Oleh Li Modi

Warga Wenzhou pernah diakui sebagai “Orang kaya Tiongkok,” meskipun layu tak lama setelah berkembang. Kejayaan orang Wenzhou kini sudah tidak terlihat, hingga ada netizen yang berkomentar bahwa ekonomi Wenzhou sudah gagal total, kejadian ini menarik untuk disimak secara baik-baik oleh seluruh masyarakat.

Komentator online Tiongkok Shui Muran dalam artikelnya menulis bahwa di masa lalu, orang-orang Wenzhou itu lebih fokus pada bisnis yang bersifat spekulatif. Mencari keuntungan besar lebih menjadi tujuan, sehingga tidak terlalu mau berfokus pada pengembangan bisnis yang riil. Akibatnya mereka ikut ambil bagian dalam membesarkan gelembung ekonomi Tiongkok.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah ekonomi Wenzhou ini justru dijadikan sebagai percontohan bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Orang Wenzhou pernah mengalami suasana senang ketika ‘penggorengan’ terjadi gila-gilaan

Belakangan, kesan yang ditinggalkan setelah kejayaan Wenzhou itu adalah, orang-orang Wenzhou memang lebih ahli dalam ‘penggorengan’, terutama ‘penggorengan’ untuk menaikkan harga batu bara, real estate dan spekulasi keuangan. Demikian Shui Muran dalam komentarnya.

Orang Wenzhou ‘menggoreng’ batu bara, membeli hampir semua hasil tambang batu bara di provinsi Shanxi, Mongolia Dalam kemudian dijual kepada industri di seluruh Tiongkok dengan harga yang berbeda. Mereka juga ‘menggoreng’ real estate di hampir seluruh pelosok Tiongkok. Ada istilah di mana ada orang Wenzhou, harga real estate di sana pasti naik. ‘Menggoreng’ keuangan, artinya orang Wenzhou memilih menjadi rentenir untuk menggaet keuntungan lebih besar setelah memperoleh pinjaman dari Bank.

Selama menikmati enaknya bermain dengan spekulasi itu. orang Wenzhou enggan untuk memikirkan pengembangan bisnis sektor riil. Dana mereka banyak dihabiskan untuk berspekulatif harga real estate, pinjaman pribadi dan sebagainya yang akhirnya ikut menggembungkan kekayaan dan ekonomi regional sampai nasional.

Setelah beberapa tahun kemudian, konsekuensi dari spekulasi mereka muncul ke permukaan. Ekonomi sektor riil Wenzhou terpukul hebat, pabrik tidak produksi alias gulung tikar, para pengusaha besar yang memiliki beban tanggung jawab memilih untuk ambil langkah seribu, dan tak terhitung jumlah perusahaan swasta yang kesulitan untuk bertahan hidup.

Kenaikan harga properti di luar rasio

Artikel mengutip data resmi tahun 2000 – 2013 tentang harga real estate di Wenzhou yang membumbung tinggi dari harga per meter persegi yang RMB 2.000 – 3.000 menjadi lebih dari RMB 40.000 per m2.

Umumnya para spekulan properti itu memiliki di tangan beberapa unit bangunan di sejumlah real estate. Tak jarang kita menemukan fenomena di mana perusahaan developer baru melakukan peluncuran penjualan, stok sudah habis terjual.  Bahkan beberapa spekulan terpaksa menempuh jalan belakang untuk membeli unit bangunan dari developer. Pada saat itu, kondisi penjualan real estate di Tiongkok adalah seperti ini.

Dengan banyaknya dana yang mengalir masuk ke dalam pasar properti, dana likuiditas untuk sektor riil akhirnya menjadi terganggu, uang untuk perputaran usaha berkurang dari hari ke hari. Sejak tahun 2010 banyak sektor riil tidak bisa meneruskan operasi, gulung tikar dan bos mengambil langkah seribu menjadi fenomena yang terus terjadi. Setelah itu, muncul perusahaan dan perorangan ramai-ramai ingin menjual properti sehingga harganya pun menurun berturut-turut selama 32 bulan.

Akibat dari kondisi itu, 16 indikator utama ekonomi kota Wenzhou pada 2013 mengalami pukulan berat, pendapatan per kapita  Wenzhou. PDB serta total pendapatan fiskal dan lainnya yang berjumlah 9 indikator pada tahun itu menduduki peringkat paling bawah. Sementara 4 indikkator lainnya berada di nomor 2 dari belakang.

Kabarnya, sejumlah 40 lebih perusahaan yang termasuk ‘100 perusahaan besar kota Wenzhou’ sejak tahun 2010 juga ikut terlibat dalam pengembangan real estate.

Penurunan pertumbuhan ekonomi sektor riil ikut menentukan nasib perbankan di kota Wenzhou, termasuk perusahaan asuransi dan pribadi-pribadi yang mendapatkan pinjaman Bank. Salah satu faktor utamanya adalah, agar dapat berspekulasi dalam bidang keuangan, para pribadi itu membayar pinjaman melalui jalur swasta kemudian mengembalikannya dengan mengambil dana pinjaman yang berasal dari lembaga keuangan resmi. Namun, seiring dengan menurunnya  pertumbuhan ekonomi riil, maka kreditur swasta itu pun satu per satu mengalami kepailitan.

Selain itu, selama bertahun-tahun orang Wenzhou bermain di dunia ‘penggorengan’ dan berhasil menggaet keuntungan besar, tetapi mengabaikan bagian yang berkaitan dengan pelayanan publik. Artikel tersebut menyebutkan bahwa, situasi lalu lintas di kota Wenzhou tergolong buruk, sangat sedikit orang yang mematuhi peraturan lalu lintas, dan investasi di bidang kepentingan umum dan pelayanan masyarakat tidak memadai. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular