Beberapa minggu terakhir ini berita televise memuat beberapa peristiwa unsur kekerasan yang mendatangkan kemalangan: pembantaian di Orlando, pembunuhan pria kulit hitam oleh polisi, serangan penembak jitu di Dallas, serangan pada Hari Nasional Perancis pada tanggal 14 Juli 2016, upaya kudeta kekerasan di Turki dan penembakan di Baton Rouge, Louisiana.

Mungkin banyak di antara kita yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh semua peristiwa ini di mana kita melihat berita tersebut karena disiarkan oleh siaran televisi dan tersebar di media sosial. Menyaksikan kekerasan tersebut pada media dapat memberi dampak yang buruk kepada anak-anak kita walaupun merekan tidak langsung terpengaruh.

Yang mengejutkan, penelitian mengungkap bahwa dampak menonton unsur kekerasan lebih buruk pada anak kecil yang berbakat.

Dampak kekerasan pada orang dewasa dan anak-anak

Sebuah penelitian besar menunjukkan hubungan antara paparan kekerasan yang ditampilkan pada media dengan perilaku agresi dan kekerasan di beberapa negara dan budaya. Sebuah sintesis dari literatur ini menemukan reaksi yang berbeda pada orang dewasa dan anak-anak. Dampak jangka pendek akibat nonton kekerasan di layar lebih besar terjadi pada orang dewasa, sedangkan efek jangka panjang akibat nonton kekerasan di layar lebih besar terjadi pada anak-anak.

Penelitian khusus terkait dengan anak-anak menunjukkan bahwa peristiwa kekerasan yang ditampilkan pada media seperti yang kita lihat akhir-akhir ini dapat menakuti dan mengakibatkan rasa khawatir pada anak-anak. Para ahli telah membahas bagaimana menonton tayangan kekerasan akan merugikan kesehatan mental anak-anak.

Namun, dampak buruk ini bervariasi. Kami adalah peneliti yang mempelajari anak-anak berbakat yang terpapar tayangan yang mengandung unsur kekerasan. Meskipun definisi “berbakat” bervariasi, anak-anak berbakat secara umum didefinisikan sebagai anak-anak dengan kecerdasan umum yang tinggi yang dibuktikan oleh skor uji standar.

Anak-anak berbakat menunjukkan motivasi, memori, penalaran dan pengembangan moral yang lebih besar. (US Army Garrison Red Cloud - Casey Follow, CC BY-NC-ND)
Anak-anak berbakat menunjukkan motivasi, memori, penalaran dan pengembangan moral yang lebih besar. (US Army Garrison Red Cloud – Casey Follow, CC BY-NC-ND)

Berdasarkan definisi ini, anak-anak berbakat cenderung memiliki banyak keuntungan. Misalnya, kecerdasan yang lebih tinggi berkaitan dengan prestasi, motivasi, memori, penalaran dan pengembangan moral, keterampilan sosial, rasa humor, pencapaian pendidikan dan pekerjaan, kepemimpinan, dan bahkan kreativitas yang lebih besar. Kecerdasan yang lebih tinggi juga berkaitan dengan penurunan perilaku impulsif, kenakalan dan kejahatan.

Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa kecerdasan yang lebih tinggi berkaitan dengan kepekaan emosional yang lebih besar. Para ahli yang meneliti anak-anak berbakat berpendapat bahwa karena kepekaan emosional yang lebih besar inilah maka mereka belum tentu selalu diuntungkan dalam semua hal.

Mempelajari dampak kekerasan pada anak berbakat

Dalam hal apa anak-anak berbakat lebih peka? Salah satu faktor yang berperan adalah kekerasan, bahkan kekerasan yang ditampilkan oleh tokoh kartun.

Bekerjasama dengan Cengiz Altay, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Fatih,Turki, kami menguji 74 anak-anak “berbakat” dan 70 anak-anak yang “kurang berbakat” atau memiliki skor kecerdasan yang relatif lebih rendah. Kelompok anak-anak “berbakat” adalah murid sekolah dengan IQ 130 atau lebih tinggi dua persen.

Penelitian dilakukan pada tahun 2015 selama enam bulan. Pada saat penelitian, anak-anak ini berusia 10 tahun. Kami meneliti apakah paparan terhadap media yang mengandung unsur kekerasan dibandingkan dengan media yang tidak mengandung unsur kekerasan akan memberi perbedaan kemampuan verbal pada anak.

Untuk melakukan hal ini, kami meminta semua murid sekolah tersebut yang menjadi peserta penelitian untuk menjalani uji verbal sebelum dan setelah menonton video yang mengandung unsur kekerasan. Semua murid sekolah tersebut diminta untuk menghasilkan kata-kata dari satu rangkaian huruf yang berbeda selama menjalani uji verbal sebelum dan setelah menonton video yang mengandung unsur kekerasan.

Huruf –huruf yang paling umum dalam alfabet Turki secara acak dibagi menjadi dua kelompok untuk uji verbal sebelum dan setelah menonton video yang mengandung unsur kekerasan. Pada uji verbal sebelum menonton video yang mengandung unsur kekerasan, peserta penelitian diminta untuk menghasilkan kata-kata yang dimulai dengan huruf A, L, M, S, C, E, B dan H. Pada uji verbal sesudah menonton video yang mengandung unsur kekerasan, peserta penelitian harus menghasilkan kata-kata yang dimulai dengan huruf I, D, N , O, F, K dan T. Peserta penelitian diberi waktu satu menit untuk membuat daftar kata sebanyak mungkin yang dimulai dengan huruf yang diminta tersebut.

Antara uji verbal sebelum dan setelah menonton video yang mengandung unsur kekerasan, peserta penelitian kelompok berbakat maupun kurang berbakat secara acak ditugaskan untuk menonton video kartun tanpa unsur kekerasan atau video kartun yang mengandung unsur kekerasan. Kami menggunakan dua pertunjukan animasi yang biasa ditonton oleh anak-anak.

Seri animasi yang menggambarkan unsur kekerasan memberi dampak buruk. (Creative Commons / Loren Javier)
Seri animasi yang menggambarkan unsur kekerasan memberi dampak buruk. (Creative Commons / Loren Javier)

Video yang satu berjudul “Bakugan Battle Brawlers,” suatu film seri dengan episode yang menggambarkan unsur kekerasan dalam pertempuran, dan video yang lain berjudul “Arthur” yang bercerita mengenai masalah yang terjadi pada teman-teman dan keluarga seorang anak laki-laki kecil bernama Arthur, yang tidak mengandung unsur kekerasan.

Temuan kami memperlihatkan…

Penelitian kami, yang diterbitkan baru-baru ini dalam Gifted Child Quarterly, sebuah jurnal terkemuka yang memuat penelitian terhadap anak-anak berbakat, menunjukkan bahwa paparan terhadap kekerasan memberi dampak yang sangat buruk terhadap kemampuan anak-anak, terutama anak berbakat.

Kami menemukan bahwa murid berbakat menghasilkan lebih banyak kata daripada murid yang kurang berbakat ketika mereka diminta untuk menghasilkan kata-kata sebelum menonton video yang mengandung unsur kekerasan. Namun, murid berbakat yang disuruh menonton video yang mengandung unsur kekerasan menghasilkan kata-kata yang lebih sedikit dibandingkan dengan murid yang kurang berbakat setelah mereka menyaksikan video yang mengandung unsur kekerasan.

Sebaliknya, ketika murid berbakat menonton video kartun tanpa unsur kekerasan, mereka mengungguli murid yang kurang berbakat baik sebelum maupun sesudah menonton video yang tidak mengandung unsur kekerasan. Hal ini menunjukkan bahwa unsur kekerasan yang ditunjukkan dalam video kartun itulah penyebab berkurangnya kinerja mental murid berbakat.

Secara keseluruhan, semua anak-anak menunjukkan penurunan kinerja setelah menyaksikan unsur kekerasan, tetapi anak-anak berbakat menunjukkan penurunan kinerja yang lebih besar.

Apakah anak-anak berbakat lebih peka?

Salah satu kepercayaan umum adalah bahwa murid berbakat tidak memerlukan bantuan dan akan melakukan dengan baik secara mandiri. Persepsi ini mungkin karena bukti empiris menunjukkan bahwa banyak murid berbakat yang cukup sukses di kemudian hari.

Para ahli membantah mitos bahwa murid berbakat tidak menghadapi masalah dan tantangan. Penelitian kami menambah bukti bahwa anak-anak berbakat menghadapi kerugian atau tantangan, khususnya ketika terpapar tayangan unsur kekerasan di layar televisi. Unsur kekerasan yang diberitakan media umumnya memberi dampak buruk pada anak-anak, tetapi penelitian kami menunjukkan dampak negatif ini semakin buruk pada murid dengan kecerdasan yang lebih tinggi.

Kami baru saja mulai mengeksplorasi alasan untuk temuan yang mengejutkan ini. Kelompok murid “berbakat” mungkin lebih peka sehingga memberi reaksi yang lebih cemas terhadap pemberitaan unsur kekerasan pada media. Paparan terhadap media yang memuat unsur kekerasan menurunkan kapasitas memori kerja, mengurangi perhatian pada tugas mental si anak berbakat sehingga menurunkan kinerjanya. Dalam penelitian kami, anak-anak berbakat berpikir kartun yang mengandung unsur kekerasan itu lebih kejam, dan mereka kurang menyukainya dan lebih jarang menontonnya di rumah dibandingkan dengan anak-anak yang kurang berbakat.

Tayangan yang mengandung unsur kekerasan dan bahaya

Temuan kami berpengaruh pada orang tua, pendidik dan pembuat kebijakan yang perlu menyadari bahwa unsur kekerasan pada layar memiliki dampak buruk pada anak-anak, khususnya anak-anak berbakat. Dampak film yang mengandung unsur kekerasan terhadap fungsi verbal si murid menjadi sangat penting untuk diperhatikan mengingat fungsi verbal sangat dibutuhkan pada sekolah biasa.

Tayangan yang mengandung unsur kekerasan dapat menyebabkan mimpi buruk dan gangguan tidur lainnya. (Boys image / Shutterstock)
Tayangan yang mengandung unsur kekerasan dapat menyebabkan mimpi buruk dan gangguan tidur lainnya. (Boys image / Shutterstock)

Sebuah pernyataan yang baru saja dirilis dari The American Academy of Pediatrics menganjurkan, berhubung dengan perhatian terhadap berita media yang diserap oleh anak-anak, maka “orang tua” harus memperhatikan apa yang ditonton anak-anaknya dan permainan apa yang mereka mainkan. Ahli lain juga telah memperingatkan tayangan yang mengandung unsur kekerasan, baik nyata atau khayalan, dapat menyebabkan mimpi buruk, gangguan tidur dan meningkatkan kecemasan.

Temuan kami mendukung bukti sebelum ini. Secara umum, sangat sedikit kekerasan yang ditayangkan dalam film kami dibandingkan dengan tayangan yang mengandung unsur kekerasan yang sering dipaparkan terhadap anak-anak, seperti dalam berita. Jadi, penelitian kami memberikan perkiraan yang lebih rendah mengenai dampak kekerasan yang dimuat dalam media terhadap kinerja mental anak.

Pengembangan pendidikan yang optimal tidak hanya membutuhkan dampak yang baik tetapi juga mengurangi dan menghilangkan dampak yang buruk. Faktor risiko tersebut terbesar dialami murid berbakat tetapi kurang beruntung secara ekonomi karena tinggal di lingkungan dengan tingkat kekerasan yang lebih tinggi, di mana dampak buruk semakin menumpuk yang pada akhirnya menyebabkan kinerja sang anak menjadi rendah.

Dengan munculnya perangkat digital, sulit untuk mengendalikan paparan murid terhadap kekerasan. Oleh karena itu, harus dicurahkan lebih banyak perhatian untuk membatasi pemberitaan media yang mengandung unsur kekerasan yang dapat mengurangi pembangunan pendidikan selama periode waktu.(Epochtimes/ Jonathan Wai, Brad Bushman dan Yakup Cetin/Vivi/Yant)

Jonathan Wai, Ilmuwan penelitian di Duke University; Brad Bushman, Profesor Komunikasi dan Psikologi di The Ohio State University, dan Yakup Cetin, Kepala Departemen Pendidikan Bahasa Asing di Fatih University.

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular