Oleh Ma Li

Panglima tertinggi AS yang bertanggung jawab terhadap serangan terhadap organisasi ekstremis Islamic State/IS pada Rabu (10/8/2016) mengatakan bahwa semangat juang para militan IS sudah jauh menurun, barisan bagian depan mereka lebih memilih untuk mundur. Diperkirakan ada sejumlah 45.000 orang anggota mereka telah melarikan diri dari medan perang.

Anggota asing IS menyusut secara drastis

CBS News memberitakan, Letnan Jenderal Sean MacFarland mengabarkan bahwa militan IS mengalami pukulan sehingga terus mundur. Selain jumlah pertempuran menurun drastis bila dibandingkan dengan waktu lalu, jumlah personil mereka pun menyusut. Saat ini personil mereka diperkirakan tinggal antara 15.000 – 20.000 orang saja.

MacFarland mengatakan, pasukan Irak dan Suriah yang didukung AS akhir-akhir ini terus sukses menggempur musuh, sehingga memaksa mereka mundur dari semua lini pertempuran. Ia menganalisis bahwa salah satu alasan mengapa aksi IS menyusut drastis adalah karena personil asal warga asing yang masuk ke Irak dan  Suriah berkurang. Saat ini banyak personil IS yang dipaksa untuk ikut bertempur di medan perang meski belum berpengalaman dan tidak terlatih.

“Yang saya ketahui adalah, sekarang kita mau menyerang ke mana saja tempat musuh, itu sudah tidak sulit lagi. Jauh jika dibandingkan dengan setahun yang lalu. Dan pertahanan musuh sekarang juga sudah jauh melemah,” kata MacFarland dalam sebuah forum konferensi di Pentagon yang direkam video.

Kekuatan demokratis Suriah akan merebut kembali wilayah Manbij

Menurut MacFarland bahwa kekuatan demokratis Suriah dalam 1-2 pekan mendatang akan bisa sepenuhnya merebut kembali wilayah Manbij.

“Saya perkirakan pertempuran untuk merebut Manbij akan cepat berakhir, ini juga sekaligus menjadi pukulan yang menentukan bagi musuh,” katanya.

BBC pada 6 Agustus menyebutkan, pasukan bersenjata Kurdi dan Arab yang didukung AS hampir secara menyeluruh mengendalikan Manbij, wilayah dekat dengan perbatasan Turki yang selama 2 tahun terakhir diduduki militan IS.

Manbij terletak di dekat perbatasan dengan Turki dan merupakan satu-satunya jalur yang menghubungi beberapa daerah lain di propinsi Aleppo yang sudah diduduki militan IS. Jalur tersebut sangat penting artinya bagi IS dalam memobilisasi pasukan, mengangkut persenjataan dan mengirim persediaan pangan ke Suriah.

AS mendirikan pangkalan udara untuk membantu merebut kembali Mosul

Target militer AS di Irak selanjutnya adalah membantu aksi militer untuk merebut wilayah Mosul. Menurut MacFarland, jika IS sudah kehilangan Mosul maka organisasi IS akan terpecah belah, sehingga kekuatan mereka di Irak tinggal segelintir.

Saat ini AS sedang membantu pembangunan pangkalan udara di Qayyarah yang rencananya akan digunakan untuk keperluan perang merebut Mosul.

Menteri Pertahanan AS Ashton B. Carter pada Juli lalu mengumumkan bahwa Presiden Obama berencana untuk mengirim lebih dari 560 pasukan darat yang termasuk regu insinyur, logistik, keamanan dan komunikasi ke Irak untuk membantu pembangunan pangkalan udara Qayyarah. Kabarnya, sebagian dari mereka ini sudah berada di Irak.

Meskipun sudah menang perang, tetapi jangan sekali-kali menganggap enteng musuh

Mac Farland juga menggunakan kesempatan untuk mengingatkan bahwa meskipun perang melawan IS di Irak dan Suriah mencapai beberapa keberhasilan, tetapi IS masih merupakan ancaman bagi dunia.

“Kemenangan yang dicapai melalui aksi militer di Irak dan Suriah tidak mengartikan bahwa perang melawan IS sudah berakhir. Kami memperkirakan bahwa musuh akan mengubah strategi, mengubah bentuk menjadi kekuatan-kekuatan yang melakukan pemberontakan atau serangan teror. Melakukan serangan seperti yang terjadi di Baghdad pada 3 Juli lalu dan berbagai serangan teror yang dilancarkan di seluruh dunia,” katanya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular