Oleh Li Modi

Pakar dalam bidang investasi yang cukup tersohor di AS, Jim Rogers baru-baru ini mengemukakan bahwa ekonomi global sedang menghadapi krisis. Sementara itu, pakar dalam bidang keuangan internasional menghimbau investor agar menjual saham yang ada di tangan dan keluar dari pasar.

Menurut Rogers bahwa guncangan yang terjadi di pasar saham dalam tahun-tahun terakhir ini masih bisa berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Harga saham di pasaran global akan mengalami penurunan. Dan kebijakan pelonggaran moneter seperti saat ini tidak akan berlangsung lama.

Ia mengatakan bahwa pasar saham internasional selama 2 bulan terakhir ini terkena dampak dari isu-isu seperti Brexit, serangan teroris, kejadian harga saham perbankan Eropa di pasar saham yang menyusut hampir 50 % dan lain sebagainya. Ia memperkirakan bahwa harga saham di pasaran global dalam beberapa tahun ke depan bisa jatuh hingga 75 – 80 %.

Saat ini tampaknya pasar saham dan obligasi masih meningkat. Meskipun pada kenyataannya, di bawah permukaan sedang terjadi penurunan kinerja sebagian besar perusahaan yang go public itu, dan kondisi seperti ini masih bisa bertahan karena Bank-Bank Sentral sedang menerapkan pelonggaran moneter, memperbanyak uang beredar di pasar.

Tetapi, metode mencetak uang ini bukan solusi dan bisa bertahan lama. Walaupun tidak mudah untuk memprediksikan kapan waktunya, tetapi pasti pada akhirnya harga saham di pasaran global akan mengalami kejatuhan yang cukup parah.

Analisis Rogers menemukan dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan menyebabkan organisasi Eropa itu mengalami perpecahan, Ekonomi Prancis yang saat ini lebih buruk dari Jerman mungkin menjadi calon yang akan mengikuti jejak Inggris.

Sementara itu, ketegangan militer di kawasan baru-baru ini, isu pemilihan presiden AS dan lainnya akan memberikan dampak tertentu pada perdagangan keuangan internasional.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, sikap risk aversion dari para investor cukup menonjol, hal itu bisa kita lihat dari harga emas yang naik sekitar 27 %.

Masyarakat keuangan internasional menyarankan investor untuk melepas saham

Bulan lalu Goldman Sachs lagi-lagi memperkirakan akan terjadi bearish trend pada pasar saham global, dan mengemukakan bahwa meskipun Bank Sentral setiap negara telah dengan sekuat kemampuannya menerapkan kibijakan pelonggaran moneter tetapi mereka juga tidak menjamin bahwa pasar saham tidak akan bearish. Oleh karena itu, Goldman menghimbau investor untuk menjual saham yang ada di tangan dalam 3 bulan ke depan ini dan keluar dari pasar.

Goldman Sachs dalam laporan singkat mingguan mereka menyebutkan, harga saham pasar global akan jatuh.

“Jual saja saham yang ada, dan pergilah jauh-jauh dari pasar selama 365 hari,” katanya.

Kepala strategi ekuitas Goldman, David J. Kostin mengatakan harga saham akan anjlog setelah mencapai titik tertinggi. Dan tidak akan muncul pemenang di pasar.

Investor internasional yang dijuluki ‘raja bond Amerika’ Bill Gross baru-baru ini mengatakan bahwa return of investment saat ini menjadi rendah karena kondisi suku bunga 0 %. Oleh karena itu, para investor harus mengurangi kepemilikan atas asset yang beresiko. Sedangkan pendiri dan CEO perusahaan Doubleline Capital Jeffrey Gundlach bahkan meneriakkan kata-kata, “Jual semuanya!”

Wall Street Journal pada Juni mengutip ucapan sumber yang akrab dengan George Soros memberitakan bahwa pada Juni itu Soros telah melakukan serangkaian operasi yang menimbulkan kondisi bearish pada pasar saham.

Analisa:Bursa saham Tiongkok juga akan menghapai hal yang sama

Artikel di media ‘china financial on-line’ pada 9 Agustus menyebutkan bahwa kita perlu menaruh perhatian pada beberapa peringatan yang sudah disampaikan oleh para predator modal internasional ini. jika apa yang mereka perkirakan itu terjadi, harga saham global anjlog, maka bursa saham Tiongkok juga tak terkecuali, akan menghadapi hal yang sama.

Media berbahasa Mandarin ‘BWCHINESE’ dalam sebuah artikelnya yang dipublikasikan pada 9 Agustus mengatakan, banyak ahli percaya bahwa ketidakpastian kian terasa di dunia sekarang ini. Mantan Ketua SFC Hongkong Sheng Liantao menilai, ketidakpastian ini sekarang sudah tercermin dalam hal geopolitik, iklim, teknologi, kebijakan moneter non-konvensional serta penghancuran kreativitas, sehingga pemerintah Tiongkok juga sudah harus bersiap-siap untuk menghadapinya. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular