Oleh Liu Xiaozheng

Ada sumber yang menyebutkan bahwa pertemuan sambil berlibur para top pimpinan Tiongkok di Beidaihe yang masih berlangsung sampai sekarang ini memang tidak mengagendakan pembahasan isu siapa pengganti Presiden Xi Jinping. Konon, Xi Jinping memang bermaksud untuk memperpanjang masa jabatannya hingga lebih dari 10 tahun.

Pertemuan Beidaihe yang diadakan setiap tahun itu selain digunakan untuk berlibur musim panas juga dimanfaatkan oleh para pejabat teras Tiongkok untuk ‘kongkow-kongkow’ dengan para senior dalam rangka tukar pikiran tentang isu-isu penting yang terjadi di dalam negeri Tiongkok.

Sebelumnya pernah terdengar rumor di luaran yang mengatakan bahwa pertemuan Beidaihe kali ini mungkin bisa membahas 3 isu yang menyangkut. Pertama, otoritas berencana untuk  meniadakan/membubarkan Komite tetap Politbiro. Kedua, menghapus aturan tidak resmi soal usia memangku jabatan yang ‘7 Naik 8 Turun.’ Ketiga yaitu membatalkan sistem penunjukan pemimpin  dari antar generasi.

Sejumlah media asing mengutip pengungkapan sumber-sumber politik Beijing melaporkan, topik utama yang dibahas dalam pertemuan Beidaihe kali ini masih sekitar penyusunan personil tingkat tinggi yang akan diusung ke Sidang Paripurna Partai Komunis Tiongkok/PKT ke 19 tahun depan.

Kedua yaitu soal isi draft tentang ‘Pengawasan Internal Partai (Komunis Tiongkok)’ yang akan diajukan untuk disahkan menjadi undang-undang melalui Kongres ke 6. Ketiga adalah isu kebijakan ekonomi.

Ada kabar pada 10 Agustus kemarin, yang menyebutkan bahwa pertemuan rahasia hari itu tiba-tiba memutuskan untuk tidak membicarakan soal calon pengganti Presiden Xi Jinping, konon, Xi Jinping memang bermaksud untuk memperpanjang masa jabatannya hingga lebih dari 10 tahun.

AFP mengutip prakiraan seorang ahli dari Hongkong menyebutkan bahwa setelah masa jabatan 10 tahun berakhir, sangat besar kemungkinan Xi Jinping tidak pensiun.

Profesor Victor Shih dari University of California San Diego mengatakan, Xi Jinping menjadikan dirinya sebagai ketua organisasi baru yang memiliki kuasaan paling besar. Ambisi untuk tetap memagang jabatan cukup menonjol.

Pada April tahun ini, media asing berbahasa Mandarin sudah melaporkan bahwa sidang paripurna yang diadakan tahun depan itu tidak akan ada agenda yang membahas calon pengganti Xi Jinping.

Sarjana asal Shanghai Yang Lucun kepada media Hongkong mengatakan, Tiongkok saat ini sedang berada di persimpangan jalan, sidang paripurna yang diselenggarakan pada tahun depan itu akan dihadapkan pada ketiga isu utama Tiongkok. Apakah Xi Jinping akan mendobrak kebiasaan dengan keberaniannya untuk melanggar aturan tak tertulis demi menciptakan situasi baru yang tentunya  memiliki makna penting bagi arah pembangunan ekonomi.

Selain itu, Luo Yu, putra almarhum jenderal PKT Luo Ruiqing pada awal tahun ini juga pernah menyinggung soal Xi Jinping mungkin saja tidak akan mengikuti cara-cara PKT memilih pemimpin yang dilakukan lewat baik Sidang Paripurna ke 19 atau ke 20.

“Jelas ia menghendaki perombakan.” Mungkin menggunakan sistem presidensial, jadi siapa yang memenangkan pemilihan, dialah yang menjadi presiden. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular