Pada 23 Juli 2011, UNY Jogya mengadakan “Seminar Nasional Sastra Anak”. Tentang ada atau tidaknya yang disebut sastra anak, dan tentang sastra anak yang bermoral. Saya sendiri menganggap perlu. Saya setuju pendapat yang mengatakan „Kalau anda tidak mendidik anak sejak dini, anda tidak bisa berbuat banyak ketika ia sudah dewasa“.

Padahal, dengan menambah sedikit saja kata-kata, sebuah sastra anak biasa bisa menjadi sastra anak yang bermoral.

Mari lihat puisi berikut:

Jangkrik, Sumur di ladang dan Lele jumbo

angkrik, Sumur di ladang dan Lele jumbo

Ketika embun pagi masih bergelayut

di ujung rumput

Si jangkrik menggeliat dari pulasnya,

lalu pegang tangannya, pegang kakinya

Lalu. Si jangkrik mulai loncat

Loncat. Loncat tinggi mengatasi

rumput-rumput yang paling tinggi

Lalu meloncat jauh, jauh, jauh dan …

Woooo, plluung! Si jangkrik kecemplung

sumur di ladang

Kecipak kecipak gelagapan menggapai tepi

di dasar sumur yang gelap lele jumbo buka mata.

“Ini dia sarapan pagi aku!“ seringainya.

Sraaaaaap! Lele jumbo menyergap sigap 

Waaaaa! Jangkrik teriak sambil menghindar

Wajahnya pucat pasi!

Lele jumbo ancang-ancang lagi

„Kali ini, kau tak mungkin lari lagi!“ 

Dalam paniknya, sekilas jangkrik melihat

sejulur akar menjuntai kebawah…

Ketika sekali lagi lele jumbo serrrggaaapp!

Jangkrik loncat mencekat ujung akar

Tergopoh memanjat dan selamat! 

( Disini kisah si jangkrik bisa saja selesai. Happy ending. Tapi sayang kalau selesai begitu saja tanpa pesan. Padahal ditambah sedikiiit lagi sudah jadi sastra anak yang bermoral. Kita coba? )

Gemetar di rerumputan

Bibir mengucap: o, yang membuat langit,

rumput, jangkrik, dan lele bengis itu.

Terimakasih. aku masih hidup.

Ku kan ingat pesan embah jangkrik

„Cah bagus. Selalulah lihat dulu

sebelum kamu loncat, yo le!“

Bibir pucat si jangkrik menyeringai:

“Oke, mbah! Oke.”

Dengan dua bait tambahan itu, sah-lah kiranya puisi ini disebut puisi anak bermoral. Dan memberikan nilai tambah yang cukup berarti. Pesan utamanya adalah: Lihat dulu sebelum loncat. Juga mencontohkan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diselamatkan dari sergapan lele jumbo.

Inilah tujuan membuat cerita (sastra) anak bermoral. Tugas yang teramat mulia. Karena, sekali lagi.. “Kalau tidak membina moral sejak kecil, kita tak akan dapat merubah apa pun setelah dewasa!”

Mari kita wujudkan. Selamat menulis.

 

Alex Sastro

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular

Ad will display in 09 seconds