Erabaru.net. Menurut sebuah studi ilmiah yang dilakukan oleh para peneliti sebuah universitas di Hongkong, bahwa mengajarkan anak-anak bagaimana berlatih bela diri mungkin merupakan cara terbaik untuk menjaga mereka dari berkelahi.

Fokus dari studi yang dilakukan di City University of Hongkong (CityU) adalah kebajikan bela diri, yakni dasar moralitas seni olaraga tradisional Tiongkok, dan yang dikenal dengan bahasa Mandarinnya Wu De ( Wushu ).

Tiga ratus lima belas anak-anak, termasuk 244 anak laki-laki dan 71 anak perempuan, dari berbagai sekolah dan latar belakang ekonomi di Hongkong mengambil bagian dalam studi ini, yang bertujuan untuk mengevaluasi “dampak seni bela diri Tiongkok pada anak-anak” dan menjelajahi seni bela diri Tiongkok sebagai “intervensi mengurangi keagresifan”, seperti yang dijelaskan dalam situs CityU.

Temuan studi menunjukkan, bahwa anak-anak yang menerima pendidikan seni dan etika bela diri, menunjukkan pengurangan yang signifikan dalam perilaku agresif atau antisosial seperti intimidasi atau perkelahian. Mereka juga menemukan lebih mudah fokus.

Keterampilan vs etika

Para peserta menyelesaikan survei untuk menilai tingkat agresivitas yang ada, dan kemudian dibagi menjadi empat kelompok yang termasuk kombinasi fokus pembelajaran yang berbeda – keterampilan seni bela diri, etika seni bela diri, keduanya, dan tidak sama sekali. Kelompok yang “tidak sama sekali” sebagai kontrolnya.

Instruksi didalam kelompok “etika bela diri”, mengajar kan anak-anak untuk menonton film bertema seni bela diri seperti Fearless, Ip Man 2, dan Kung Fu Hustle. Instruktur juga memimpin diskusi dan bermain peran skenario untuk mensimulasikan konflik sosial antar individu untuk membantu anak-anak mempelajari etika yang digambarkan oleh tokoh-tokoh film. Anak-anak belajar untuk membaca peribahasa seperti, “Mereka yang tidak bisa melawan akan berakhir dengan pertempuran, mereka yang bisa melawan tidak akan menyerang orang lain.”

Semua kelompok, termasuk kelompok kontrol, menunjukkan perbaikan perilaku, tetapi perubahan yang paling mencolok terjadi pada anak-anak yang belajar keterampilan dan etika. Ketika dihadapkan dengan situasi defensif, respon agresif mereka menurun lebih dari 40 persen, dan 65 persen lebih kecil kemungkinannya untuk memulai konflik.

Anak-anak yang termasuk kelompok keterampilan (kelompok yang menunjukkan sedikit perbaikan yang dramatis), akan tetapi mereka yang hanya dididik etika tidak mengalami perubahan yang signifikan secara statistik.

Kebajikan 

Lee Kahung, seorang praktisi seni bela diri dan pekerja sosial, mengatakan bahwa penelitian terakhir sebagian besar dibatasi pada efek seni bela diri terhadap kesehatan fisik. Ia percaya bahwa penelitian CityU dapat membantu memopulerkan disiplin tradisional. Dapat menurunkan tren yang kian marak akibat banyak anak-anak yang dimanjakan oleh orang tua mereka. Anak-anak seperti itu, sering kali berperilaku keras kepala dan nekad, serta cenderung menggunakan paksaan untuk mencapai tujuan mereka.

Menurut Li Youfu, master seni bela diri Tiongkok yang terkenal dari Beijing, seni bela diri tradisional berakar pada filsafat spiritual Tao atau bermakna Jalan, sementara disiplin ilmu modern sebagian besar telah meninggalkan karakteristik penting ini.

“Banyak orang, termasuk beberapa pemula yang melihat seni bela diri Tiongkok hanyalah sebagai keterampilan yang ditetapkan untuk pertempuran tangan kosong,” kata Dr. Fung, seorang ahli psikologi anak dan peneliti utama proyek dalam penelitian CityU, “Namun esensi dari bagian dari warisan budaya kita ini terletak pada kode-kode etik.”

Ibu dari seorang putra berusia 11 tahun, Leung Ho-hei, yang telah berlatih selama empat tahun, mengatakan bahwa dia tertarik pada disiplin ilmu ini dikarenakan berfokus pada moralitas. Dulu, putranya akan secara impulsif melayangkan tinju jika ia diejek, tapi setelah mempelajari seni bela diri ia dapat menahannya.

Penghormatan tradisional terhadap guru dan kebajikan, telah sangat mempengaruhi Hong Yi-hei (9 tahun), yang dulunya sering kali menyakiti adiknya. Setelah kedua bersaudara ini berlatih, sang ibu melaporkan bahwa perilaku Yi-hei terhadap adik laki-lakinya semakin membaik.

“Sudah jelas bahwa kita dapat mencegah anak-anak yang berperilaku agresif menjadi agresif-dewasa yang bisa melakukan kejahatan dan kekerasan,” kata Dr. Fung. “Kami berharap metodologi pengajaran yang berdasarkan seni bela diri Tiongkok dapat diturunkan dari penelitian ini dan diadopsi oleh sekolah setempat dalam waktu dekat.” (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular