Ada sekelompok orang sedang menunggu di penyeberangan sungai. Tukang perahu mendorong perahu dari tepian menuju ke sungai. Ikan-ikan kecil, udang kecil dan kepiting kecil yang berada di tepi sungai, lantaran hilir mudik perahu dari kedua arah, maka banyak yang terlindas sampai mati. Diantara sekian banyak orang yang menunggu perahu, terdapat seorang cendekiawan dan seorang biksu Buddha.

Menyaksikan keadaan ikan dan udang yang tergilas perahu di atas pasir, sang cendekiawan lalu bertanya kepada biksu Buddha.

“Biksu, coba Anda lihat ketika tukang perahu mendorong perahu ke dalam sungai telah membunuh begitu banyak ikan, udang dan kepiting, menurut Anda ini kesalahan siapa? Apakah penumpang perahu, atau tukang perahunya? Kelak dosa pembunuhan ini akan ditanggung oleh penumpang perahu, ataukah tukang perahu?”

Tiba-tiba sang biksu menunjuk hidung si cendekiawan dengan berkata, “Itu adalah dosamu!”

Cendekiawan dengan marah menjawab, “Bagaimana bisa dosa saya? Saya bukan tukang perahu, juga tidak menumpang perahu, bagaimana mungkin adalah dosaku?”

“Karena kau usil. Untuk mengangkut orang menyeberangi sungai, di dalam hatinya, si tukang perahu tidak berniat untuk membunuh (makhluk-makhluk kecil itu), para penumpang perahu, hanya menyeberangi sungai untuk mengurusi pekerjaan, juga tidak ada niatan jahat untuk membunuh dan hati mereka kosong, laksana ruang hampa yang membiarkan dirinya dilalui dengan bebasnya oleh awan putih maupun awan hitam, sama sekali tidak mengusik rona langit yang aslinya memang bening dan bersih,” ujar si biksu.

Cendekiawan merasa dirinya hebat, maksudnya hendak menyudutkan seorang biksu dengan pertanyaannya yang diyakininya sebagai “cerdas”, akhirnya malah tak dinyana dia yang terpojok.

Di dunia ini juga ada cukup banyak orang yang seperti sang “cendekiawan” kita ini, yang suka mengomentari kekurangan atau keburukan orang lain, tapi sebenarnya malah tidak mengetahui tentang baik-buruk dan salah-benar, sehingga membuat diri sendiri terjebak dalam suasana kikuk.

Perbuatan dosa diawali dari hati. Hati itu ibarat seorang pelukis yang piawai melukis segala sesuatu yang rumit dengan olesan aneka warna cerah. Jika ia hendak mengembalikan ke suasana hati yang putih, murni tak tercela, asal dapat menghentikan kedua tangan pelukis, maka warna-warni tersebut secara alamiah akan memudar. (Epochtines/Hui/Yant)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular