Bayangkan perasaan kelelahan kronis dapat menguras setiap tetes energi tubuh Anda. Lebih dari itu, Anda merasa seolah-olah terserang infeksi. Tenggorokan sakit, tubuh sakit, memori dan kemampuan untuk berkonsentrasi terganggu.

Bagi 1 juta hingga 2,5 juta warga Amerika yang menderita sindrom kelelahan kronis, hal diatas dialami mereka dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mengalami kondisi ini, untuk melakukan olahraga saja hampir mustahil baginya, bahkan stres kecil pun dapat menghancurkannya. Mungkin saja penderita telah tidur lebih dari 12 jam setiap malam na¬mun masih saja tidak mampu mengatasi perasaan letih yang luar biasa.

Sindrom kelelahan kronis adalah suatu kondisi tubuh yang kompleks, ia memiliki sejumlah nama seperti sindrom Epstein-Barr, sindrom mononukleosis kronis, dan ensefalopati myalgic, serta banyak lainnya. Pada tahun 1980-an, ia dijuluki sebagai “flu yuppie” karena tampaknya ia menyukai tipe profesional-A yang bekerja terlalu keras dan lama.

Memiliki banyak nama, menimbulkan masalah bagi kondisi ini, dan sering kali mereka tidak menyertakan si penderita. Istilah yang terbaru adalah systemic exertion intolerance disease (SEID), yang berusaha keras dibuat menjadi lebih akurat dan inklusif mewakili penyakit ini.

Suatu komite yang diselenggarakan oleh Institute of Medicine (IOM) meluncurkan nama baru tersebut dalam laporan tahun lalu, bersama dengan seperangkat kriteria diagnostik baru untuk mengidentifikasi penyakit tersebut.

Menurut laporan, nama baru tersebut “menangkap karakteristik utama dari penyakit: faktanya tenaga dalam bentuk apa pun (fisik, kognitif, atau emosional) dapat memengaruhi pasien dalam banyak sistem organ dan aspek kehidupan mereka.”

Sampai beberapa tahun terakhir ini, banyak dokter yang meragukan gangguan tersebut tidak ada sama sekali, menunjukkan bahwa perasaan yang dialami orang kelelahan kronis hanya berada di benak para penderita.

Di masa lalu, kelelahan kronis dianggap sebagai sindrom psikosomatis yang cenderung bernada olok-olokan daripada penyakit yang serius. Pada tahun 1999, Centers for Disease Control (Pusat Penanggulangan Penyakit) telah mengungkapkan bahwa mereka mengambil dana yang dialokasikan untuk meneliti sindrom kelelahan kronis dan memindahkan uang tersebut untuk proyek-proyek lain yang dianggap lebih penting.

Namun, waktu telah berubah. Penelitian baru-baru ini telah menyimpulkan bahwa sindrom kelelahan kronis memang memiliki penyebab fisik, dan sebagian besar profesional medis sekarang mengakui bahwa kondisi itu nyata.

Namun, stigma masih saja tetap ada. Laporan IOM menemukan bahwa terdapat kurang dari sepertiga kurikulum sekolah kedokteran yang membahas gangguan tersebut, sementara itu banyak profesional kesehatan yang tetap bersikap skeptis tentang keseriusan kondisi tersebut. Laporan itu menyatakan bahwa beberapa dokter masih “salah menganggap sebagai suatu kondisi kesehatan mental, atau menganggapnya bagian dari imajinasi pasien”.

Karena kerancuan tersebut, banyak dokter masih meragukan untuk mengidentifikasi kelelahan kronis. Bahkan ketika mereka melakukannya, pilihan pengobatan konvensional masih terbatas. Pemulihan jadi lambat, dan kemunduran kondisi menjadi umum.

Epoch Times mewawancarai seorang naturopati (metode pengobatan yang menggunakan sarana alami seperti makanan, latihan fisik, panas, udara, air, cahaya, dan sarana fisiologis lainnya), Dr. Chad Larson, untuk memahami apa yang menyebabkan terjadinya kelelahan kronis, mengapa begitu sulit untuk mendiagnosanya, dan bagaimana mengobatinya secara holistik.

Dr. Chad Larson adalah seorang naturopati, chiropractor, ahli gizi, serta spesialis pelatihan kekuatan dan pengondisian di California. Ia juga seorang konsultan klinis untuk Cyrex Laboratories, sebuah laboratorium imunologi klinis yang mengkhususkan diri dalam imunologi fungsional dan autoimunitas.

Epoch Times (ET): Bagaimana rasanya memiliki kelelahan kronis?

Dr. Chad Larson: Orang dengan kondisi ini bisa melakukan upaya keras dengan cara yang mungkin tampak sepele bagi orang sehat, tetapi mereka dapat lumpuh akibat kelelahan. Kelelahan ini hingga ke tingkat di mana mereka tidak hanya merasa lelah dan tidak termotivasi, namun mereka tidak bisa bergerak. Mereka terjebak di sofa atau tempat tidur. Ini sangat melemahkan.

Gejalanya mirip flu, seperti sakit tenggorokan, kelenjar getah bening, dan sakit kepala ringan kronis, sering kali menyertai kondisi tersebut. Ini adalah kondisi multi sistemik, yang berarti bahwa hal itu bisa memengaruhi otak dan neurotransmitter, hormon adrenal, sistem kekebalan tubuh, dan sistem gastro intestinal.

Gejala lain yang umum adalah otot kelas rendah kronis dan nyeri sendi.

Kelelahan adalah benang merahnya, tapi bisa ada dalam berbagai gejala nyata dari setiap orang.

ET: Saya pernah membaca bahwa karena kondisi yang begitu rumit, beberapa dokter enggan untuk mengidentifikasinya. Apa yang membuatnya begitu sulit untuk didiagnosa?

Dr. Chad: Tiap-tiap orang dapat bervariasi secara dramatis. Beberapa diantaranya memiliki titer yang tinggi [ukuran jumlah antibodi dalam darah] untuk virus Epstein Barr (EBV), yang juga dikenal sebagai mono. Beberapa orang mengatakan, “Saya merasa seperti ini sejak menderita mono.” Namun beberapa tidak memiliki EBV sama sekali.

Dalam penelitian sebelumnya, peneliti menemukan ada sekelompok virus yang berbeda sehubungan dengan kelelahan kronis, yakni EBV, cytomegalovirus, virus herpes manusia tipe-6 (HHV6), dan penyakit Lyme. Tetapi ada beberapa yang memiliki virus, dan sebagian tidak.

Kita memandang masalah kelelahan kronis secara klinis bukanlah seperti hitam-putih. Kita menginginkan dapat mengetahui hubungan sebab dan akibat, namun tampaknya hal ini tidak cocok dengan kelelahan kronis.

Tidak ada tes laboratorium yang sempurna untuknya. Bahkan tidak ada satu perangkat kriteria klinis yang sempurna untuk mendiagnosanya. Saya pikir terkadang akan berakhir sebagai diagnosa seadanya. Anda melihat rangkaian kriteria yang ditetapkan, Anda mengesampingkan banyak hal lainnya, dan kemudian ada sindrom kelelahan kronis.

ET: Cornell University baru saja memublikasi sebuah studi yang menunjukkan bahwa mereka kini telah memiliki alat untuk mengidentifikasi kelelahan kronis melalui bakteri usus. Bagaimana pengetahuan kita muncul dari microbiome yang membantu kita memahami penyakit ini?

Dr. Chad: Ada beberapa perkembangan yang sedang kita amati yang saya pikir akan menambahkan sedikit cerita. Salah satunya pasti microbiome manusia. Yang lain adalah efek pada otak, dan keterlibatannya dalam kelelahan kronis

Kini, ada banyak studi besar yang dilakukan, karena kita telah banyak mempelajari bagaimana microbiome manusia memengaruhi semua di dalam tubuh. Jika Anda menghitung jumlah sel-sel dalam tubuh, ada lebih banyak bakteri daripada sel manusia.

Jika Anda menghitung gen, ada lebih banyak bakteri daripada gen manusia. Pokoknya Anda mengukurnya, ada lebih banyak bakteri daripada manusia. Ilmu laboratorium telah berkembang hingga ke titik di mana kita dapat menghargai pengaruh ini.

Terdapat sekitar 2,3 sampai 4,5 kilogram bakteri hanya dalam usus kita. Pada waktu tertentu, bakteri ini dapat berada dalam keseimbangan yang sehat atau tidak sehat.

Beberapa bakteri yang masuk ke dalam kisaran tidak sehat adalah bakteri gram negatif. Ia menghasilkan suatu endotoksin yang disebut lipopolisakarida (LPS), yang cukup dikenal dapat memecahkan integritas penghalang usus. Sistem penghalang ini memisahkan lingkungan internal kita dari lingkungan eksternal.

Kita memerlukan suatu sistem penghalang agar dunia luar tidak bisa masuk ke dalam organ internal kita, dan yang paling penting, sirkulasi kita. Sistem penghalang ini membantu membedakan teman dan musuh.

Namun dalam beberapa kasus, LPS akan menguat dan memecahkan integritas penghalang usus. Ketika LPS masuk ke dalam sirkulasi tersebut, utamanya akan terjadi inflamasi dan aktivasi kekebalan. Ketika LPS tersebut masuk ke dalam sirkulasi, telah umum diketahui bahwa ia naik melalui penghalang darah-otak, memecahkan sistem penghalang, dan juga menginduksi peradangan dan aktivasi kekebalan di otak.

Ini merupakan salah satu hubungan antara semua gejala yang telah kita bicarakan dengan kelelahan kronis dan microbiome usus. Koneksi lain baru mulai muncul dalam penelitian yang menunjukkan beberapa komponen bakteri juga masuk ke otak melalui saraf vagus. Saraf vagus adalah salah satu dari 12 saraf kranial manusia. Ini adalah perpanjangan langsung dari otak untuk usus.(Epochtimes/Ajg/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular