Banyak orang menganggap mahasiswa peminum alkohol adalah hal yang wajar, namun yang kurang dipahami adalah bahwa mahasiswa peminum alkohol membahayakan dirinya dalam beberapa masalah. Biasanya mahasiswa minum alkohol pada waktu perut kosong yang berarti bahwa ia akan mabuk lebih cepat, mengingat bahwa makanan memperlambat penyerapan alkohol ke dalam aliran darah.

Ada kecenderungan yang berkembang di kalangan mahasiswa peminum alkohol yang disebut “drunkorexia,” suatu istilah non-medis yang mengacu pada kombinasi alkohol dengan perilaku yang berhubungan dengan diet seperti pembatasan makanan, berolahraga berlebihan, atau makan sebanyak-banyaknya dan lalu dimuntahkan (bulimia) guna mengurangi tambahan kalori yang terkandung dalam alkohol yang akan mengakibatkan berat badan bertambah.

“Drunkorexia mengacu pada pola yang kompleks terkait perilaku minum yang terjadi sebelum, selama, dan setelah acara minum alkohol,” jelas Dipali V. Rinker, seorang asisten profesor peneliti di departemen psikologi di University of Houston.

“Mahasiswa terlibat dalam perilaku ini untuk meningkatkan efek alkohol atau mengurangi kalori yang terkandung dalam alkohol melalui perilaku yang membatasi asupan makanan atau kalori dengan cara perilaku bulimia atau olahraga yang berlebihan.”

Rinker mempresentasikan penelitian ini pada acara tahunan Perkumpulan Riset Kecanduan Alkohol ke-39 di New Orleans pada tanggal 25-29 Juni 2016 lalu.

Rinker mengatakan ada sejumlah konsekuensi. “Kurangnya hambatan untuk mengonsumsi alkohol akan memperburuk efek samping akibat alkohol,” katanya. “Peminum alkohol yang membatasi asupan kalori dari makanan yang lebih padat zat gizi akan mengakibatnya menderita kekurangan vitamin.”

Rinker mengatakan penelitiannya dirancang untuk menyempurnakan definisi drunkorexia serta mengidentifikasi berbagai jenis perilaku “drunkorexia”.

“Informasi kami adalah meneliti hubungan antara jenis perilaku drunkorexia yang berbeda dan kemungkinan lain yang timbul dari masalah minum alkohol di kalangan mahasiswa, seperti perbedaan jenis kelamin.”

Hubungan antara jenis kelamin dengan drunkorexia adalah satu kesatuan, ia mencatat. “Meskipun jelas bahwa mahasiswi yang minum lebih banyak alkohol cenderung lebih sering mengalami perilaku bulimia dibandingkan dengan mahasiswa, dan mengalami lebih banyak masalah terkait alkohol sebagai akibat dari perilaku bulimia ini, tidak ada perbedaan jenis kelamin untuk terlibat dalam drunkorexia demi meningkatkan efek alkohol atau tidak ada perbedaan jenis kelamin untuk terlibat dalam perilaku bulimia demi mengimbangi kalori yang terkandung dalam alkohol.

“Dalam beberapa kasus, mahasiswa lebih cenderung melakukan perilaku bulimia dan perilaku membatasi asupan makanan/kalori serta olahraga secara berlebihan untuk mengurangi kalori yang terkandung dalam alkohol. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami perbedaan ini, “katanya.

“Sangat penting untuk menyadari bahwa, selain jumlah dan atau frekuensi alkohol yang diminum, cara mahasiswa/i peminum alkohol menghadapi efek samping akibat alkohol,” tegas Rinker.

“Mahasiswa atau mahasiswi yang terlibat dalam perilaku pembatasan makanan atau olahraga secara berlebihan sebelum, selama, atau setelah acara minum alkohol dengan tujuan untuk meningkatkan efek alkohol atau mengurangi kalori yang terkandung dalam alkohol melalui perilaku bulimia atau membatasi asupan makanan atau olahraga secara berlebihan—menempatkan diri pada risiko efek samping alkohol.”

Selain mengurangi kadar alkohol yang melebih ambang batas yang diminumnya, mereka juga harus memastikan untuk tetap cukup asupan air minumnya dan tidak minum alkohol pada waktu lambung kosong. Selain itu, harusnya memastikan bahwa mereka tetap makan makanan yang sehat dan berolahraga secara teratur, terutama jika mereka memilih untuk menjadi peminum alkohol.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular