Oleh: Zhou Xiaohui

Baru-baru ini Politbiro PKT meloloskan resolusi untuk memindahkan makam Mao dari lapangan Tiananmen, tidak diragukan lagi hal ini sedang menyampaikan kepada dunia luar pemikiran sebenarnya dari elit partai terhadap Revolusi Kebudayaan dan sinyal De-Maoisasi.

Wajah asli mantan gembong Partai Komunis Tiongkok/PKT Mao Zedong, seiring dengan semakin banyaknya data sejarah dan memoir yang tersingkap, juga seiring dengan pengungkapan besar-besaran oleh media asing, maka secara berangsur telah dipahami oleh masyarakat.

Mao Zedong tidak hanya melalui gerakan satu babak demi satu babak telah mencelakakan secara kejam puluhan juta orang di daratan Tiongkok, dan dampak pengrusakan amat parah terhadap budaya dan masyarakat tradisional Tiongkok, terutama adalah Revolusi Kebudayaan yang diprakarsai olehnya, benar-benar telah ‘merevolusi’ (dibaca: memotong) ’’nyawa’ kebudayaan Tiongkok.

Lebih fatal lagi adalah, masyarakat dipaksa mencampakkan keyakinan dan ketaatan mereka terhadap ajaran Konfusianisme, Buddha dan Tao, tiga aliran agama yang telah menimbulkan dampak besar bagi masyarakat Tiongkok. Hal ini langsung menyebabkan moralitas yang anjlok dari orang Tiongkok pasca Revolusi Kebudayaan hingga kini.

Selain daripada itu gembong PKT tersebut juga menjalani kehidupan yang mesum dan glamor, ratusan wanita telah dinodai, sedangkan Yang Kaihui istri pertama Mao yang dipublikasikan berlebihan oleh PKT, ternyata telah meninggalkan surat terakhir sebelum ajal menjemput (di-eksekusi oleh kaum Nasionalis), yang bertutur tentang duka lara akibat cintanya dikhianati oleh Mao. Lebih-lebih telah membuka wajah asli Mao dibalik topengnya yang berwajah intelek.

Namun, jenazah Mao yang sarat dengan kontroversi ini, setelah meninggal jenazahnya masih bisa dengan agung berbaring dan dipertontonkan khalayak di Mausoleum lapangan Tiananmen, Beijing. Bahkan pada 2012 ia masih termasuk prasasti (cagar budaya), ini benar-benar sebuah lelucon global, Lagi pula dipandang dari perspektif ilmu Feng Shui, mendirikan makam di garis tengah kota tua Beijing jelas bukan pertanda baik.

Hal yang patut menjadi atensi adalah bertahun-tahun telah berlalu, suara prasasti yang dilindungi jarang lagi terdengar, sebaliknya malah tersebar isu, makam Mao akan dipindahkan ke Shao Shan. Konon, menjelang Sidang Dua Sesi PKT tahun ini, pernah ada rancangan resolusi yang menuntut agar ‘Memorial Hall Mao’ dipindahkan dari lapangan Tiananmen. Dan menurut majalah “Zheng Ming” Hong Kong edisi Agustus 2016 mengungkapkan, pada akhir Juni 2016, Politbiro Pusat PKT menyetujui resolusi pemindahkan ‘Memorial Hall (Mausoleum) Mao’ ke Shao Shan provinsi Hunan, diantara 25 orang anggota politbiro, 23 suara setuju dan 2 suara abstain, tidak ada yang menentang.

Laporan juga menyinggung, setelah resolusi diloloskan, dalam pidato Xi Jinping yang diungkapkan ke publik bahwa masalah ‘Memorial Hall Mao’ cepat atau lambat harus diselesaikan, tidak bisa dengan alasan yang tidak wajar atau bahkan ilegal untuk terus dipertahankan. Ia selain itu juga mengutip kata-kata Deng Xiaoping yang pernah menyatakan bahwa membangun memorial hall adalah keputusan salah yang melanggar dengan serius resolusi terkait, “Tidak bisa menekankan iklim politik pada saat itu untuk menutupi kesalahan pengambilan keputusan terkait yang lantas menyebabkan penyakit di kemudian hari”.

Mengenai kapan dipindahkan, menurut versi Xi Jinping, jika sisa waktu periode ini tidak bisa diselesaikan dengan mulus, maka dalam masa periode berikutnya juga pasti harus diselesaikan.

Rapat Politbiro Pusat PKT yang menyetujui resolusi seperti ini, meskipun kelihatannya luar biasa, namun hal itu sesuai dengan sinyal ‘De-maoisasi’ yang dilepaskan oleh pemerintah pada waktu-waktu sebelumnya. Seperti pada akhir 2013 Xi Jinping membatalkan Malam Renungan Mao dan menurunkan standar peringatannya, pada 2015 ketika Xi Jinping berkunjung ke AS, memberikan kepada siswa SMA Amerika buku karangan Yuan Tengfei seorang guru sejarah Tiongkok yang mengkritik Mao, sebuah patung Mao berwarna keemasan setinggi 36 meter di Hebei yang ‘diratakan dengan tanah’ atas perintah level atas dan lain sebagainya.

Juga selain itu sejak Maret tahun ini, situs www.caixin.com di Tiongkok yang berlatar belakang kubu Xi Jinping menerbitkan serial artikel yang menganalogikan zaman dulu dengan menjelaskan kejadian sekarang, yang menyangkal “Mentari Mao (pengkultusan Mao)” dan menyangkal Revolusi Kebudayaan, serta mengusulkan “Komite Fakta”, “Keadilan yang Bertransformasi” dan lain-lain.

Pada ulang tahun ke 50 Revolusi Kebudayaan dicetuskan, ulang tahun ke 40 berakhirnya Revolusi Kebudayaan, ketika kubu Xi Jinping meminjam dalih anti-korupsi menangkapi dan memecat banyak pejabat tinggi faksi Jiang. Pada saat Xi Jinping menguasai dan mengontrol militer dan kekuasaan dari berbagai aspek serta terus menerus melepaskan sinyal menjelang situasi perubahan, serangkaian aksi ‘De-maoisasi’, terutama pihak eksekutif baru saja menyetujui resolusi pemindahan makam Mao dari lapangan Tiananmen, tidak diragukan lagi hal ini sedang menyampaikan kepada dunia luar pemikiran sebenarnya dari kalangan elit PKT terhadap Revolusi Kebudayaan dan terhadap Mao.

Sejarah sudah menunjukkan, pengembalian wajah asli sejarah, merenungkan kembali sejarah pasti akan menjadi bagian penting dalam menyambut perubahan besar Tiongkok di masa depan. Hanya dengan cara ini, baru bisa mendobrak banyak daerah larangan, Tiongkok baru bisa menyambut kedatangan esok hari yang sama sekali beda. (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular