Baru-baru ini, komentator politik Tiongkok yang berbasis di AS Chen Pokong mempublikasikan artikel yang berjudul “Apakah Xi Jinping Memiliki Masa Depan?”

Dalam artikel itu disebutkan Xi Jinping dihadapkan pada dua pilihan, baik untuk mengulangi kesalahan – Kaisar Chongzhen (adalah kaisar ke-16 dan terakhir dari dinasti Ming di Tiongkok) atau mengikuti contoh Chiang Ching-kuo (Politisi dan pemimpin Kuomintang Taiwan putra Presiden Chiang Kai-shek) melaksanakan konstitusionalisme.

Menurut informasi yang diperoleh artikel ” Apakah Xi Jinping Memiliki Masa Depan?” adalah catatan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Chen Po Kong, Siasat Xi Jinping, Matinya Partai Komunis,”

Artikel itu mengatakan, “Apakah Xi Jinping Memiliki Masa Depan? Coba amati jalan mana yang akan dia tempuh, Diktator atau konstitusi? Dengan ini akan menentukan posisinya dalam sejarah, “Apakah Kaisar Chongzhen atau Chiang Ching Kuo.”

Menurut artikel itu, mantan Sekretaris Jenderal Uni Soviet Mikhail Gorbachev, karena gagal mengendalikan kekuatan sehingga digulingkan, meskipun ia diselamatkan Yeltsin, tetapi reformasi Gorbachev gagal di tengah jalan.

Reformasi yang telah didorong sekuatnya oleh mantan Sekretaris Partai Komunis Tiongkok/ PKT Jenderal Hu Yaobang dan Zhao Ziyang, karena tidak mengendalikan kekuatan nyata di tangan, akhirnya usaha yang dilakukan gagal total. Artikel tersebut memuat juga soal gagalnya Gorbachev, Hu Yaobang dan Zhao Ziyang sebelumnya, mungin bisa menjadi peringatan bagi Xi Jinping.

David Shambaugh Profesor di Universitas George Washington seorang ahli senior Tiongkok menegaskan,  “Hari kiamat PKT telah mulai.” Reformasi politik telah menjadi tren. Dia memiliki harapan terhadap reformis Xi Jinping. Ia percaya bahwa sesi berikutnya dari anggota Politbiro, jika kaum liberal pro-reformasi dorong dan membantu Xi Jinping, pada masa kedua Xi jinping menjabat, kemungkinan akan membawa perubahan besar pada Tiongkok.

Menurut sistem komunis Tiongkok saat ini, Komite Tetap Politbiro Pusat berada di puncak piramida kekuasaan, tingkat di bawahnya kedua adalah Politbiro, ada satu lagi adalah Sekjen Pusat Central Partai Komunis Tiongkok, yang memimpin pekerjaan sehari-hari, ditambah dengan serangkaian pemimpim kelompok dan komite.

Fenomena tumpuk menumpuk pada tingkat tertinggi, pembengkakan struktur,  kelebihan pegawai yang cukup menonjol, tidak hanya menyebabkan desentralisasi kekuasaan dan gesekan di internal, itu juga menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak efisien. Namun juga mudah untuk membentuk pucuk-pucuk faksi. Pengingkatan intensif perjuangan politik, bertentangan dengan kebutuhan sosial saat ini tentang keputusan yang efisien.

Artikel ini menganalisa, sistem ini mulai berjalan dari era Mao Zedong, dan pada masa kekuasaan selanjutnya tidak ada yang berani mengubahnya. Jika Xi Jinping benar-benar melakukan perubahan terhadap sistem kepemimpinan ini, maka ini akan menjadi pekerjaan utama, selanjutnya kekuasaan dan kewibawaan pribadi akan menonjol.

Media Hong Kong pernah berkomentar, setelah Xi Jinping berkuasa, besarnya upaya reformasi telah membuat semua pihak merasakannya, dengan kepribadian Xi Jinping dan situasi PKT saat ini di, ada kemungkinan Xi Jinping akan membuat perubahan besar.

Dunia luar memperhatikan, tidak peduli apa jenis sinyal reformasi yang dilepaskan Xi Jinping, agar benar-benar bisa mencapai “Mimpi Tiongkok” Xi, yang paling penting adalah untuk memimpin bangsa Tiongkok mengakhiri otokrasi. Bila dilihat dari jumlah ledakan orang-orang Tiongkok yang mundur dari Partai Komunis, sejarah telah memberikan kesempatan besar bagi Xi Jinping untuk mengakhiri otokrasi Komunis.

Pada awal 13 Oktober 2015, The Epoch Times telah mempublikasikan artikel khusus yang mengatakan “Jika Xi Jinping dapat meninggalkan PKT, menyelesaikan tugas besar transisi damai bangsa Tiongkok, maka dia akan mendapatkan pujian masyarakat dan kekaguman dunia internasional, ini adalah kemuliaan pribadinya juga kehormatan bangsa Tiongkok. ”

Artikel khusus juga menekankan bahwa sejarah telah memberikan kepada Xi Jinping sebuah kesempatan langka, hanya tergantung pada Xi Jinping apakah dapat mengambil kesempatan yang diberikan, serta harapan geopositioning sejarah sendiri nya. (lim/rmat)

Share

Video Popular