Erabaru – Baru-baru ini tiga Gunung Api yakni Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat dan Gunung Gamalama di Maluku Utara kembali menggeliat. Namun demikian aktivitas masyarakat berlangsung normal dan tak berbahaya. Gunung-Gunung tersebut adalah sebagian dari 127 Gunung Api yang masih aktif di Indonesia.

Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM hingga saat terpantau sebanyak 17 Gunung Api di Sumatera, Jawa dan Sulawesi masih berstatus Waspada. Sedangkan Gunung Lokon berstatus Siaga dan Gunung Sinabung bersatus Awas sejak 2 Juni 2016 lalu.

Letusan Gunung Api di Nusantara sudah terjadi sejak zaman purbakala hingga modern. Seperti letusan Gunung Api Merapi di Jogyakarta pada 2010 silam, sudah pernah terjadi pada sekitar 40.000 tahun silam dan sudah berkali-kali meletus dengan dahsyat.

Hal tentang bencana letusan gunung api diungkapkan kembali oleh Ahli Kebumian, Danny Hilman Natawidjaja dalam bukunya Plato Tidak Bohong : Atlantis Ada di Indonesia. Buku yang ditulis doktor bidang Gempa Bumi alumnus California Institute of Technology (Caltech) ini, mengungkapkan sejarah peradaban nusantara dan bencana katastrofi purba.

Tulisan Danny Hilman menyebut bahwa letusan merapi sudah pernah terjadi pada masa sekitar 9000-8618 SM dan terjadi lagi sekitar 1850-1670 SM. Selanjutnya meletus pada 928 M yang konon menyebabkan Raja Mataram Kuno memindahkan keraton kerajaan dari Yogyakarta ke Jawa Timur.

Para ilmuwan menyebut bahwa letusan besar gunung api mempunyai siklus ratusan sampai ribuan tahun. Bahkan untuk siklus  besar sampa ratusan ribu tahun. Letusan Toba purba yang terjadi sekitar 70.000 tahun silam adalah erups yang terkenal dan sangat fenomenal.

Berdasarkan data diperoleh Danny Hilman bahwa Gunung Toba menyebabkan dunia mengalami masa volcanic winter sampai seratus tahunan, bahkan konon dunia dingin selama 1000 tahun berikutnya. Bencana gunung api ini juga konon menyebabkan kepunahan manusia sampai tersisa hanya beberapa ribu orang.

Penelitian LIPU dan Australian National University didapat analisa data oksigen dan karbon isotop dari stalagtit dan stalagmit di dalam goa gamping di Flores yang mengindikasikan bahwa ketika terjadi letusan Toba tersebut seluruh ekosistem di Indonesia rusak total sehingga hampir semua vegetasi mati total.

Menurut Danny Hilman, data karakteristik dan siklus letusan gunung api di Indonesia masih sangat minim. Penelitian yang sudah dilakukan hanya berfokus pada monitoring aktivitas vulkanik yang terjadi. Sedangkan data letusan di masa lampau umumnya masih terbatas hanya sampai tahun 1600 masehi itu pun masih sangat tidak komplit.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan gunung api terbesar dalam sejarah setelah letusan Gunung Taupo di Selandia Baru pada 181 Masehi. Letusan Tambora konon membangkitkan tsunami dengan menewaskan 11.000 orang secara langsung 60.000 jiwa di Indonesia terkena dampaknya. Bahkan ditemukan kerajaan yang tertimbun di bawah endapannya.

Akibat letusan Tambora, dunia mengalami Year with out Summer karena atmosfer dunia terbungkus oleh awan debu muntahan Tambora. Suhu bumi bahkan turun secara tiba-tiba dan banyak panen yang gagal di berabgai pelosok dunia. Selain itu, perubahan iklim tiba-tiba memicu timbulnya wabah penyakit di Eropa.

Letusan Gunung Krakatau pada 1883 silam adalah letusan yang sangat fenomenal dalam sejarah manusia. Letusan ini membangkitkan tsunami besar, pada saat itu menewaskan sekitar 30,000 orang di wilayah Selat Sunda. Letusan ini juga menyebabkan temperatur dunia turun tiba-tiba 10 celcius dan membuat iklim bumi menjadi kacau tidak menentu selama 5 tahunan.

Menurut Danny Hilman dalam bukunya, letusan Krakatau yang tercatat hanya dalam sejarah saja. Belum banyak informasi tentang karakteristik siklus letusan Krakatau dalam jendela waktu yang lebih panjang. Pasalnya, perkembangan Gunung Krakatau sebelum 1883 masih belum banyak diteliti. (asr)

Share

Video Popular