Seberapa sulit sebenarnya menembus ruang dan waktu? Dalam artikel yang dipublikasikannya, fisikawan terkemuka Inggris, Stephen Hawking mengatakan, secara teori, perjalanan waktu bisa diwujudkan, manusia dapat membuka pintu untuk kembali ke masa lalu. Pintu dan jalan pintas yan dimaksud ini adalah lubang hitam atau lubang cacing. Skenario dan pola yang ditampilkan dalam film “Interstellar”apakah benar-benar dapat diwujudkan?

Dalam artikel yang dipublikasikan di “Daily Mail.co.uk, fisikawan terkemuka Inggris Stephen Hawking mengatakan, secara teori, perjalanan waktu dapat dilakukan, karena kita bisa membuka pintu untuk kembali ke masa lalu dan sebuah jalan pintas menuju masa depan.

Dalam artikelnya, Hawking mengemukakan tiga cara perjalanan waktu yang dapat diwujudkan secara teoritis. Grandfather paradox atau Paradoks Sang Kakek dalam teori perjalanan menembus waktu sering digunakan untuk menunjukkan bahwa perjalanan waktu itu tidak mungkin ada, tapi beberapa ilmuwan tidak berpikir begitu. Para ilmuwan di University of Queensland, Australia, untuk pertama kalinya menggunakan dua kuantum cahaya (foton) untuk mensimulasi partikel kuantum dalam perjalanan waktu sekaligus mempelajari gerak-geriknya. Hasilnya menunjukkan bahwa perjalanan waktu itu dapat diwujudkan, setidaknya pada skala kuantum.

Untuk mewujudkan perjalanan waktu ini, Hawking terlebih dahulu mengusulkan untuk menerima waktu itu sebagai konsep dimensi keempat. Sehubungan dengan ini, Hawking menarik satu contoh yang sangat sederhana.

“Ketika anda mengendarai mobil, mobil yang melaju ke depan dan mundur ke belakang itu merupakan dimensi pertama, sedangkan kalau berbelok ke kiri dan kanan itu adalah dimensi kedua, apabila menanjak dan menukik di jalan pegunungan itu adalah dimensi ketiga, jika demikian halnya, maka waktu adalah dimensi keempat.”

Bagi beberapa fisikawan, barangkali lorong waktu itu adalah lubang cacing. Menurut penuturan Hawking, lubang cacing ada di sekitar kita, hanya saja mereka terlalu kecil sehingga tidak bisa dilihat secara kasat mata. Segenap isi di alam semesta memiliki sejumlah lubang atau celah, dan dasar hukum ini juga berlaku pada waktu. Karena waktu juga memiliki sejumlah retakan dan celah yang halus, celah-celah yang jauh lebih kecil dari molekul, atom itu disebut buih atau gelembung kuantum, dan lubang cacing ini berada di antara gelembung-gelembung kuantum ini.

Di tengah-tengah perjalanan waktu itu, mungkin kita bisa mendapatkan wormhole/lubang cacing tertentu, kemudian diperbesar sampai sosok kita atau bahkan pesawat ruang angkasa bisa melewatinya, tetapi Hawking memperingatkan, jangan menggunakan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, karena hal ini akan mengakibatkan beberapa teori sebab-akibat dasar yang berlawanan.

Menurut Einstein, dunia ini seharusnya ada tempat yang membuat waktu melambat sekaligus tempat mempercepat waktu. Karena (Perjalanan) waktu di bumi itu jauh lebih lambat dari (perjalanan) waktu di ruang angkasa. Sehingga faktor utama atas pengaruh ini adalah massa Bumi. Karena Einstein mendapati bahwa suatu materi dapat memperlambat kecepatan perjalanan waktu, sama seperti hilir sungai. Semakin berat suatu objek, semakin besar pula hambatan waktunya. Fakta yang mencengangkan ini telah membuka sebuah pintu perjalanan waktu menuju ke masa depan.

Terdapat batas kecepatan tertentu di alam semesta yakni186,000 mil per detik (sekitar 300.000 Km/s) atau setara dengan kecepatan cahaya.

“Tidak ada objek apapun yang bisa melesat melampaui kecepatan itu. Itu adalah salah satu prinsip terbaik yang pernah diterbitkan dalam sain. Tetapi percaya atau tidak, perjalanan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya itu bisa mengantarmu ke dunia masa depan,” tulis Hawking.

Jika para ilmuwan dapat membuat pesawat antariksa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka pesawat ruang angkasa itu tidak boleh melanggar batas kecepatan maksimum dari hukum kecepatan cahaya, hal ini dapat menyebabkan waktu di dalam kabin menjad lambat, sehingga penerbangan selama satu pekan seperti ini sama saja dengan beberapa tahun di bumi, dan ini setara dengan menuju ke masa depan.

Jadi, dalam sejarah umat manusia, pesawat antariksa berawak berkecepatan maksimum seperti Apollo 10, kecepatannya adalah 25.000 mil/jam (sekitar 40.000 km / jam), namun, jika ingin mewujudkannya dalam perjalanan waktu, maka kecepatannya adalah sekitar 27.000 kali dari kecepatan Apollo-10. (Secretchina/joni/rmat)

Share

Video Popular