Oleh Li Keheng

Mantan pejabat CIA urusan kontra terorisme Evan McMullin pada Senin (8/8/2016) mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden mewakili golongan konservatif AS. Akankah ia menjadi pesaing baru Donald Trump?

Saat menerima wawancara stasiun TV ABC, Evan mengatakan, “Tampaknya masyarakat AS sudah kehilangan kepercayaan terhadap kedua kandidat presiden, dan sekarang adalah saatnya generasi baru untuk tampil memimpin AS.”

“Melakukan hal yang benar selalu tidak ada kata terlambat. Amerika membutuhkan seorang pemimpin yang mampu memberikan yang lebih baik daripada yang diberikan oleh Trump dan Hillary. Oleh karena itu, saya dengan segala kerendahan hati ingin menawarkan diri untuk memangku jabatan tersebut, agar jutaan warga AS yang tidak puas terhadap kedua kandidat itu bisa mendapatkan seorang calon presiden dari golongan konservatif,”  katanya.

Pencalonan diri Evan sebagai capres AS mendapat dukungan dari beberapa anggota Partai Republik seperti Konsultan veteran dari Partai Republik Rick Wilson, pakar pengumpul suara masyarakat dari Florida juga ahli strategi Partai Republik, Joel Searby. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan anti Trump dari dalam Partai Republik sendiri masih terus berlangsung meskipun jarak pemilu sudah tinggal 3 bulan.

Better for America, adalah sebuah organisasi non-profit yang diprakarsai oleh John Kingston bersama Joel Searby yang dedikasikan untuk mendapatkan akses suara nasional demi calon independen dalam pumilu AS 2016. Upaya itu terinspirasi oleh tidak populernya dua nominasi partai besar, Donald Trump dan Hillary Clinton, dan dipandang sebagai bagian dari gerakan menghentikan laju Trump.  Organisasi itu merasa yakin bahwa Evan McMullin akan mampu mengemban tugas untuk bersaing dengan Donald Trump, berharap Evan dapat memenangkan suara di beberapa daerah yang pro Republik, karena di sana masih ada sejumlah simpatisan Republik yang anti Trump.

Evan kini berusia 40 tahun, lahir di Utah dan lulusan hukum internasional dan diplomatik profesional dari Brigham Young University, selain itu, ia juga meraih gelar MBA dari Wharton School at the University of Pennsylvania.

Saat kejadian 11 September 2001, ia sedang menjalani pelatihan di markas CIA yang terletak di Langley, Virginia. Setelah selesai pelatihan ia pun secara sukarela ikut memimpin operasi kontra terorisme dan Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Selatan. Termasuk terlibat memimpin operasi intelijen di beberapa negara yang aksi terornya tinggi.

Pada 2013, Evan diangkat menjadi penasihat keamanan nasional urusan luar negeri DPR-AS, kemudian dipercaya untuk menjabat Direktur Kebijakan Partai Republik di DPR-AS. (soundofhope/sinatra/rmat)

Share

Video Popular