Baru-baru ini sebuah media AS menyebutkan bahwa dengan pertambahan kekuatan militer Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan, maka benturan-benturan yang tak disengaja bisa saja terjadi dan karena itu akan memicu konflik senjata dan perang Tiongkok – AS.

Kolumnis Wall Street Journal Andrew Browne dalam artikelnya yang dimuat WSJ pada 16 Agustus mengatakan, kedua negara tersebut pernah berperang di Semenanjung Korea dengan posisi tidak ada yang menang dan kalah. Konflik senjata antar mereka hampir saja terjadi lagi dalam penyelesaian masalah Taiwan.

Sampai sekarang banyak pihak yang beranggapan bahwa Tiongkok – AS mungkin tidak akan saling berperang. Alasannya adalah mereka yang merupakan kekuatan ekonomi satu dan dua dunia ini memiliki hubungan erat di bidang perdagangan. Namun dengan bertambahnya kekuatan militer Tiongkok di  Laut Tiongkok Selatan dan Timur maka kemungkinan terjadinya benturan antar kedua kekuatan baik di udara maupun di laut kawasan itu menjadi semakin tinggi.

Artikel mengacu pada hasil penelitian lembaga think tank AS ‘Rand Corporation’ mengatakan bahwa krisis yang mengarah pada kemungkinan perang Tiongkok – AS jangan dianggap mustahil dan diremehkan.

Menurut artikel tersebut bahwa setelah Mahkamah Arbitrase Internasional mengeluarkan putusan pada Juli lalu, pihak Tiongkok selain tidak mau berkompromi, bahkan menunjukkan sikap yang lebih keras. Pesawat bomber Tiongkok terbang patroli di atas udara Pulau Huangyan, kemudian ada pengumuman yang menyebut bahwa akan dilakukan latihan militer antara Tiongkok dengan Rusia, tak lama kemudian Tiongkok mengirim pesawat militernya untuk melintasi udara perairan yang masih disengketakan Tiongkok – Jepang.

Dari foto satelit yang yang ditunjukkan oleh think tank dari Washington ‘Center for Strategic and International Studies’ dapat terlihat, Tiongkok sudah menyelesaikan pembangunan hanggar pesawat di atas pulau bekas terumbu Laut Selatan yang cukup tahan terhadap serangan udara. Untuk saat ini, Tiongkok belum secara permanen menempatkan pesawat-pesawat tempurnya di pulau pulau itu.

Seorang ahli Barat berpendapat bahwa Tiongkok tidak mengambil tindakan apapun saat ini, semata karena tidak ingin meninggalkan kesan buruk yang dapat mempengaruhi KTT G-20 yang akan digelar di Hangzhou pada bulan September mendatang. Setelah KTT G-20 selesai hingga November sebelum penyelenggaraan pemilu presiden AS, di saat itu Tiongkok mungkin bisa mengambil tindakan yang lebih drastis.

Mantan profesor kehormatan dari Universitas Toledo, Ohio jurusan ilmu politik yang sudah pensiun, Ran Bogong percaya, Tiongkok pada saat ini akan menghindari untuk mengambil tindakan yang drastis dalam menyelesaikan masalah-masalah di Laut Tiongkok Selatan.

“Presiden Filipina berulang kali menegaskan keingiinan untuk menolak peperangan dan memilih berdialog dengan pihak Tiongkok. Saya pikir, Tiongkok sendiri pun berkeinginan untuk berdialog langsung dengan Filipina. Dalam situasi deperti ini, Tiongkok tidak akan mengambil tindakan drastis,” kata Ran.

Komentator militer asal Hongkong Ma Dingsheng juga mengungkapkan pandangan serupa. Dalam sebuah wawancara dengann Radio Free Asia ia menjelaskan, perang Tiongkok – AS karena isu Laut Tiongkok Selatan dalam waktu dekat ini tidak akan meletus. Keduanya juga ingin menghindari pertempuran yang dinilai terlampau mahal dengan hasil yang hampir nihil, bukan? (sinatra/rmat)

Share

Video Popular