ini sesumbar mengatakan “manusia pasti bisa mengalahkan langit.” Dari tidak berdayanya manusia menghadapi bencana alam bertubi-tubi bisa dilihat, bahwa manusia sama sekali tidak kuasa mengalahkan langit, manusia dan alam hanya bisa hidup berdampingan dan mewujudkan “langit dan manusia menyatu” dan ini sesuai dengan apa yang gencar dipromosikan oleh penguasa Beijing saat ini yakni menyebar-luaskan kebudayaan tradisional Tiongkok.

4. Di hadapan bencana, akan muncul pahlawan penyelamat dunia. Di dalam sejarah Tiongkok Da Yu adalah seorang bangsawan yang bermoral tinggi dan berhati mulia, ketika Da Yu membuat irigasi “tiga kali lewat di depan rumahnya tapi tidak mampir,” semangatnya itu sangat dipuji rakyat. Oleh karena itu rakyat Tiongkok terselamatkan ketika air bah datang, ini berkat Da Yu membawa masyarakat di negaranya hidup bersahaja.

Belum lama ini, Xi Jinping pernah menyebutkan “zaman membutuhkan pahlawan,” menghadapi bencana di Tiongkok saat ini, derap langkah Xi Jinping akan menjadi sorotan rakyat. Menggabungkan artikel ini dengan sinyal “menghantam Jiang Zemin” yang dilontarkan Xi Jinping serta berbagai fenomena lainnya, penguasa tiran Jiang Zemin akan disingkirkan tidak diragukan lagi. Dan memang hanya dengan cara ini, bangsa Tiongkok baru akan memperoleh kelahirannya kembali. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular