Oleh: Lin Xingjian

Sehari setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam akan keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementerian Luar Negeri dan Istana Malacanang langsung mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa Filipina tidak berniat untuk menarik diri dari organisasi dunia yang bergensi tersebut.

Sekretaris kabinet Duterte urusan luar negeri Perfecto Yasay di depan wartawan mengatakan, “Kami tidak akan menarik diri dari PBB”.

Ia melukiskan bahwa PBB itu merupakan organisasi dunia yang bergengsi. Di sisi lain, jurubicara istana Malacanang Ernesto Abella juga melalui siaran radio menyampaikan bahwa Presiden hanya menegaskan kembali isu kedaulatan yang menolak ikut campur tangannya kekuatan luar dalam urusan internal Filipina.

“Kami tidak bermaksud untuk meleppaskan diri, dan masalah ini tidak bisa dianggap enteng,” bunyi siaran itu.

Pejabat pelapor khusus kantor PBB urusan narkotika, eksekusi di luar hukum, bahkan Sekjen PBB Ban Ki-moon akhir-akhir ini sering mengkritik isu soal eksekusi di luar hukum, namun Duterte pada 21 Agustus lalu justru menanggapinya dengan nada yang menegur PBB telah melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri Filipina. Kemudian mengancam akan meninggalkan PBB yang tidak berguna.

Perfecto Yasay mengatakan, Duterte merasa sangat kecewa dengan ucapan PBB, tetapi “Dia masih tetap bertahan pada komitmennya yaitu mendukung pencapaian tujuan dan sasaran PBB”.

Ia juga menghimbau masyarakat internasional untuk mendukung pemerintah Filipina dalam tugasnya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat, memastikan masa depan yang cerah bagi generasi berikutnya, tetapi tidak sekedar ucapan yang manis di bibir.

Filipina resmi menjadi anggota PBB pada 24 Oktober 1945. Selama bertahun-tahun ikut mendukung operasi penjaga perdamaian yang dicanangkan PBB, ikut mengirim pasukan ke daerah yang dilanda peperangan untuk menjaga ketertiban,

Mantan Dubes Filipina untuk PBB, Lauro Baja Jr. memberikan komentarnya bahwa menarik dari dari PBB akan membawa resiko serius yang sulit dibayangkan. Selain menghadapi isolasi internasional, Filipina juga akan kehilangan banyak keuntungan yang bisa diraih.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular