Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 28 Juli laliu di Chaos telah menerapkan model matematika untuk menemukan lebih banyak fenomena jet lag timur-barat. Penulis pertama penelitian, Zhixin Lu, menjelaskan mengapa sinar Matahari memainkan peranan penting dalam menyesuaikan diri dengan zona waktu yang baru dan bagaiman cara terbaik untuk seseorang meminimalkan dampak jet lag.

Research Gate (RG): Apakah yang ingin Anda teliti?

Zhixin Lu: Irama sirkadian, yang mengatur pemulihan jet lag, diketahui dikendalikan oleh sinkronisasi banyak aktivitas saraf secara berirama atau berulang-ulang di otak. Orang sering mengatakan bahwa pemulihan dari jet lag lebih cepat setelah melakukan perjalanan ke arah barat daripada perjalanan ke arah timur, sesuatu yang kami ingin jelajahi dalam penelitian ini.

RG: Anda menemukan bahwa sel-sel pacu sirkadian berperan dalam pemulihan jet lag. Apakah sel tersebut dan bagaimana terjadi?

Lu: Sel-sel pacu sirkadian di otak dapat dianggap sebagai banyak jam kecil. Sel-sel tersebut terombang-ambing secara sinkron dan memberi rasa hadirnya waktu kepada manusia. Setelah melakukan perjalanan yang cepat yang melintasi beberapa zona waktu, petunjuk waktu dari ‘jam-jam kecil’ tiba-tiba berubah menjadi beberapa jam sebelum atau sesudah dari waktu tempat baru, sehingga terjadi jet lag. Dalam beberapa hari ke depan, selama pemulihan, ‘jam-jam kecil’ menjadi sedikit lebih lambat atau sedikit lebih cepat, dipandu oleh sinyal cahaya yang diterima melalui mata, dan pada akhirnya kembali ke zona waktu yang baru.

RG: Apa saran Anda yang terbaik untuk meminimalkan dampaknya?

Lu: Orang tersebut harus terpapar sinar Matahari sebanyak mungkin setelah tiba di tempat baru. Jika orang tersebut tiba di tempat yang sangat berawan atau harus menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan, maka ia harus terpapar terhadap sumber cahaya buatan selama siang hari dan terpapar gelap selama malam hari.

RG: Mengapa beberapa orang mengalami jet lag lebih parah dari orang lain?

Lu: Model penelitian kami menunjukkan bahwa banyak faktor yang menentukan bagaimana seseorang pulih dari jet lag. Misalnya, kekuatan hubungan antara sel-sel pacu, sensitivitas sel pacu terhadap sinyal cahaya eksternal, dan sebagainya. Kami percaya bahwa terdapat variasi dari faktor-faktor ini di antara individu, dan sebagai akibatnya individu mengalami keparahan jet lag yang berbeda. Misalnya, dengan semua kondisi lainnya yang sama, individu dengan sel pacu sirkadian yang lebih sensitif terhadap sinyal cahaya eksternal akan lebih cepat pulih dibandingkan dengan individu yang memiliki sel pacu sirkadian yang kurang sensitif.(Epochtiems/ Michelle Kuepper/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: MISTERI SERBA SERBI

Video Popular