Oleh: Cao Changqing

Olimpiade 2016 resmi dibuka di Rio De Janeiro, Brazil. Ada ungkapan bahwa banyak hal tak terduga dalam suatu pertandingan, kalah menang sulit diprediksi, tapi Olimpiade tahun ini, ada dua hal yang bisa dipastikan: pertama, salah memilih negara, kedua, Amerika Serikat akan meraup medali terbanyak.

Brazil paling tidak cocok untuk menyelenggarakan Olimpiade, karena politik di Brazil sedang bergolak, ekonomi merosot, keamanan sangat buruk, berbagai kondisi sangat tidak memungkinkan. Mari kita bahas lebih dulu soal pergolakan politik.

Presiden Brazil yang terdahulu Lula diadili karena terlibat skandal perusahaan minyak. Dan presiden sekarang Dilma Vana Rousseff dilengserkan oleh Dewan Rakyat dengan 55 suara berbanding 22 suara karena telah melanggar hukum, dan dalam waktu dekat ini Dewan Senat akan memungut suara untuk memutuskan apakah mencabut selamanya semua kekuasaan kepresidenan dari tangan Rousseff.

Rousseff adalah presiden sayap kiri yang paling terkenal di negara demokrasi. Dulunya dia adalah pemimpin gerilyawan anti-pemerintah, di dalam keluarganya terdapat empat orang anggota partai komunis (mulai dari ayahnya yang merupakan imigran Bulgaria, dua orang mantan suaminya, ditambah Rousseff sendiri).

Dia menciptakan rekor catatan yang menarik perhatian banyak orang yang bahkan melebihi Presiden Obama. Dia tidak pernah menjabat posisi pemerintahan apa pun (baik kepala desa atau camat atau walikota maupun gubernur, sama sekali tidak pernah ikut kampanye) namun bisa menapak langit dalam sekali lompatan dan menjadi presiden, karena dia didukung penuh oleh presiden sebelumnya yakni Lula.

Melongok pada perekonomian Brazil, saat ini sedang dalam kesulitan yang lebih parah dibandingkan sektor politiknya. Menurut data dari IMF, tahun lalu ekonomi Brazil telah menyusut sebesar 3,8% dan tahun ini diprediksi akan anjok lagi dan menjadi 3,3%. Dan dengan digelarnya Olimpiade Rio, perekonomian Brazil justru semakin terpuruk, karena pengeluaran terlalu besar, negara bagian Rio sendiri telah mengumumkan keadaan darurat ekonomi (bencana publik), pemerintah pusat buru-buru mengalokasikan dana bantuan, yang akhirnya menyebabkan keuangan negara semakin tidak stabil, angka defisit pun meroket.

Sedangkan keamanan, hanya bisa berdoa pada Tuhan. Bagaimanapun  di luar kota Rio berdiri sebuah patung raksasa Yesus dengan megahnya. Seluruh Brazil berada dalam mimpi buruk keamanan, Rio benar-benar zona bencana serius.

Brazil tidak hanya mengalami pergolakan politik, kemerosotan ekonomi dan kriminalitas yang buruk, baru-baru ini juga mengalami wabah penyakit virus Zika yang menyebar lewat gigitan nyamuk, meskipun Olimpiade kali ini cabang olahraga golf telah diikutkan, tapi para pemain golf kelas dunia seperti Janson Day, McLlroy, Scott dan lain-lain telah mengumumkan batal mengikuti perlombaan golf Olimpiade Rio. Mereka lebih memilih merelakan medali Olimpiade, daripada digigit nyamuk pembawa virus.

Karena merebaknya virus, sebelum perlombaan berlangsung sebanyak 150 orang dokter dari 20 negara beserta ilmuwan mengirim surat edaran bersama kepada WHO, menghimbau agar Olimpiade Rio diundur, atau dibatalkan, atau memilih negara lain. Tapi Brazil mati-matian tidak setuju, bagi mereka tak mudah mendapatkan kesempatan ini, dan mutlak harus dipertahankan.

Mengapa harus memilih negara yang begitu buruk untuk menggelar Olimpiade? Karena pembenaran politik!

Waktu itu ada tiga kota dari Amerika, Jepang dan Spanyol bersaing, tapi akhirnya yang dipilih adalah Brazil. Ini memecahkan rekor, karena pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Selatan! Untungnya Olimpiade 2020 telah ditetapkan di Tokyo. Olimpiade berikutnya, jika terus ada pembenaran politik, mungkin Somalia, atau Kuba, akan terpilih, toh kualitas sudah tidak penting lagi, seakan yang terpenting adalah menciptakan rekor “pertama kali” yang membosankan itu, seperti AS melahirkan presiden kulit hitam pertama, kini sedang berusaha melahirkan presiden wanita yang pertama.

Semua uraian di atas, memprediksi bencana berturut-turut pada Olimpiade Rio, jika tidak mengalami serangan teroris, bisa dikatakan sangat mujur. Polisi Rio mogok kerja karena gaji yang terlalu rendah, Brazil kerahkan militer untuk amankan Olimpiade.

Sampai seberapa buruk Olimpiade Rio sulit untuk diprediksi, tapi bisa dipastikan, dalam Olimpiade kali ini, AS akan mengantongi medali terbanyak. Dalam beberapa kali Olimpiade terakhir, pada dasarnya selalu AS, Rusia, dan RRT yang saling bersaing. Sekarang Rusia sedang dalam penyelidikan doping olahraga yang tersistematis berkat “bantuan pemerintah”, Komite Olimpiade Internasional telah melarang sejumlah atlet Rusia untuk bertanding, jadi perolehan medali Rusia akan berkurang.

Di AS, jika pemerintah kedapatan “membantu” atletnya menggunakan doping, maka pejabat terkait akan dihukum pidana. Jika atlet terbukti menggunakan doping, orang Amerika tidak akan menggunakan alasan “patriotis” atau “mengharumkan nama bangsa” untuk melindungi orang seperti itu, dan orang lain akan mengucilkannya, sehingga nama baik pelaku akan hancur tak berbekas. Seperti atlet sprinter wanita Jones yang memenangkan beberapa medali pada Olimpiade sebelumnya, jaya sesaat, kemudian terbukti gunakan doping, semua medalinya disita kembali, nama baiknya pun hancur, sampai-sampai kredit rumah seharga USD 200.000 pun tak mampu dibayarnya. Contoh lain, juara balap sepeda Tour de France asal AS Lance Armstrong, setelah kedapatan menggunakan doping, Lance tidak berani terlihat di muka umum, sudah hampir tenggelam dari publik.

Dulu saya pernah menulis berita, sistem dan aturan olahraga di negara RRT dan AS sangat berbeda. RRT mengerahkan segala kemampuan negara untuk menggelar ajang olahraga elite, pemerintah mengeluarkan banyak uang untuk membentuk tim nasional. Bahkan dana untuk melatih atlet mulai usia dini pun menggunakan uang negara (seperti atlet senam dan lain-lain).

Sedangkan pemerintah AS tidak mengeluarkan uang untuk membina atlet, semuanya atas swadaya perorangan membuka kelas pelatihan, atau orang tua (yang pernah menjadi atlet) membina anaknya sendiri, inilah olahraga rakyat yang sesungguhnya. Seperti dalam Olimpiade Rio kali ini, tim perwakilan RRT telah tiba di Rio belasan hari sebelumnya untuk menyesuaikan diri dengan cuaca dan iklim setempat, lalu berlatih di Rio. Sedangkan AS baru menggelar pertandingan kualifikasi untuk memilih atlet Olimpiade empat minggu sebelum Olimpiade Rio dimulai.

Olahraga elite tidak akan bertahan lama. Seperti Jerman Timur, Romania, dan negara komunis lainnya begitu kolaps, maka tim atlet binaan negara pun ikut tercerai berai, fenomena juara renang atau senam pun tidak pernah ada lagi. Karena tidak ada lagi dana besar dari negara, doping tidak berani dipakai sembarangan, dan medali emas pun lenyap sudah.

Tim AS kali ini akan memenangkan medali emas terbanyak, selama 5 kali Olimpiade mulai 1996, 2000, 2004, 2008 dan 2012, kontingen AS selalu menjadi juara umum peraih medali terbanyak. Salah satu alasan AS berprestasi seperti ini adalah karena AS mengirimkan atlet wanita terbanyak (kali ini sebanyak 292 orang, dan tetap yang terbanyak dalam ajang Olimpiade), atlet wanita AS adalah yang terkuat di dunia.

Dalam Olimpiade London lalu, tim AS memenangkan 46 medali emas, dan 29 medali emas diraih oleh atlet wanita, sekitar 63% dari perolehan medalinya. Atlet pria ikut dalam 161 cabang olahraga, dan wanita di 134 cabang, atlet pria memiliki peluang 20% lebih besar daripada atlet wanita, tapi pada akhirnya tetap kalah soal perolehan medali dibandingkan atlet wanita.

Olimpiade Rio kali ini, atlet wanita AS akan memenangkan lebih banyak lagi medali. Atlet wanita AS tidak hanya kuat di cabang olahraga renang, atletik, bahkan angkat berat, tapi di empat cabang olahraga bola (basket, sepak bola, voli, dan tenis) juga sangat unggul. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular