Oleh: Wen Xu

Sabtu (23/72016) lalu, hari kedua setelah kasus penembakan di München (Munich), Jerman, kota Frankfurt yang terletak hanya 4 jam perjalanan darat dengan mobil tetap meriah. Jalan Zeil di pusat kota sama seperti biasanya tetap ramai dengan pejalan kaki. Seorang warga muslim Jerman berdarah Suriah berusia 31 tahun bersama sang istri sedang menjual hotdog di jalan itu. Selain menceritakan cita-cita mengembangkan usaha kepada reporter, ia juga berbagi perasaannya sebagai warga Jerman berdarah Timur Tengah, juga pemahamannya terhadap martabat kemanusiaan.

Pemuda Muslim: Bisnis Nomor Satu

Pada saat hampir separoh dunia sedang menerka apakah modus kejahatan pelaku penembakan München ada kaitannya dengan status pelaku yang merupakan seorang muslim, yang paling dikhawatirkan oleh Adam adalah usahanya yang baru didirikannya. Saat tahu dirinya sedang berhadapan dengan seorang reporter, matanya langsung cerah, topik tentang penembakan München pun segera dikesampingkan, kata-katanya meluncur ke arah “Impian” untuk mengembangkan usahanya, “Yang saya jual bukan hotdog, melainkan konsep berbisnis. Saya menggunakan GPS, pelanggan bisa menggunakan suatu aplikasi untuk memesan hotdog dari rumah atau dari kantornya, kami memiliki 6 unit kereta penjual hotdog yang bisa bergerak, dalam tempo 10 menit hotdog telah diantar ke depan pintu Anda.”

Lalu ia menyerahkan selembar brosur, sambil menunjuk pada tiga jenis menu hotdog ia berkata, “Ketiga jenis hotdog ini sudah saya patenkan, hanya saya yang menjualnya.”

Memang seorang lulusan Fakultas Manajemen dari perguruan tinggi Jerman, walau hanya menjual hotdog, ia tetap berusaha menbedakan produknya.

Muslim Jerman: Kehidupan Yang Terhimpit

Di Jerman terdapat sekitar 5 juta jiwa warga Muslim, atau sekitar 6% dari populasi Jerman. Berbagai profesi mulai dari pengacara, dokter, sampai penjual buah, mulai dari politikus sampai pekerja perakitan, dimana-mana dapat dijumpai sosok tubuh mereka. Sesosok paras Timur Tengah, seorang muslim yang lahir dan besar di Jerman, riwayat hidup yang tidak biasa, membuat Adam mengalami kehidupan yang terhimpit. Adam yang berbahasa Jerman dengan fasih mengenyam pendidikan sekolah dasar dan menengahnya di Jerman, tak heran jika ia berkata, “Saya merasa saya adalah milik Jerman, dan Jerman adalah kampung halaman saya.”

Sambil tertawa ia menambahkan, “Saat saya berlibur ke Suriah, orang-orang di Suriah menyebut saya, anak berambut pirang dari Jerman.”

Mungkin karena di Suriah mayoritas berambut hitam sehingga rambut coklat muda Adam dianggap sebagai pirang di Suriah.

Lalu bagaimana orang Jerman memperlakukannya?

“Mayoritas orang Jerman sangat bersahabat, hanya ada sebagian kecil yang bersikap memusuhi saya, mereka bahkan tidak menanyakan nama saya, juga tidak bertanya akan pemikiran saya, hanya karena saya muslim, lantas saya dilecehkan. Istri saya memakai jilbab, mereka berteriak padanya, muslim enyah dari sini,” katanya.

Menurut Adam di dalam satuan pemadam kebakaran ada muslim, setiap hari mereka membantu orang lain, di rumah sakit, di kepolisian, bahkan di tim sepakbola nasional juga ada muslim. Ada orang yang hanya melihat kejadian ini dari media massa, lalu berprasangka buruk terhadap semua muslim.

Jiwa Manusia Seharusnya Dihormati

Selama kurang dari 10 hari sebelumnya, telah terjadi tiga kali kasus pembunuhan kejam di tempat umum di negara Eropa Barat. Dua kasus pertama masing-masing dilakukan oleh seorang pria berdarah Tunisia berusia 31 tahun di Nice, Prancis, yang mengemudikan truk menabrak kerumunan orang, lalu ada seorang pengungsi Afganistan berusia 17 tahun membacok turis Hongkong dengan kapak di dalam sebuah gerbong kereta api di Jerman. Kasus penembakan di pusat perbelanjaan di München adalah kasus ketiga, pelakunya adalah seorang berdarah Iran, menurut berita di media massa, sama halnya dengan dua orang pelaku yang terdahulu, juga seorang muslim. Pelaku itu menderita gangguan jiwa, saat ini modus kejahatannya belum bisa dipastikan.

“Peristiwa yang disayangkan seperti ini telah terjadi (penembakan di München). Saya juga seorang muslim, pada tahap tertentu, saya juga mewakili agama saya. Menurut saya, di dunia ini agama apapun itu, inti ajarannya adalah jiwa manusia. Jiwa seorang manusia seharusnya dihormati dan dilindungi,” kata Adam.

Setiap hari bekerja seharian di tempat yang begitu ramai seperti ini, apakah tidak takut?

Sambil menatap orang-orang yang lalu lalang di depannya, Adam berkata, “Tentu ada kemungkinan terjadi peristiwa serupa (penembakan München) di Jalan Zeil di kota Frankfurt ini, tapi saya merasa tidak ada yang perlu ditakuti, kematian akan datang cepat atau lambat. Saya percaya hidup manusia sudah ditakdirkan, kapan mati, mati dimana, bagaimana mati, semua itu sudah ditakdirkan. Jika hari ini adalah hari kematian saya, maka biarlah Tuhan membawa pergi jiwa saya.”

Adam tertawa setelah mengatakan itu, lalu wajahnya berubah serius, “Tapi demi anak cucu kita nanti, kita harus memikirkan, mengapa hal seperti ini bisa terjadi.”

Menurutnya, kebijakan politik adalah masalah yang sangat fundamental, “Warga perlu lebih banyak ikut ambil bagian.”

Tetapi bagaimana memperbaikinya, ia juga tidak mempunyai cara yang tepat. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular