Antidepresan golongan penghambat pengambilan kembali serotonin secara selektif (selective serotonin re-uptake inhibitor (SSRI) adalah obat yang paling banyak dikonsumsi di Amerika Serikat. Penjualannya mencapai puncaknya pada tahun 2008 dan telah mengalami penurunan sebesar 4 persen setiap tahun setelah tahun 2008, menurut penelitian dan pasar.

Ada banyak alasan mengapa terjadi penurunan penjualan antidepresan golongan SSRI, dari efek samping yang tidak diinginkan seperti penambahan berat badan, disfungsi seksual hingga “Prozac yang tidak bermanfaat” di mana terjadi toleransi pada penderita sehingga pil berhenti bekerja pada tubuh.

Namun, alasan utama untuk penurunan penjualan antidepresan golongan SSRI adalah efek sampingnya yang menyebabkan perilaku bunuh diri dan cacat lahir.

Pada tahun 2004, FDA memasukkan antidepresan golongan SSRI ke dalam peringatan “Kotak Hitam”, yang menyoroti risiko bunuh diri dan perlunya pemantauan yang ketat pada anak-anak dan remaja terhadap timbulnya pikiran dan perilaku bunuh diri. Reaksi cepat datang dari dokter yang mendukung penggunaan obat ini. Peringatan “Kotak Hitam” terkesan menakut-nakuti dokter dan penderita, mereka keberatan—seolah-olah itu bukanlah merupakan peringatan. Suara pendukung penggunaan obat ini bahkan mencoba menyalahkan peringatan “Kotak Hitam” untuk meningkatkan kejadian bunuh diri, tetapi mereka gagal. Sayangnya, mereka menggunakan data dari tahun yang salah.

Terkait masalah risiko bunuh diri yang diakibatkan oleh antidepresan golongan SSRI, pada bulan September 2015, British Medical Journal menegaskan obat apa yang aman dipakai selama 15 tahun—bahwa pada data keamanan Paxil (obat depresan) yang asli telah terjadi kesalahan menggolongkan perilaku bunuh diri sehingga membuat Paxil tampak aman; padahal sebenarnya Paxil mengakibatkan risiko bunuh diri yang lebih tinggi untuk orang muda daripada yang dilaporkan.

Antidepresan golongan SSRI pada kehamilan

Laporan mengenai cacat lahir yang dikaitkan dengan antidepresan golongan SSRI mulai muncul ke permukaan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, fenomena yang sama masih tetap terjadi. Pada tahun 2005, FDA memperingatkan para profesional kesehatan dan penderita bahwa Paxil “meningkatkan risiko cacat lahir, terutama cacat jantung, jika dikonsumsi oleh wanita selama tiga bulan pertama kehamilan”. Tahun berikutnya, dokter menulis di Journal of the American Medical Association (JAMA) bahwa wanita yang tidak mengonsumsi antidepresan selama kehamilan akan mengalami “kekambuhan” depresi. Ternyata para penulis memiliki 60 hubungan keuangan dengan perusahaan farmasi dan penulis utama adalah pembicara yang dibayar oleh tujuh produsen obat. JAMA dipaksa untuk meralat .

Sejak itu, hanya terjadi peningkatan peringatan akan adanya cacat lahir. Pada tahun 2012, sebuah penelitian yang menonjol dalam Journal of Clinical Psychiatry menemukan hubungan antara antidepresan golongan SSRI dengan gangguan “hipertensi pulmonal persisten” yang terkait dengan masalah jantung pada bayi baru lahir. Tahun lalu, ABC News melaporkan sebuah penelitian pada ribuan wanita hamil yang mengonsumsi antidepresan telah menunjukkan peningkatan cacat lahir.

Tetapi pada Mei tahun ini, para peneliti yang mendukung penggunaan antidepresan golongan SSRI kembali membantah risiko tersebut. Mereka menulis bahwa depresi ibu hamil yang tidak diobati, sama dengan depresi yang diobati bukan menggunakan antidepresan golongan SSRI, sehingga meningkatkan “kecenderungan persalinan prematur serta bayi baru lahir yang kecil untuk usia kehamilan”. Risiko tersebut “tidak terjadi pada wanita hamil yang diobati dengan obat antidepresan, “tulis mereka.

Para peneliti tidak menyembunyikan fakta bahwa mereka mencoba untuk melawan kekhawatiran terjadinya cacat lahir. “Sebanyak 75 persen dari 200.000 penerima asuransi kesehatan yang menghentikan konsumsi antidepresan golongan SSRI sebelum atau selama trimester pertama kehamilan diberitahukan secara terus-menerus mengenai keamanan antidepresan yang dikonsumsi selama kehamilan,” kata mereka.

Para peneliti mengakhiri artikel mereka dengan saran untuk dilakukan skrining. “Hasil yang kami peroleh memberi dukungan tambahan bagi kesehatan masyarakat dan upaya klinis yang bertujuan melakukan skrining terhadap masalah depresi ibu hamil selama kehamilan sebagai cara untuk mengidentifikasi ibu hamil yang berisiko lebih besar terhadap hasil kandungan yang merugikan. Mereka menyarankan untuk melakukan pencegahan terjadinya depresi sehingga dapat menurunkan risiko hasil kandungan yang merugikan” , tulis mereka.

Sepertinya peneliti hanya peduli mengenai kesehatan masyarkat dan telah mengabaikan wanita, banyak profesional medis dan wartawan telah melaporkan bahwa skrining dan intervensi sering menjadi alat penjualan perusahaan obat. Dalam “Bagaimana kita lakukan hal yang berbahaya,” Dr Otis Brawley, kepala medis dan staf ilmiah dari American Cancer Society dan seorang ahli kanker, mencurahkan satu bab mengenai bagaimana skrining prostat yang sering dilakukan demi uang dan kadang menyebabkan bencana.

TeenScreen yang sekarang sudah tidak digunakan lagi untuk orang-orang muda dengan tanda awal depresi ternyata memiliki “hubungan dengan industri farmasi,” Scientific American melaporkan.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular