“Beberapa bulan terakhir ini, kami telah menutup 235.000 akun yang mempromosikan terorisme, untuk mencegah para pemilik akun yang ditutup itu kembali menggunakan jaringan media sosial tersebut dengan menggunakan akun yang berbeda untuk mempromosikan ekstremisme. Sebelumnya kami telah menutup 125.000 akun “teroris” awal tahun ini, demikian pernyataan situs jejaring sosial Twitter, Kamis (18/8/2016)

“Dunia telah menyaksikan serangkaian serangan teroris terkutuk yang mematikan dalam lingkup global,” kata Twitter dalam sebuah pernyataannya, “Kami sangat mengutuk tindakan ini dan tetap berkomitmen untuk menghilangkan promosi kekerasan atau terorisme pada platform kami.”

Jumlah akun yang ditutup Twitter secara keseluruhan menjadi 360.000 akun yang mempromosikan terorisme dan ekstremisme sejak pertengahan tahun 2015. Meskipun selama ini Twitter memprakarsai kebebasan berbicara di internet, dan mengatakan bahwa ini adalah “alun-alun kota global,” namun, Twitter telah dikritik karena platform mereka digunakan oleh pelaku kejahatan, jaringan ekstremisme dan rasisme untuk menyebarkan pesan mereka (teroris).

Twitter juga mengatakan bahwa mereka telah memperluas tim mereka untuk memeriksa pelanggaran yang dilaporkan, dan sekarang, telah membuat kemajuan dengan mencegah para pemilik akun yang ditutup untuk kembali menggunakan jaringan media sosial tersebut dengan menggunakan akun yang berbeda.

“Jumlahnya termasuk sejumlah pengguna yang cukup besar yang berulang kali ditutup akunnya setelah membuka akun baru, jadi jumlah akun yang ditutup tidak sama dengan jumlah pengguna,” kata J.M. Berger, peneliti di program ekstremisme George Washington University.

Berger adalah penulis utama studi tahun 2015 berjudul “Sensus ISIS di Twitter,” yang menemukan bahwa para pendukung Negara Islam (ISIS) menggunakan sedikitnya 46.000 akun Twitter antara September dan Desember 2014, masing-masing memiliki rata-rata 1.000 pengikut.

Menanggapi pemangkasan oleh Twitter dan jaringan-jaringan media sosial lainnya, para pengikut ISIS telah pindah ke aplikasi pesan yang terenskripsi, seperti Telegram dan WhatsApp, untuk berkomunikasi dengan para pengikut secara terbatas.  “Telegram memungkinkan para pengikut yang ada saling berkomunikasi, namun Twitter dan Facebook adalah tempat utama untuk menemukan pendukung baru di dunia maya,” ujar Berger.

“Kami akan terus berinvestasi dalam hal teknologi dan sumber daya lainnya di masa depan, dan Anda bisa menyaksikan kemajuan kami yang diperbarui secara berkala,” kata Twitter. (Jhon/asr)

Share

Video Popular