Oleh Wen Pu

Desember 2011, diktator Korea Utara Kim Jong-il mendadak dikabarkan meninggal dunia setelah kembali dari kunjungannya ke sebuah pembangkit listrik bertenaga air terbesar di negaranya. Menurut pengungkapan terbaru media Jepang bahwa penyebab kematian Kim Jong-il tak terlepas dari hubungan kemarahan besar dalam pembicaraan telepon dengan putranya Kim Jong-un.

Media Jepang ‘Sankei Shimbun’ pada 30 Juli 2016 menyebutkan bahwa pemerintah Korut pada 19 Desember 2011 baru mengumumkan berita kematian Kim Jong-il, padahal itu sudah terjadi 3 hari sebelumnya yakni pada 16 Desember. Dikatakan bahwa Kim Jong-il meninggal akibat penyakit lamanya kambuh lagi dan dokter gagal untuk menyelamatkannya. Namun kambuhnya penyakit diduga kuat berkaitan erat dengan kemarahannya terhadap putra penerus tahtanya Kim Jong-un.

Pada saat itu, Kim Jong-il sedang melakukan perjalanan dengan KA kepresidenan untuk meninjau pembangkit listrik bertenaga air Huichon yang terletak di Chagang-do, Korut.

Sekitar pukul 17 hari itu, 16 Desember 2011, Kim Jong-il sempat marah-marah saat berbicara dengan Kim Jong-un melalui sambungan telepon. Karena kebetulan tidak seorang pun pembantunya berada di tempat yang berdekatan, sehingga tidak diketahui apa yang mereka sedang bicarakan kecuali hanya suara kemarahan Kim Jong-il yang terdengar sampai jauh.

Setelah itu, Kim Jong-il tiba-tiba mengubah rencana, memutuskan untuk pergi ke rumah putri sulungnya Kim Sul-song.

Kim Jong-il meneguk cukup banyak minuman beralkohol saat makan malam di rumah Kim Sul-song, dan langsung masuk kamar tidur untuk beristirahat tanpa mengikuti saran yang diberikan oleh ahli medis. 1 jam kemudian, Kim Sul-song dan putra sulungnya bergegas masuk ke kamar tidur karena mendengar bunyi suara peringatan dari alarm, sudah terlihat Kim Jong-il berbaring dengan mulut berbusa. Dan akhirnya meninggal pada pukul 20:30 setelah tim medis gagal menyelamatkannya.

Menurut analisa para ahli medis yang terlibat dalam usaha penyelamatan, kambuhnya penyakit lama Kim Jong-il mungkin tersulut karena kelelahan fisik dan marah gara-gara kemajuan proyek PLTA Huichon yang dianggap merugikan. Padahal, pembangunan proyek PLTA terbesar ini sudah dipercayakan kepada putranya Kim Jong-un.

Melalui peninjauan yang dilakukan Kim Jong-il, ia menemukan bahwa banyak kebocoran yang terjadi pada dam penampung air yang dibangun itu karena kesalahan konstruksi. Hal mana selain  membawa resiko berupa keselamatan jiwa, juga dapat mengakibatkan adanya penurunan kapasitas pembangkit. Kalaupun proyek-tersebut dirampungkan secara paksa, kapasitas listrik yang dihasilkan hanya mencapai 20 % dari kapasitas yang direncanakan awalnya. Karena kejadian ini Kim Jong-il marah besar dan langsung mendamprat putranya melalui sambungan telepon.

Kemarahan merupakan pantangan bagi seseorang yang pernah menderita penyakit pada pembuluh darah otak atau serebrovaskular, seperti Kim Jong-il. Itu sangat membahayakan.

Menurut rencana, proyek PLTA terbesar yang pembangunannya sudah dimulai pada Maret 2009 itu akan diselesaikan pada April 2012 dan mampu mengkonsumsi listrik tambahan ke kota Pyongyang. Kim Jong-il sudah 8 kali mengunjungi pembangunan proyek ini sebelum ajalnya. Namun, entah apa sebabnya, pengawasan pembangunan proyek tersebut diserahkan kepada Kim Jong-un yang menyembunyikan kasus rekayasa, bahkan mengalihkan sejumlah bahan bangunan termasuk semen ke proyek milik pribadinya sehingga kebocoran dam air terjadi.

Masalahnya sekarang adalah, gangguan pada konstruksi itu pun akan menyebabkan munculnya berbagai kesulitan lain bila dam itu digunakan secara paksa.

Media Korea Selatan ‘Chosun Ilbo’ juga pernah memberitakan bahwa kematian mendadak Kim Jong-il itu berkaitan dengan kemarahannya yang memuncak gara-gara mendengar laporan yang menyebutkan bahwa proyek PLTA Huichon itu adalah sebuah proyek abal-abal Korut.

Dam penampung air sebanyak 850 juta meter kubik yang akan digunakan untuk membangkit listrik proyek PLTA itu memiliki ketinggian 100 meter dan panjang 555 meter. Namun sudah muncul keretakan di mana-mana dan kebocoran yang serius. Seorang sumber yang mengungkapkan, “Tidak hanya masalah kebocoran saja, tetapi sudah mengancam keselamatan”.

Selama kunjungan peninjauan itu, Kim Jong-il sudah dibuat tertekan mentalnya karena mendengar beberapa isu tidak enak yang berhubungan dengan kualitas besi beton konstruksi utama dan bahan serat peredam air pada dinding dam proyek Huichon tersebut. “

Nah ! Dalam kondisi seperti ini, Kim Jong-il lagi-lagi mendengar bahwa kebocoran air dam terjadi cukup serius, sehingga ia merasa sangat kecewa,” kata sumber itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular